Minggu, 19 Juli 2020

WHITE LIE

There is no such a white lie, menurutku. Paling sebel kalo ada yang bilang gitu, "Kan white lie?". White lie dari Hongkong? Bohong ya bohong aja, kecuali 3 hal yang diperbolehkan, menyelamatkan nyawa, mendamaikan yang berselisih, dan suami memuji istri atau sebaliknya istri memuji suami.

Dari kecil aku diajari oleh orang tua untuk tidak berbohong, dan setelah dewasa menyadari bahwa falsafah itu benar adanya. Kebohongan pasti harus ditutupi dengan kebohongan selanjutnya, jika ingin tidak terbongkar. Belum lagi harus selalu konsisten, melelahkan bukan? Mending jujur, enak, tidak membebani, apa adanya. Kalo salah ya salah aja, dimarahi ya diterima saja, tapi habis itu kan sudah. Makanya dulu saat mau pergi main, saat SMA atau kuliah ke tempat yang kira-kira Mamahku bakalan tidak memperbolehkan, tiap ditanya Mamahku, "Mau kemana?". Kujawab aja, "Mau main, bunek di rumah, capek belajar mulu". Dan biasanya ibuku gak bertanya lagi dan memperbolehkan. Baik ya Mamahku? Hehe..

Tapi ada saat aku berbohong sekali ssiihh, saat melamar pekerjaan di perusahaan tempatku bekerja dulu, saat fresh graduate sd pensiun dini sekarang (type setia, hehe..). Saat ditanya, "Melamar dimana saja?". Kujawab dengan mantap, "Gak ada pak, disini aja". Padahal saat itu aku melamar ke beberapa tempat. Spontan aja jawab itu, dengan pikiran bahwa ya harus menjawab dg baik dan mantap. Daaann bertahun2 kemudian, sang pewawancara yang notabene adalah Kabagku langsung mengungkit hal tsb, katanya hal itu adalah menjadi salah satu pertimbangan menerima kerja aku. Aku ngakak dan berujar, "Masak sih paakk saya bilang begitu? Padahal saat itu saya juga lagi melamar di Bank Anu, perusahaan Anu loh, haha..". "Woh, hooh to? Ngerti ngono ra tak tompo..", kata Kabagku itu sambil ikutan tertawa kecil dan ngeloyor pergi, hihi..

Nah, ada lagi nih terlalu jujur yang gak perlu. Saat pacar anakku yang beda agama ditanya ama anakku, "Gimana kalo kakak ketemu cewek yg cocok tapi agamanya sama. Pilih dia daripada aku?". Dan setelah berpikir sesaat, sambil menghela nafas, cowoknya anakku ini bilang, "Yaaa, akan aku pertimbangkan". Haduh, piye to kowe lee, jawaban salah, harusnya, "Ya milih kamu laaahh", dengan mantap, hihi.. Yasudah, saat anakku mutusin dia, itu jadi salah 1 pertimbangan juga, alasannya beda agama (meski sebenernya banyak alasan lain), kapokmu kapan. Daann, ketika sekarang anakku lagi pedekate lagi dgn cowok yang beda agama lagi, si mantan ini komen, geneeoooo (dalam bhs inggris tapi), haha..

Nah piye Lurs? Adakah 1 bohongmu yang berkesan? Ahihi..

Rabu, 03 Juni 2020

DRAKOR (DRAMA KOREA)

Sesudah #stayathome selama 1 bulan lebih, ternyata acara tv sudah habis kujelajahi semua. Iseng-iseng lompat ke iflix, eh, ada seri drakor (drama korea). Tontonan pertama sebelumnya "Legend of The Blue Sea" cuman nunut adek, pake laptop dia. Gak pernah jenak nonton via laptop tuh. Capek. Nah, yang iflix ini ngasal aja, pilih "Rain and Shine". Karena memang itu yang ada di depan. Meski pemainnya gak terlalu ganteng, tapi ceritanya seru, ada cerita pedih dibalik romansa, berlatar belakang masa lalu runtuhnya sebuah mall. Wah, mayan ki, gratis, nontonnya nyaman, via smarttv. Lanjut.

