Rabu, 21 April 2021

Ora, Ora Nek Mati (Enggak, Enggak lah Kalo Mati)

Duluu jaman masih ngantor di Simprug, sekitar tahun 2008 kebawah, sering ada tukang gorengan lewat jika sore hari. Meski ruangan kita (ruang akuntansi & keuangan) diatas, Pak tukang gorengan sungguh aktif, beliau naik sampai atas, masuk ke ruangan kita dan nawarin, "1 atau 2?". Biasanya yang jawab Kasir kita, sesuai jumlah orang yang ada. 1 itu artinya 1 porsi, harga 5 ribu. Kalo 2 ya 2 porsi, harga 10 ribu. Alhasil, hampir tiap hari, tiap sore, kita makan gorengan. Hanya libur saat Kasir kita sedang batuk saja, hehe..


Nah, ada salah satu anak buahku yang sangat memperhatikan kesehatan. Kalo masing-masing kita enak aja main comot itu gorengan dan langsung leph, dia ambil 1, trus diperes-peres pakai tissue minyaknya. Ah lebay, dalam hatiku. Dia berkata, "Minyaknya banyak banget loh Bundaa..". Dengan santai ya kujawab, "Halaahhh, ora marakke mati wee (halaahhh, gak bikin mati aja)..". Sambil tetep dengan santainya makan langsung gorengan, dan disambut tawa anak buahku yang lain yang masing-masing juga sedang langsung makan gorengan.


Sebenernya kata-kata itu kujiplak dari temen kakakku, yang saat aku masih kecil, saat aku ikut kegiatan Mapala kampus kakakku, sepedaan sampai Goa Selarong, Mas temen ini makan tapi belum cuci tangan habis sepedaan. Ketika dibilang suruh cuci tangan, dia tetep aja makan, sambil bilang itu tadi, enggaklah kalo mati. Rupanya itu mungkin membekas di ingatan, karna memang sampai sekarang Si mas ini segar bugar. Tapi gak tau ya, kalo pulang sepedaan sakit perut, haha..


Waktu berlalu. Si anak buahku yang sangat memperhatikan kesehatan ini resign, pulang kampung untuk fokus ngurusin tanaman yang saat itu sedang booming, gelombang cinta, dkk. Katanya ngurusin tanaman seminggu menghasilkan sama dengan gajinya 1 bulan. Yasudah, tidak apa-apa. Bersamaan dengan itu, saatnya kami melakukan MCU, jadwal oleh kantor. Daann, hasilnya, sungguh mengejutkan. Hasil lab darah saya bagus, tapi hasil USG menunjukkan saya menderita Fatty Liver. Hatiku kemasukan minyak! Ato bahasa medisnya perlemakan hati!


Lha kok iso? Padahal tubuhku juga ideal, tidak obesitas. Pikir punya pikir, sambil bercanda, aku bilang ke Kasieku, "Ker, jangan-jangan aku kualat yo ama Vadjar (anak buahku yang resign itu)? Dulu sering ngeledek dia yang makan gorengan diperes-peres minyaknya. Ini sih bener, mati kagak, sakit iya, haha..". Dan Kasieku ini malah ikutan tertawa terbahak-bahak. Anehnya lagi, dari seruangan ini yang kena Fatty Liver hanya aku, hihi..


Akhirnya aku diet gorengan. 3 bulan penuh tidak berani makan gorengan. Untuk cemilan, bawa dari rumah, ya kentang, singkong, pisang, ubi, kacang, jagung, rebusss, haha.. Bahkan untuk makan siang aku juga pilih-pilih menu yang tidak digoreng. Setelah 3 bulan, cemilan masih rebus terus, tapi untuk lauk sudah berani kadang-kadang gorengan. Akhirnya, setahun kemudian setelah MCU lagi, hasilku sudah normal, alhamdulillah..


Sebenernya bukan hanya karna kualat juga sih, tapi mungkin memang secara genetik aku tidak bisa memakan gorengan berlebih. Jadi kalau orang lain makan 2 buah gorengan gak papa, di aku sudah ngaruh, 1 aja cukup. Ato kalo orang lain makan gorengan tiap hari gpp, di aku ya boleh sih, 1 aja, tapi gak tiap hari juga keles, hehe..


Yang jelas, sejak saat itu, aku gak pernah lagi ngeledek ato membatin orang yang sangat care terhadap kesehatan. Apalagi sampai berkata, "Ora, ora nek mati". Ya memang enggak mati sih, tapi sakit iya. Ya mending sehat lah daripada sakit, hihi..


Gorengan yang sekarang kuperes-peres minyaknya, dan cuman berani 1, dan buat lauk, dan gak tiap hari, hehe..