Cerita ke3 iseng-iseng search, "My ID is Gangnam Beauty", karena pernah nonton 2 episode pertama sama adek gak diteruskan, karena ceritanya diawali dengan bullying, anakku gak nyaman. Yowis, kali ini nonton dewe. Jebul apik, ada moral of the storynya dibalik operasi plastik yang dilakukan pemeran utama wanitanya. And pemeran prianya juga ganteng maksimal, jebul anggota boyband Astro, pantes yo, hihi. Lanjut..

Drakor ke4, hasil liat deretan related film dari drakor sebelumnya, ngasal aja, ambil yang paling kiri, "Rich Man". Nonton 1 episode, menarik, lanjutlah, meski pemain cowoknya gak terlalu cakep, meski ternyata anggota boyband EXO juga. Tapi ceritane keren, ada benang masa lalunya juga, dan intrik bisnis. Di tengah-tengah seri, karena tugas negara kutinggal mangsak, tak pause doang. Eh, diterusin ama misoa. Beliau seneng karena ada intrik-intrik bisnisnya. Sebenernya gak papa sih, tapi spoilernya itu yang gak nahan. Masak pas kita mulai episode yang terputus kemarin, tiba2 doi bilang, "Mah, tuan Min akhirnya dipenjara loohh..". Yak opo papah kiii.., haha, lanjutt..

Drakor ke5, cari dulu di internet yang rekomen sekarang, tapi agak susah secara gak semua ada di iflix. Dapet deh "What's Wrong With Secretary Kim". Episode 1 kurang menarik, krn pemeran utamanya kurang ganteng, menurutku. Tapi lumayan lucu. Semakin kesini kok semakin lucu, yowis terusin. Misoa ikut nonton dan kepo karena pemeran wanitanya cantik katanya, hehe. Makin kesini kok ceritanya makin saru. Yo malah seneng. Misoa yo mengamini istrinya nonton drakor, soalnya habis itu biasane njuk colak-colek, haha. Lanjut..

Drakor ke6, semakin pintar search. Karena kategori drakor sebelumnya ternyata drama roman komedi, ya search itu aja. Dapetlah "Clean With Passion". Liat episode 1, lucu, meski pemeran prianya kurang ganteng, malah lebih mirip mas Roy Kiyoshi, haha, rapopolah, critane apik. Lagi2 ada benang merah masalalunya. Sama seperti drakor sebelumnya. Ada juga latar belakang penyembuhan penyakit mysophobia. Romanne yo lumayan ehem deh. Sampai episode 15, selesai, tak ganti tv biasa, karena mau manasin sop iga, anak lanang mau makan. Lha kok malah misoa yang ternyata diam-diam ikut nonton di belakang malah mbengok, "Terusin aja, tanggung kurang 1 episode inii". Ealah, sopo sing nonton, sopo sing kecanduan, haha. Lanjut..

Drakor ke 7, baru episode 2. Hasil search drama komedi di iflix juga. Critane lucu, rodo gak masuk akal, tapi gak papalah, buat tombo stress kok. Sebelumnya sempet coba 1 episode drakor lain, rekomen baca di internet, drama doang gak pake komedi, hanya karena pemeran wanitanya yg jadi sekretaris Kim, cantik, misoa suka, ternyata mboseni, tempo lambat, rasido tak teruske. Ditambah lagi ternyata si mbak sekretaris ini ketika tidak dandan sbg wanita karier ketok tuwir, tidak fresh. Drakor ke7 ini judule opo? Tentang opo? Nanti ya, reviewnya kalo udah tamat, hehe..

List drakor selama 2.5 bulan covid:
1. Legend of the blue sea
2. Rain and shine
3. My ID is gangnam beauty
4. Rich man
5. What's wrong with secretary kim
6. Clean with passion
7.

Legend of The Blue Sea

Rain and Shine

My ID is Gangnam Beauty

Richman

What's Wrong With Secretary Kim

Clean with Passion

Selasa, 12 Mei 2020

25 Tahun Perjalanan Pernikahan Kita

25 tahun perjalanan pernikahan kita, rasanya baru 25 hari saja saat kemarin aku bikin video, edit foto-foto, dan dengerin lagi lagu kita saat pacaran. Kasih by Ismi Azis. Ketika kuperdengarkan lagu itu, kamu cuma senyum-senyum dan berujar, "Hooh po?". Aku yakin kamu ingat, hanya saja malu mengakui. Seperti juga saat itu kamu pernah malu mengakui, mengirimi surat cinta aku berbendel-bendel, yang masih rapih kusimpan di Jakarta, dan malu mengakui pernah mengirimiku satu-satunya puisi yg kautulis dan kubingkai, tersimpan di rumah ibuku di Jogja. Ya, kamu memang mencintaiku dengan cara yang unik.