Senin, 19 April 2021

Ilmune Ra Kanggo (Ilmunya Tidak Terpakai)

Tulisan ini terinsiprasi oleh status temennya temen yang dokter, sudah ngecipris ternyata ilmune ra kanggo untuk mamanya. Dan ternyata terbukti baik-baik saja, wkwk..


Alkisah, suatu hari di tahun 1996 saat aku melahirkan anak pertama, di Jogja. Dengan sangu ala kadarnya dari Boss, ternyata uang Jakarta bisa untuk mondok di RS Swasta di Jogja kelas 1 Utama, tapi sekamar sendiri. Mayan, hehe..


Yang pertama, waktu itu baru awal-awal usum rawat gabung, jadi anak baru lahir, dijadikan 1 di kamar ibunya, dengan harapan agar bound lebih kuat. Kalo jaman dulu, sebelum saya persis, ada ruang bayi tersendiri, dan bayi dibawa ke kamar ibunya hanya saat menyusui. Saat itu pagi setelah melahirkan, bayiku (mastio) dibawa ke kamar, untuk disusuin. Setelah selesai, saya taruh di box bayi dorong yang sudah dibawa ke kamar. Saat itulah ibuku datang, dan bertanya, "Lho, bayine kok rung digowo meneh? Suwi men?" (Lho, bayinya kok belum dibawa lagi? Lama amat). Dan saat itulah aku menerangkan tentang konsep rawat gabung. Dan ibuku langsung menyergah, "Wah, ra bener ki, kowe kan ora iso istirahat mengko" (Wah, gak bener nih, kamu kan gak bisa istirahat nanti). Langsung deh Beliau telpon perawat dan minta bayi diambil kembali dengan sedikit pesan, "Pokoknya kesini hanya untuk menyusu ya mbak, habis itu diambil lagi, jangan lama-lama". "Iya bu", jawab perawatnya nurut ke ibuku yang terlihat sangat berwibawa, hehe..


Yang kedua, saat tiba waktunya pulang ke rumah setelah 3 hari di RS. Ibuku berkata, "He, sesuk wis muleh? Kok cepet men mung 3 dino, kamar bayi di rumah belum siap, extend aja jadi 5 hari" (He, besok sudah pulang? Kok cepat sekali cuma 3 hari). Dan mbak perawatnya lagi-lagi hanya mengaminkan perkataan ibuku. Yang di kemudian hari baru aku tau, ternyata bukan karena kamar bayinya belum jadi di rumah Ibuku di veteran, tapi Ibu menghendaki aku sudah benar-benar fit nanti di rumah pas giliran sendiri merawat anak, tanpa bantuan perawat, wkwk..


Yang ketiga, saat sudah pulang ke rumah. Karena anakku laki-laki, nyusunya sangat kuat. Sedangkan asiku belum banyak, serta aku tidak kuat makan banyak untuk mengimbanginya. Meski Ibuku selalu menyediakan makan malam kedua di kamar, sampai pagi tidak kusentuh. Akhirnya di pagi hari asiku habis. Anakku menangis. Kata ibuku, "Disambung aja pake susu formula, mesakke (kasihan) anakmu". Aku pun menurut. "Disendokin mah?", tanyaku. "Lha ngopo ndadak disendoki? (Lha kenapa harus pakai sendok?)", Ibuku malah ganti bertanya. "Kata dokter, nanti kalo pake botol, anaknya bisa bingung puting", jawabku. "Halahhh, ora, oraa, percoyo mamah wis (halahh, enggak, enggak, percaya mamah deh)", kata Ibuku pasti. Oke deh, nurut saja. Dan bener tuh, sampai saatnya disapih, gak ada tuh anakku namanya bingung puting, hehe..


Pokoknya, dokter, perawat, kalo sama Ibuku kalah semua. Ilmune ra kanggo, haha..


Aku saat bayi dalam buaian ibuku dan kedua anakku dalam buaianku.. 💕


Kamis, 01 April 2021

RINDU IBU

Ibuku tersayang meninggal tahun 2010. September 2010, di usia 73 tahun. Menyusul Ayah, yang sudah mendahului 2 tahun sebelumnya. Saat Ibu berpulang, aku, anak bungsu, usiaku masih 39 tahun waktu itu. Dengan kesibukan kantor yang masih banyak, urusan anak-anak yang masih kecil, urusan kuliah lagi, perlahan-lahan rasa dukaku berhasil sedikit demi sedikit menghilang. Rasa kehilangan, rasa menjadi yatim piatu, masih tergantikan dengan hadirnya suami, anak-anak, dan teman-teman kantor maupun teman-teman kuliah yang bertemu hampir setiap hari.

Tahun 2011 ketika aku pergi Haji, rindu itu masih belum pergi. Aku bisa mengumrohkan Ayahku, karena beliau Muslim. Tapi Ibuku seorang Katholik. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu di depan Ka'bah, setelah selesai sholat Duha. Dan biasanya suamiku akan dengan sabar menungguku berlama-lama di depan Ka'bah. Merindukan Ayah Ibuku. Mendoakan mereka. Tak disangka terkadang dalam setiap hening selesai isak tangisku, aku merasakan kehadiran Ayah Ibuku. Disana, di Masjidil Haram. Ayah dan Ibu, tidak hanya Ayah. Tak peduli apa kata orang, aku merasakan mereka disana. Aku sudah cukup bahagia. Ketika pulang ke Indonesia, kuceritakan dengan bahagia pada kakakku, bahwa Ayah dan Ibu ada disana, dan mereka bahagia.

Sekarang, terkadang aku iri dengan beberapa teman yang masih bisa menunggui ayah dan ibunya. Sekarang, rata-rata kami berusia 50th nan. Alangkah beruntungnya. Akan lebih banyak lagi nasehat, pelajaran hidup, yang bisa dicontoh dari mereka. Sekarang, baru aku merasa dulu masih terlalu muda ketika ditinggalkan orang tua. Masih banyak ilmu yang seharusnya bisa kupelajari jika saja. Hanya jika saja.

Aku rindu Ibuku. Ketika hati ini lelah, aku rindu Ibu. Karena keadaan, suami dan aku harus tinggal berjauhan sudah 5 tahun ini. Anak yang paling besar sudah bekerja di kota lain juga. Anakku yang kecil sudah sibuk dengan dunianya sendiri, kuliah dan teman-temannya. Ketika masalah mendera, aku rindu Ibu. Dan berfikir, jika Beliau masih ada, pasti dengan senang hati akan membantu dan biasanya Ibuku akan tau solusi dari semua masalah, ajaib dan hebatnya Ibuku. Meski aku anak paling kecil, aku tak tega untuk bercerita dengan kakak-kakakku, maupun berkeluh kesah, karena setiap keluarga juga punya masalah masing-masing. Hanya Ibu yang selalu mendengarkan. Bahkan terkadang tau bahwa kita punya masalah meskipun kita pendam.

Aku rindu Ibu. Ibuku yang kusayangi..



Senin, 22 Maret 2021

MIMPI MATI

Mimpi mati. Menakutkan gak? Agak, hehe.. Seminggu ini aku mimpi mati 2x. Yang pertama ada almh mamahku dan almh eyangku. Aku mau mati, tapi dilarang mamahku. Lha kok eyangku malah ngendiko (bilang), "Wis ben wae nduk nek memang arep mati jarno, ojo digondeli (Biar aja nak, kalo mau mati biarin, jangan dihalangi)". Trus bangun, tertegun, wehlah, kok dibiarkan? Kalo mati betulan gimana, masih merasa bekal belum cukup. Trus sudah lupa. Eh, lha kok 2 hari kemudian mimpi mati lagi, tapi lupa rincinya gimana. Bangun, aku tertegun, apa artinya ini? Namanya anak milenial, ya cari di internet lah arti mimpi ini. Salah satunya adalah akan memulai lembaran baru, atau apapun, sesuatu yang baik yang baru. Hmm, apa ya? Aku coba runut-runut kejadian sebelum mimpi itu.

Seminggu sblm mimpi itu memang LPR ku lagi kambuh. Laryngopharyngeal reflux (LPR) adalah kondisi medis dimana kandungan lambung, termasuk asam yang diproduksi di perut, naik kembali melalui kerongkongan ke arah laring dan faring (tenggorokan). Kondisi ini biasanya menyerang pasien yang didiagnosis dengan gastroesophagealreflux disease (GERD), (docdoc.com). Penjelasan singkatnya begitu yaa, kalau mau lebih jelas monggo googling aja, hehe..

Yang jelas saat itu karena lendir yg berlebih dan pekat, tidak bisa dikeluarkan, tidak bisa ditelan, di belakang hidung, aku jadi susah bernafas. Dan biasanya kejadiannya malam hari. Jadi semalaman aku bolak-balik minum, banyakin minum biar bisa tertelan lendirnya dan bisa nafas, jadinya yaa bolak-balik pipis juga. Otomatis jadi gak bisa tidur. Akhirnya keluar kamar minum air putih hangat banyak-banyak, lumayan, bisa tertelan. Terakhir setelah agak bersih lendir, eh sekarang gantian tenggorokan perih. Pikir punya pikir, biasanya kalo radang aku menghisap sp-troche, dan benar redaan perihnya. Akhirnya jam 3 pagi baru aku bisa tidur. Ini yang ke-3 kali kambuh LPR ku. Yang pertama th 2016, kemudian 2019, kemudian tahun ini 2021. Kalau yang pertama memang karena meski punya penyakit maag sebelumnya tapi aku sepelekan, masih makan segala macam, serta kecapekan. Waktu itu aku masih harus bolak-balik jakarta-jogja selama 6 bulan, dan sedang flu berat.