25 tahun perjalanan pernikahan kita, hari ini aku mengingat lagi saat pertama kita bertemu. Saat KKN, saat kita satu kecamatan saling kunjung-mengunjungi desa-desa tetangga. Saat itulah aku melihatmu. Seorang pemuda rapih, rambut agak gondrong sedikit, putih, keren, khas anak mapala, baju kotak-kotak flanel dimasukkan, celana panjang jeans, sedang khusuk sholat, makmum, ditengah-tengah perjalanan kita. Pemandangan yang aneh, kataku dalam hati. Biasanya orang keren itu gak sholat, ato orang sholat itu gak keren, pada jaman itu yaa, hehe.. Segera saja kutanya ke temenku, "Siapa itu?". "Oh itu Bobby, ketua kelompok desa J", jawabnya. "Salam ya", kataku lagi dengan ringan. Udah gitu aja. Dan aku sudah lupa ketika pulang. Tak dinyana, besoknya si Bobby ini datang ke desaku, dengan alasan pengen bantuin bikin peta desa. Padahal kata temennya, alasan sebenernya pengen liat siapa sih kemarin yang kasih salam ke dia, ahihi.. Dan sejak itu, hubungan kami berlanjut.

25 tahun perjalanan pernikahan kita, apakah mudah memperjuangkannya? Tentu saja tidak. Pada awal sebelum menikah, seperti orang Jawa pada umumnya, pernikahan adalah merupakan bersatunya 2 keluarga besar. Ibuku dan beberapa kakakku yang Katholik, tentu menjadi pertimbangan juga oleh calon mertuaku, yang sangat teguh dalam menjalankan ibadah Islam. Ketika kutanya ke pacarku ini, "Apa jawabmu mas?". Dengan enteng dia bilang, "Yang mau nikah kan aku, bukan Bapak-Ibuku".. Dan sebaliknya, ketika itu Ayahku masih kurang sreg dengan pilihanku, Beliau berkata, "Itu nanti kerjanya cuman tukang ukur tanah, kamu siap?". Kujawab mantap, "Siap Pah". Dan akhirnya, atas restu kedua orangtua kami menikah.

25th perjalanan pernikahan kita, aku ingat kita memulai segalanya dari nol. Saat pacaran, kamu belum bisa nyetir mobil. Kamu dengan segala kealimanmu, mau mengantarkan aku ke dokter hewan, memeriksakan anjingku yang lagi sakit. Aku menyetir dan kamu di sampingku, sedangkan Z anjingku ada di belakang. Dalam perjalanan, anjingku ini jalan ke depan, ke pangkuanmu. Aku tau kau tak suka anjing, tapi perasaan itu kamu tahan demi aku. Begitu juga saat aku nemu anjing baru, putih dan lucu namanya Snowy, susah payah kamu mau carikan orang untuk adopsinya. Di saat awal menikah pun, sungguh kita belum berpikir akan tinggal dimana. Saat itu, hanya 2 minggu sebelum menikah saat di rumah Kakakku di Bekasi, kita lihat iklan Pos Kota, ada rumah disewakan di daerah Radio Dalam. Langsung kita lihat, dan cocok harga, meski di dalam gang sempit, lalu kita sewa. Hampir 2 tahun kita disitu, dan kebanjiran 2x. Sungguh, kekuatan cinta, tak membuat kita berpikir panjang dan kesusahan.

25 tahun perjalanan pernikahan kita, tentu saja tak selamanya halus lurus. Berombak, berkelok, kadang harus memecah batu cadas. Ketika rintangan datang dan rasa sayang itu memudar, apa yang kulakukan? Mengingat kembali rasa cinta yang dulu sangat kurasakan. Ketika rindu padamu rasanya sangat sakit di dada, seperti sembilu menusuk jantungku. Ketika Jogja tiba-tiba menjadi terasa sepi, padahal saat itu aku sedang berada di keramaian malam di depan Benteng Vredeburg, kala kau mendahuluiku kerja di Jakarta. Dan tiba-tiba rasa hangat akan menjalari dadaku, rasa cinta itu kembali meluap di dalam dada.