Kumat yang ke-2, karena merasa sudah sembuh, maka aku makan segala macam lagi. Setengah bulan sebelum kumat, tengah malam saat pergantian tahun, aku dan keluarga besar makan pempek dengan cuko, makan nasgor, bakmie, dan minum soft-drink. Sore sebelum kumat, kongkow2 dengan teman, ngupi2 cantik, coffee latte. Kukira udah gak papa, soalnya udah ngemil singkong goreng keju. Ternyata malamnya sulit bernafas sampai subuh.

Oke, belajar dari pengalaman, setelah sembuh, aku sama sekali gak mau lagi minum soda ataupun kopi. Blas. Samasekali tidak. Tapi pantangan Gerd/LPR yang lain kumakan semua. Ya susu, keju, gorengan, roti, mie kuning, coklat. Sikat bleh. Setahun, aman. Tahun ini menginjak tahun kedua, aman. Eh, bulan lalu, Februari, aku makan coklat banyak, karena anakku dapat coklat valentine banyak banget dari pacarnya. Mamanya yang habiskan, hehe.. Kemudian awal maret, teh nasgitel, mie instant gelas waktu pergi ke pantai, sungguh nikmat. Nah pulangnya dari pantai tuh, mulai terasa mual. Aduh, kenapa lagi ini. Lalu kumatlah seperti yang kuceritakan diatas. Memang sepertinya dari sebulan sebelumnya sudah bersendawa pahit (tanda asam lambung naik ke tenggorokan), tapi tak kuperhatikan, kusepelekan.

Kini LPR ku sudah membaik. Aku diet makanan minuman kembali. Masih dalam perawatan dokter sih, dan besok masih kontrol. Lendir berlebih sudah hilang, aku tidak konsumsi obat pengencer dahak lagi. Sejak kemarin waktu antar anak ke toko buku, aku tersadar ketika baca buku dengan judul di picture di bawah. Diet sehat dengan gembira kenapa tidak? Rasah nggresulo (tidak perlu mengeluh), wong makan sehat yang enak juga banyak. Biasa aja. Makan enak yang tidak sehat kan dulu sudah pernah? Tidak perlu kepengin lagi.

Sejak usiaku 50th, Januari kemarin, aku berpikir untuk rajin setiap hari memakai pelembab muka, bibir, dan handbody, meski tidak akan pergi kemana2. Biasanya sih males-malesan. Sekarang kupaksakan, gak boleh lupa, setiap hari, rutin. Untuk menjaga kesehatan kulit. Sudah mulai umur gold yaa, hehe.. Aku berpikir, aneh. Kulit, yang hanya terlihat diluar saja aku jaga sedemikian rupa, masak organ dalam malah kusepelekan. Ini kesadaran pertama.

Kesadaran kedua, tentang makanan sehat. Sophia Latjuba dan banyak artis-artis langsing yang lain mati2an diet dengan memakan hanya makanan sehat, untuk menjaga penampilan. Padahal mereka sehat, tidak punya LPR. Masak aku yang sakit justru masih pengen makan segala macam termasuk yang tidak sehat. Janganlah menjadikan itu siksaan, tapi kebanggaan. Paling enggak, samalah makanan sehatnya ama Sophia Latjuba, haha..

So, supaya gak takut dengan mimpi matiku, aku mengaitkannya dengan lembaran baruku. Lembaran yang baik. Aku ingin mulai makan dan minum yang sehat mulai sekarang, dengan gembira tentu saja, hehe..

Salam sehat..

Ref:
https://www.docdoc.com/medical-information/conditions/laryngopharyngeal-reflux?lang=id
https://www.google.com/amp/s/www.sehatq.com/artikel/fungsi-tenggorokan-ternyata-penting-dalam-sederetan-sistem-tubuh-ini/amp 








Minggu, 07 Februari 2021

Surat Buat Anakku Lanang - 2

Hati Mama membuncah kembali ketika kamu menyampaikan berita, "Mah, minggu depan aku sudah harus balik Bandung, karena tanggal 10 udah diminta masuk kerja". Alhamdulillah lee, disaat pandemi begini, kamu bisa cepat dapat kerja.

Mama teringat perjuangan kita bersama kemarin untuk menyelesaikan studimu. Juni 2020, setelah libur panjang semesteran kamu balik Bandung. "Selesaikan Tugas Akhir (TA)mu le, karena ini semester akhir lo", kataku. "Ya Mah", jawabmu singkat tapi mantap.

Tapi ketika dia udah di Bandung kok hati Mama was-was, telpon Papamu, "Pah, coba telpon kampus ITB, cari tahu tentang Tio, sampai mana TA nya, apa bisa selesai benar semester ini, karena ini semester akhir lo, bisa kena DO nanti". Dan Papamu berhenti mencari info hanya sampai dapat nomor hp bagian TU aja. "Mama yang hubungi ya", katanya. Oke lah, sapa takut? Saat kritis begini sepertinya Mama harus turun tangan, mempercayai naluri ibu.

Dan benar, ternyata kata bagian TU, kamu sudah 1 tahun ngilang melulu dan dihubungi susah. Langsung Mama minta nomor hp dosen pembimbing akademik dan dosen pembimbing TA nya. Lemas rasanya mendengar hal yang sama dari kedua dosenmu itu. Entah apa yang terjadi, karena kamu selalu terlihat ceria dan baik-baik saja. Bahkan setiap ditanya TA, selalu dijawab masih dikerjakan, selalu bimbingan. Dan Mama tak pernah bertanya lebih lanjut, karena menurut Mama kamu sudah besar, adalah tanggungjawabmu sendiri. Tapi tidak kali ini.

Tanpa berpikir 2x lagi, Mama putuskan untuk melakukan waskat, cek & ricek kali ini. Segera kutelpon kamu, dengan nada datar tanpa memarahi, karena aku tahu mungkin ini sudah cukup berat bagimu, "Mama sudah telpon bu D dan pak A, pak Y, dosen-dosenmu, Mama udah tahu semua. Sekarang segera daftar ulang kuliah lagi dan hubungi dosen-dosenmu, Mama akan cek tiap hari."

Dan benar, setelah itu setiap hari Mama meneleponmu, sekedar menanyakan perkembangan TA, kesehatanmu, atau hanya mengobrol ngalor-ngidul memberi semangat. Tak lupa Mama selipkan pertanyaan tentang TA, tapi kali ini secara detail, bab berapa, kesulitannya apa, dan mengkomunikasikan kembali dengan dosen pembimbingmu. Itu Juli 2020. 

Kuusahakan setiap bulan Mama ke Bandung, menjengukmu secara fisik, memberi semangat, mentraktir teman-teman se-kostanmu yang kutitipkan untuk menjagamu. Mengesampingkan ketakutan memakai public transport disaat pandemi. Desember 2020, disaat injury time, akhirnya kamu mengabarkan bahwa sudah diminta sidang akhir. Dan alhamdulillah lulus, dengan beberapa perbaikan. Rasa senang Mama dan Papa tak terkira. Rasanya seperti orang baru lahiran, hehe..

Pertengahan Januari 2021 selesai semua perbaikan TA, dan proses penjilidan, serta penyerahan ke TU. Kamu pulang Jogja dengan menghadiahkan Mama 1 bundel TA 213 halaman. Mata Mama berkaca-kaca. Dengan takjub kubuka lembar demi lembarnya, kubaca dari awal sampai akhir, meski Mama gak ngerti. Alhamdulillah ya Allah, selesai juga perjuangan kita ya le, hehe..

Kini awal Februari 2021 kamu akan kembali ke Bandung untuk bekerja. Mendapat pekerjaan tanpa bantuan Mama meski Mama tawarkan. Katamu, "Nanti aja Ma, aku mau coba kerja ini dulu". Yasudah le, kerja yang bener ya, yang rajin. Jangan mikir uang dulu, karena gaji itu mengikuti prestasi. Jangan korupsi. Jaga kesehatan, karena kesehatan yang utama, kalau gak sehat, gak bisa kerja juga kan? Makan teratur, justru supaya tidak terlalu gemuk. Jangan lupa selalu jaga time-managementmu, itu nasehat Mama dulu yang tak kau indahkan, jadi agak terlambat studimu. Jangan lupa untuk selalu rendah hati dan menjaga akhlak. Jangan lupakan sholat, jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu.

Oh ya, cari jodoh yang baik. Jika sudah dapat, perlakukan dengan baik, seperti kamu memperlakukan Mama dan adek perempuanmu. Jaga. Yang terakhir, tetapkan jadwal secara reguler jenguk Mama ya? Karena Mama tidak mau menjadi mama-mama yang munafik, menahan rindu padahal sebenernya kangen sama anaknya. Maafkan Mama yang terlalu berterus terang, hehe..

Semoga sukses anakku, semoga Allah selalu melindungimu, aamiin..



Yogyakarta, 8 Februari 2021

Mama yang menyayangimu, selalu..