25 tahun perjalanan pernikahan kita, apakah sama rasa cintaku padamu seperti rasa cintamu padaku? Entahlah. Yang pasti kamu selalu ingat hal-hal kecil tentang diriku. Aku ingat dulu saat perjalanan dinas ke Jombang, kita dapat hotel kecil. Saat itu kuajak kamu dan anak-anak yang masih kecil, karena kebetulan long wiken. Kau berujar pada staff proyek kala itu, "Ada hotel yang lebih bagus gak?". Dijawab sama staffku, "Ada pak, tapi di Kediri, gimana?". "Gak papa, gak terlalu jauh kan? Yang penting ada air panas. Bunda gak bisa mandi air dingin, terbiasa mandi air panas", begitu kata suamiku. Padahal itu sudah malam. Kami pun menempuh perjalanan hampir 1 jam lamanya untuk pindah hotel, demi aku. Dan aku, hanya tersenyum simpul, kok ngerti, batinku, dalam hati, hehe..

25th perjalanan pernikahan kita, aku, kamu, kita, akan terus selalu belajar, meski waktu bersama telah berlalu selama ini. Karena manusia, cinta dan hidup itu akan selalu penuh perjuangan, pelajaran. Terimakasih telah memberikan warna pada hidupku. Seperti yang pernah almh Ibuku bilang, bahwa aku tak kan pernah bisa diam. Tak kan pernah bisa betah pada hal-hal yang stagnan. Flat life is boring me. Setiap riak itu datang, pada akhirnya aku menerimamu apa adanya, seperti kamu pun pada akhirnya menerimaku apa adanya. Aku kan selalu ingat kata-kata ibuku tadi, dan kemudian menyadari bahwa kamu ada disampingku, untuk memberi warna itu.

25 tahun perjalanan pernikahan kita, terimakasih sudah mendampingiku dalam suka maupun duka. Dalam sedih maupun senang. Dalam sakit maupun sehat. Dalam gejolak rasa dan emosiku yang kadang naik dan turun. Dalam diam, aku tau kamu mencintaiku. Dalam banyak bicara, kamu tau aku juga mencintaimu. Jangan pernah bosan padaku, jangan pernah bosan pada tingkah seperti anak kecilku, yang sampai sekarang pun masih suka duduk di pangkuanmu. Sampai kapan? Semoga sampai nenek-nenek pun aku masih begitu, karena itu caraku menjaga cinta kita.

Terimakasih suamiku..


Senin, 27 April 2020

Pulang Kampung vs Mudik

Hari kamis, jam 7 pagi, saat ngecek wag dan untuk bersih-bersih file. Nemu postingan di wag keluarga, larangan mudik mulai 24 april. Masih tenang2, anakku kan pulang kampung, bukan mudik. Tiket KA masih tgl 26 dan dapet. Duduk r.tamu and ngibril sama suami. "Mah, kereta gak beroperasi loh mulai besok", kata suami. "Hah, hooh po?", jawabku. Trus panik deh mbokne inii. Aduh, piye paahh..

Nanya sana, sini, akhirnya wa mastio. "Mattiooo, besok udah gada kereta gimana inii?". Ditelpun nak lanang ya belum bisa, wehlah. Gak kurang akal, lewat adiknya. "Coba kamu wa mastio, suruh telp mama, penting", kataku. Biasanya lewat adiknya wa malah dibaca. Anak sekarang. Hedeh.

Kalo aku sih udah tau bedane pulkam sama mudik. Gak tau orang lain, hihi. Memang anak2 kuliah udah libur dari pertengahan Maret, tp anakku ini lain. Disuruh pulang susaahh, masih bertahan untuk bimbingan TA. Bahkan awal maret pindah kost dari Nangor ke Bandung biar dekat bimbingan. Saat ITB tutup kampus, anakku masih bimbingan ke rumah dosennya. Saat bimbingan onlen, sekitar 2minggu yll, anakku masih bertahan karena TU masih buka, untuk urus sidang bisa kapan. Kepastian sidang setelah lebaran, baru didapat minggu ini. Hadehhh, mbokne sport jantung.

Begitu bangun, baca wa adiknya anakku terus telp. Mbokne mbrubut le ngomong. "Dah cepetan mandi, trus brangkat stasiun, beli tiket goshow, sarapan disana aja. Tiket lama biar dicancel papa onlen", kataku. "Ya mah, aku ik-ok dulu ya, baru bangun nih", jawab anakku. Jam 8 ituu. Nyantai banget, mbokne wis gragapan. "Yowis, cepet yo maass.."