Jumat, 13 November 2020

PENSIUN DINI

Suatu hari di tahun 2002, awal-awal aku mendapat promosi dari Kasie Akuntansi menjadi  Kabag Akuntansi & Keuangan dan "dikandangkan" (istilah anak buahku dewe yg ndlegek mengunekkan ibu buahnya yang sekarang punya ruangan sendiri, asemok), lagi jalan menuju ruangan dari ruang Dirkeu karena dipanggil. Mendadak lewat meja anak buahku yg mendlegek ini, kok ada buku Rich Dad Poor Dad (RDPD)? Sepertinya menarik. Judulnya kontradiktif ngono, isine opo yo? Sontak brenti, menimang-nimang, dan membuka sedikit, "Udah selesai baca belum? Pinjem boleh gak?", tanyaku. Anak buahku hanya mengangguk. Oke deh, sippo, kuambillah buku itu, dan kubaca saat itu juga dan lanjut di rumah.


Awal-awal bukunya menarik, lama-lama semakin ke belakang semakin mudeng buku apa itu. Oalah, buku yang all about money. Agak gak setuju sih sebenernya, apa- apa kok dinilai dengan uang. UUD, Ujung-Ujungnya Duit. Menurutku, banyak hal di dunia ini yang bisa dinilai tidak hanya dengan uang. Tapi, diluar itu, ada 2 hal yang menarik dari buku ini. Yang pertama, ide bahwa seharusnya orang itu pensiun dari pekerjaan tetapnya di usia 40 th, dan menikmati hidup. Apa jadinya jika kita bekerja terus hingga usia 58 th, kemudian berencana menikmati hidup setelahnya? Kelamaan dan ketuaan, hehe..

Rutinitas selama berpuluh-puluh tahun, kemudian setelah pensiun menyadari, bahwa rutinitas bekerja telah menjadi gaya hidup, dan lupa menikmati hidup ketika pensiun. Ketuaan, ketika kesehatan sudah kurang mendukung untuk aktivitas menikmati hidup itu. Contoh kecil, kolesterol, darah tinggi, penyakit jamak rata-rata umur segitu, jadi gak bisa menikmati soto betawi rempoa yang yahud bingits itu kan? Kan? Hihi..

Setelah bertahun-tahun bekerja untuk mencari uang, di usia 40 th adalah saatnya uang yang bekerja untuk kita. Taruhlah kita bekerja di usia 23 th, di usia 40 th berarti sudah 17 tahun bekerja, seharusnya sudah cukup waktu untuk mencari uang, dan saatnya membuat uang itu yang gantian bekerja untuk kita.

Hal kedua yang menarik, bahwa bisnis untuk mempersiapkan waktu pensiun adalah 10 tahun dari usia yang kita rencanakan untuk pensiun. Jadi jika kita berencana untuk pensiun di usia 40 th, maka bisnis harus dimulai saat kita usia 30 th. Wehlah kok meh pas iki? Saat itu usiaku 31 th, bisnis opo yoo, putar otak. Nah ini yang tidak ada di buku RDPR, berdoa, memohon petunjuk Allah SWT.

Dan tak disangka-sangka kesempatan itu datang, suatu hari, salah 1 staf seniorku menghadap dan berkata bahwa dia membutuhkan investor untuk memulai bisnis persewaan mobil. Aku percaya pada stafku ini, karena orangnya ubet dalam bekerja dan jujur. Tapi dalam bisnis, uang tidak ada teman dan saudara. Aku harus memperhitungkan faktor resiko, disamping perhitungan analisa keuangan tentu saja. "Butuh berapa pak?", tanyaku. "Gak banyak Bunda, atau tidak cash juga gak papa, kalo ada mobil nganggur boleh aja", jawabnya. Wah, menarik ini, investasi tapi tanpa duit, hehe..

Pikir punya pikir, kan mobil cuman 1 dipakai lagi. Tiba-tiba inget, kakakku punya 2 mobil, yang 1 sering nganggur, kutawarkanlah kerjasama itu, eh dia tertarik. At least, aku harus lihat dulu minimal 1 tahun, apakah usaha ini berjalan lancar? Apakah aman? Karena invest gede nih, 1 mobil bisa senilai 100jt lebih waktu itu. Saat itu aku belum dapat bagi hasil, hanya komisi.

Waktu berjalan 1 tahun, ternyata bisnis bagus. Mobil aman, pendapatan lancar per bulan. Ditambah lagi mobil terawat, karena stafku ini punya team, dan disewakan hanya ke perusahaan asing beserta sopirnya. Baru deh berani invest 1 mobil lagi, via kredit, dengan perhitungan matang. Dalam perhitunganku masih masuk, dan sesuai dengan prinsip pengelolaan keuanganku, bahwa untuk konsumtif tidak boleh kredit, tapi untuk barang yang harga terus naik (misal tanah atau rumah), dan untuk barang yang menghasilkan revenue, tidak apa-apa. Toh semua bisa dihitung. Bismillah, berjalan.