Jam 9, habis papae selesai cancel, berujar, "Iso entek loh tikete mah, coba mbok liat tiket pesawat". "Emang masih ada pah?", tanyaku. "Ya coba aja kali ada", jawab suamiku. Cling! "Eh, masih ada jam 14! Piye ki?", tanyaku. "Kalo menurutku sih dibeli aja, wis langsung bandara", kata suami. Iseng2, tanya temen yg di perhubungan, "Kalo masih, mending beli aja wae nit, bener bojomu. Sapa tau nanyi malam diumumkan penerbangan juga ditiadakan", kata temenku itu. "Ndak iyo?", tanyaku lagi. "Ya jaga2..", jawabnya.

Yowis, langsung beli tiket, trus telp mattio lagi, "Mattio langsung bandara aja!". "Aku belum mandi maahh", jawabnya. "Ealaahhh. Yowis cepet mandi, sarapan disana aja. Naik gojek ato gocar, jam 10 berangkat daripada macet. Inget dulu kan, kita ke bandara naik mobil macet akhirnya turun trus naik ojek?", aku mengingatkan. "Iya mah", jawab anakku.

Wis, pokmen monitor trs ampe bandara, "Masuk dulu cek in, makan di dalam, mahal biarin, mam transfer uang". "Ya mah", jawab anakku. Selesai cek in mamae lego sak ndayak. Skrinning jg lolos, suhu 36.1°C, kondisi sehat. Bar kui anakku wa, plus foto bandara yg sepi, "Gada makan mah, yg buka cuman Roti-O, wkwk..". "Keluar lagi mattio", saranku. "Diluar juga gada yg buka, mah..", jawabnya. "Ya gofood lah", usulku lagi. "Males ah, udah gpp, aku beli Roti-O aja", katanya. Yowis.

Nyampe jogja tak pethuk. Adiknya ikut, gak turun2 dari mobil. Pengen liat dunia luar katanya, mesakke men dek, wkwk.. Ternyata bandara adusucipto tdk bisa masuk juga mobil, pdhl janjian di area drop off kedatangan, "Yawdah kamu keluar aja mattio". Dan dia keluar dgn melambai2kan kertas kuning, "Lolos mah!". Kartu kewaspadaan kesehatan. Alhamdulillah.

Dan dia gantian mbrubut crita, "Suhuku naik 0.1°C jadi 36.2°C dong mah, aku tadi makan Roti-O 2 ama susu coklat. Promo dah mah, masak segitu cuman 23rb. Roti-O nya buy 1 get 1, susu coklatnya diskon 50%". "Alhamdulillah mas", jawabku. Cerita berlanjut, "Tadi pesawatnya kecil banget loh mah, untung gak hujan. Landing aja goyang-goyang tadi". "Baling2 ya mas?", tanyaku. "Iya, mama udah tau ya?", pertanyaan retoris, gak kujawab. Mamae ngguyu wae. Yang penting selamat sd Jogja, dalam dekapan simbok, hehe. Eh, physical distancing ding..

Sampai rumah, sesuai protap, mamae lapor via wa ke pak RT, foto ktp nak lanang, dan foto kartu kuning. Kemudian oleh pak RT diberikan himbauan dari puskesmas, isolasi mandiri 14 hari. Aku bilang, "Gak usah diisolasi juga gak pergi2 dia sih pak. Di Jogja gada temen, temennya di Jakarta/Bandung, hobi main game onlen. Ngedon di kamar aja pak, kalo ngobrol ama temen/sodara ya lewat game onlen". Puskesmas juga tak infokan begitu. "Oh, ada gunanya juga ya game onlen", kata mbak puskesmas, wkwk...

Pasukan ninja hatori, hehe...