Alhamdulillah, jumlah mobil bisa terus bertambah, dan ketika th 2008, di usiaku yg ke-37 th, revenue dari bisnis itu secara bersih setelah dikurangi penyusutan (perlu dihitung untuk peremajaan setiap 5 tahun sekali), bisa mendapatkan paling tidak setengah dari gaji kantoranku. Perhitunganku, tahun depan, di usia 38th aku akan kuliah lagi S2, sehingga usia 40th lulus dan siap-siap mengajukan pensiun dini (pendi). Dengan bekal ijazah S2, aku akan mengisi waktu dg mengajar nantinya, sekedar untuk self esteem dan membagikan ilmu, sesuatu yg sangat kuinginkan pada akhirnya, sebagai nobel goal, bukan lagi mengejar uang.

Tapi rencana tinggal rencana, Allah rupanya berkehendak lain. September 2008, Papahku berpulang ke Rahmatullah. Sebelum berpulang, Beliau berpesan padaku, "Titip ibumu yo?". Aku hanya mengangguk, meski dalam hati berpikir. Kok titip ke aku ya? Bukankah aku di Jakarta, Mamah di Jogja? Dalam pemikiranku yang mendalam saat itu, titip, berarti mungkin biaya. Yasudah, rencana pendi aku tunda dulu, agar supaya lebih leluasa secara finansial memenuhi keinginan Mamah, apapun itu. Airmataku mengalir mengingatnya, Mamahku yg paling aku sayangi.

Ternyata curahan kasih dan sayangku ke Mamah hanya bertahan 2 tahun saja. September 2010, Mamahku ikut berpulang ke Rahmatullah. Sejak meninggalnya Papah, kesehatan Mamah semakin menurun. Mamah yg memang waktu Papah masih ada sudah keluar masuk RS, semakin sering sakit. Adalah menjadi keharusan bagiku untuk pulang ke Jogja jika Mamah sakit, meski hanya saat wiken saja.

Saat itu setelah Mamah tiada, aku merasa tugas yang diamanahkan Alm Papah telah selesai. Saatnya untuk pendi. Akan tetapi ternyata dengan bergantinya manajeman, peraturan perusahaan juga mengalami perubahan. Pensiun dini hanya dapat dilakukan setelah bekerja minimal 15 tahun (aku sudah lewat nih), dan berusia 45th. Pakai DAN sekarang, heleehh..

Yasudaahh, sesuai rencana awal, aku akan kuliah dulu, mendekati tahun ajaran baru, Juli 2011, aku mendaftar kuliah S2 UI, test, dan diterima, alhamdulillah. Akan tetapi lagi-lagi Allah berkehendak lain. Tiba-tiba ada panggilan Haji. Aku sangat terkejut waktu itu, karena baru 2 tahun sebelumnya mendaftar. Konsul ke akademik UI, akhirnya diputuskan untuk ambil cuti saja dulu, dan baru mulai kuliah 2012. Belum kuliah kok udah cuti, wisjiaan, wkwk..

Singkat cerita, aku lulus th 2014, akan tetapi baru bisa mengajukan pendi Januari 2016, persis saat usiaku 45th, di hari ulang tahunku. Akan tetapi, 1 th sebelum pendi, surat sudah kuluncurkan ke Direksi. Belum disetujui, malah ditawarkan posisi lebih tinggi di anak perusahaan, aku tak bergeming. Saat itu kebetulan ada temen yg menginfokan ada PTS di Jakarta yg membutuhkan tenaga pengajar. Aku pun melamar, saat wawancara ternyata yg dibutuhkan tenaga tetap, tentu saja aku belum bisa, kulepaskan kesempatan itu.

Awal 2016, ketika sudah pendi, aku msh dihire 6 bulan oleh perusahaan dg hanya wajib masuk 2x seminggu. Waktu itu ada tawaran lagi mengajar di PTS dekat rumah, semester depan. Tentu saja kusambut dg antusias. Tapi rupanya Allah berkehendak lain lagi, Februari 2016 anakku tiba2 memutuskan untuk pindah sekolah ke Jogja, karena ada masalah bullying. Meski ada Budenya, tapi sisa waktu selama hire itu kugunakan untuk wira-wiri Jakarta-Jogja mencari sekolah (sudah kutulis di blog judul tersendiri), dan merawat anakku, hingga aku sendiripun jatuh sakit, GERD (kapan-kapan kutulis ya, sembuhnya aku dari sakit ini).