Kartu kewaspadaan kesehatan

Himbauan




Jumat, 17 April 2020

SUAMIKU PERNAH PDP

Papah gak libur? 2 hari berturut2 aku wa suami di Jakarta. Ketika pak Jokowi sudah memutuskan untuk meliburkan sekolah dan kantor, ternyata suami masih masuk kerja. Hati istri mana yang tidak was2 mendengarnya. Belum libur mah. Masih masuk, ini tunggu arahan Direktur untuk masuk bergiliran selama 2 minggu. Hatiku kecut. Suami tinggal sendiri di Jakarta, bagaimana jika dia sakit?
Tiba2 selasa sore suami wa lagi, mah nanti malam papah pulang. Ke Jogja? Tanyaku. Karena baru seminggu kemarin dia pulang ke Jogja, belum jadwal tiket keretanya (suami biasa sudah beli tiket untuk sebulan kedepan, biar murah). Iya, libur sampai jumat, ngapain juga sendiri di rumah. Oke, papah sakit gak? Flu mah, tapi tadi udah ke dokter klinik dikasih obat untuk 3 hari. Papah ada kontak dengan suspect gak? Kayaknya gak ada mah. Yawdah.
Jam 1 malem kebangun, iseng2 liat wag keluarga, ada link berita dikirim kakak sy, 1 karyawan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Jakarta, kantor suami saya, suspect corona, dan pak Menteri minta untuk dirawat di RS rujukan covid. Atiku ra penak. Meski suami sudah bilang gak ada kontak dengan suspect. Langsung saat itu juga aku wa suami, pah, besok sampai rumah mam bukain pintu, langsung masuk kamar mandi, baju jaket lepas semua mamah cuci, habis itu baru salaman ya, oke?
Sampai rumah, suami ternyata sudah pake masker, langsung protokol standar tadi aku jalankan, kemudian suami makan kuambilkan, minum obat, dan tidur. Ketika bangun tidur, suami mengabarkan bahwa ternyata karyawan yang suspect corona itu adalah pak S, kasubdit 1 direktorat dengan suami, dan pernah ketemu di klinik. Duh, sebenernya aku panik, dan hati berdegup kencang. Melihat kondisi suami yang lemas, hatiku berkata, ini sakit tidak biasanya. Meski tidak demam, tapi suami meriang, dan mengeluh kalau malam kedinginan. Suamiku ini orang yang daya tahan tubuhnya sangat kuat, biasanya jika flu ringan saja tidak terlihat sakit. Saking tidak terlihatnya, sampai kadang-kadang dia pulang, aku yang sakit, tertular. Segera saja tanpa sepengetahuan dia, aku wa kakakku dan beberapa teman SMA yang dokter. Kesimpulannya sama, bawa periksa ke RS rujukan covid. Susah payah aku mengajak suami periksa, tidak bersedia. Baru besoknya ketika ditelpon pak Direktur, suami bersedia periksa.
Kronologis selanjutnya saya sertakan dibawah, bagaimana vonis ODP kemudian PDP beserta kesulitan kami untuk meminta test terhadap suami. Pasang surut emosi dan hatiku jangan ditanya lagi, dalam kurun waktu 14 hari karantina pertama itu, 3 karyawan KKP meninggal suspect corona. Antara takut kehilangan, takut ketularan, tapi tidak boleh stress karena jika stress nanti sistem imun drop, dan saya masih harus merawat suami. Tidak mudah bagi istri merawat suami itu, karena ego seorang suami tentu saja masih. Setelah antibiotik habis, badan sudah enakan, suami mulai keluar kamar. Itu kesulitan kedua, karena saya harus mendisinfektan semua barang yang pernah dipegang suami, ya saklar listrik, gagang pintu, keran air (karena rumah Jogja hanya punya 1 kamar mandi). Dulu saat di RS rujukan, ketika pulang dokter bilang bahwa corona ini bisa sembuh sendiri, dan obat jika habis beli saja sendiri lagi, hati ini ngendelong, tapi masih bisa tersenyum. Pikiran masih bunek. Saat di rumah, baru kepikiran, lha kalo penyakit bisa sembuh sendiri, kenapa bu dokter, sampeyan, pake APD lengkap mbak? Copot aja kalo gitu, kan nanti juga sembuh sendiri, hadeh.. Le nggrundel nang ngomah.