Pengobatan selama 3 bulan membuatku turun berat badan sebanyak 6 kg. Keinginan untuk mengajar kupending dahulu. Dan kini, sudah 4 tahun sejak aku pensiun dini, ternyata ijazahku gak laku untuk mengajar di Jogja, karena disini lebih banyak yg muda-muda, hehe..

Tak apa2, selama rentang waktu 2016 sd sekarang, bisnis persewaanku masih berjalan, meski dengan jumlah mobil tidak sebanyak dulu, karena sebagian dialihkan ke property. Itulah yang kupakai sebagai penghasilan tambahan, disamping gaji suami sebagai PNS. Dan terkadang membantu jualan reseller saudara/teman di Jogja secara online, untuk kesibukan. Meski ukuran cukup masing-masing orang berbeda-beda, tapi itu sudah cukup bagiku, dan aku sangat bersyukur. Kini saatnya uang yang bekerja untukku, persis seperti yang dikatakan Robert Kiyosaki, penulis buku RDPR, meski yaaa, agak telat-telat dikit, hehe..

Sekian, semoga bermanfaat..

Berkebun, salah satu kegiatanku sekarang

Rabu, 04 November 2020

MOTORAN

Tergelitik tulisan rekan disini tetang romantika pacaran motoran, tak nulis yaa, hehe.. 

Dulu eike ketemu mantan yg sekarang jadi misoa, di KKN UGM di Candiroto, Temanggung, tahun 1993. Alkisah, suatu waktu jadwal saya pulang ke Jogja. Biasanya naik bus sih, kali ini tidak. Karena doiku ini ternyata mabok kalo naik bus, haha.. 

Jadilah kami motoran ke Jogja, 90 km loh, 2 jam perjalanan. Mayan pegel, harusnya. Tapi karena sama pacar ya gak kerasa tuh. Singkat cerita, motoranlah kita, berangkat sudah agak sore. Lha ternyata kok ditengah jalan hujan. Pakai mantellah kita, 1 berdua, seperti biasa, mantelnya yang model kelelawar, jadinya eike nunduk di belakang, kaki tetep basah dong yaa. Ada kali sejam posisi gitu, pegel, dingin. 

Mendekati posisi Jogja, hujan mereda. Meski doi masih pakai mantel, eike buka karena supaya bisa duduk tegak lagi, gak nunduk. Dan biasa, ada yang cari kesempatan dalam kesempitan. Langsung deh doi pegang lutut eike dan berujar, "Basah ya?".. Yak opo? Kudanan, yo basahlah. Harusnya pertanyaannya kan, dingin ya? Tapi karena masih awal-awal pacaran, masih malu-malu, ya kujawab aja, "Iya".., haha.. 

Masa-masa pacaran setelah KKN di Jogja, setiap malam minggu, jam 7 pas, doi selalu ngapel ke rumah. Jarak Sleman-Jogja gak masalah. Dan kita selalu disuruh pergi sama Mamaku, karena gak enak ama kakak katanya, raono sing ngapeli. Halah. Kita kok disuruh malam mingguan pergi, padahal gada duit. 

So, kadang-kadang kita cuman pergi putar-putar kota Jogja, aku masih ingat, doi dengan jaket hijau tebalnya yang wangii banget. Tapi wangi enak, madu kalo gak salah. Suka berlama-lama nempel karena baunya enak. Dan tau gak, pas doi udah pulang ngapel, waktu eike mau tidur, masih nempel loohh baunyaa. Mungkin di bajuku ato di daguku, ato di tanganku, baunya enaakk, wangi madu. Jadi inget doi, dan eike suka berangkat tidur sambil senyum-senyum sendiri, ehehe.. 

Bertahun kemudian, setelah jadi suami, bau wangi madu itu gak ada lagi. Pinisirin tapi tetep sama bau wangi parfum madunya dulu. Waktu kutanya, jawabnya, "Oh, itu dulu biang parfum yang kupakai, makanya tahan wangi. Yang jual mas A yang kost tempat Ibu, sekarang udah balik ke kota asalnya di Kalimantan, makanya gak bisa beli lagi. Ealaah, jebul biang parfum, pantes wangi bingits, haha..  

Sekarang, kadang-kadang jika masih ada kesempatan, baik di Jakarta maupun Jogja, jika deket-deket saja, aku minta naik motor aja. Dan biasa, aku nempel ke suami. Enak je, wangi dan anget. Meski sekarang ganti bau wangi shampoo, hehe. Masukin tangan ke kantong jaketnya. Kata suami, "Ngopo to mah? Koyo nang omah raiso wae..". Wisjiaann ra romantis blass, haha..



 

My Notes Template by Ipietoon Cute Blog Design