Kini suami sudah sembuh, hasil swab 2x sudah negatif. Saya pun sudah diswab dan hasil negatif. Dibawah kronologis, saya cantumkan rincian obat dan makanan minuman yang kami konsumsi selama ini. Barangkali bisa sedikit membantu saudara dan teman-teman sekalian. Mohon maaf ini semua dari kacamata awam dan hati seorang istri. Dan sekali lagi, dari hati yang paling dalam, kuucapkan terimakasih tak terhingga kepada teman2 dokterku, teman SD, SMP, dan SMA, yang telah mendampingiku selama ini. Salam sehat!
Lamp.1. Kronologis, Lamp.2. Obat-obatan, Lamp.3. Jadwal makan dan minum
Lamp.1. Kronologis Rabu, 11 maret 2020, Suami ke klinik KKP Jakarta untuk tindakan cabut gigi (ke dokter gigi), bertemu dengab Bpk S di r.tunggu klinik (r.tunggunya sama), mengobrol. Bpk S (kasubdit, 1 direktorat dg suami) akan periksa ke dokter umum. Di klinik juga bertemu dengan staffnya suami, mas W, berobat ke dokter umum. Siangnya, bpk S merasa lemas diantar pulang ke rumah oleh staffnya. Jumat, 13 maret 2020, Bpk S masuk IGD sebuah RS di Bekasi (dekat rumahnya) dgn diagnosa sementara radang paru. Mas W kembali ke Semarang naik bis (memang rumah di semarang, setiap jumat pulang). Senin, 16 maret 2020, Mas W sudah tidak masuk kantor, ijin sakit. Selasa, 17 maret 2020, Pagi, suami berobat ke klinik KKP lagi tapi ke dokter umum, karena merasa flu, batuk, pilek, tidak enak badan (tapi tidak demam). Malam, suami kembali ke jogja dgn kereta, karena mulai tgl 18 KKP WFH. Dalam perjalanan mendapat kabar bahwa Bpk S suspect corona, dan mas W masuk RS Karyadi dgn keluhan sesak nafas, demam. Rabu, 18 maret 2020, Pagi, sampai di jogja, langsung masuk km.mandi tanpa menyentuh apapun dan tidak ada kontak fisik dg saya maupun anak. Kamis, 19 maret 2020, Pagi, mendapat khabar bhw akhirnya bpk S mendapat tempat rawat inap di RS di Depok, dan dilakukan test swab. Sore, sy antar suami ke IGD Sardjito dan diarahkan ke klinik homecare. Oleh dr.jaga dilakukan wawancara skrining, sementara sy melakukan pendaftaran. Semua petugas, perawat n dokter memakai APD lengkap, sy dan suami memakai masker. Kemudian disarankan untuk rontgen thorax dg biaya sendiri. Hasil rontgen diambil 3 jam kmdn, normal. Oleh dokter diberikan kartu dan monitor pemantauan dan dinyatakan ODP, tdk diberi obat, hanya obat dari klinik KKP Jkt diteruskan, jika habis beli lagi. Malam, Bpk S meninggal dunia Sabtu, 21 maret 2020, Pagi, setelah mendapat khabar bhw bpk S meninggal, sy menghubungi hotline covid Sardjito unt menanyakan test corona unt suami, tdk bisa. Sy datang ke RSUD Jogja, ternyata tdk bisa juga. JIH juga belum ada rapid test. Minggu, 22 maret 2020, Pagi, mendapat resep antibiotik unt 5 hari dari teman yg dokter unt mengobati bakteri penyertanya, karena keluhan suami masih sama, dan tdk diberi obat dari RS rujukan. Rabu, 25 maret 2020, Pagi, mendapat khabar bhw ada karyawan KKP Pusat yg meninggal dunia, suspect corona juga, namanya pak A. Akan tetapi tidak ada kontak dg suami selama 14hr sblmnya. Bpk A ini tinggal di depok, dan baru masuk RS 3 hari, sakit selama 1 minggu. Kamis, 26 maret 2020, Pagi, mendapat khabar bhw hasil swab mas W di rs karyadi sdh keluar, dan hasilnya positif corona. Sy coba hub RS Harjolukito untuk rapid test, ternyata blm tersedia jg. Hari ini Jumat, 27 maret 2020, Hasil test bpk S dan bpk A yg suspect corona blm keluar, dan sd hari ini juga suami belum ditest corona. Kondisi membaik, masih batuk dan lemas sedikit. Mohon dapat dilakukan rapid test kpd suami sy dan sy serta putri sy yang sdh tinggal 1 rumah sejak tgl 18 maret 2020 (10 hari). Kondisi sy dan putri sy baik2 saja, dan tetap menjaga asupan makanan bergizi, vitamin, sambil merawat suami, dan disinfektan rmh, barang, dll. Ttd Ibu Ratih Damayanti ----- Minggu, 29 Maret 2020 Mendapat khabar ada staff kpp pusat, pak AM meninggal, positif corona, tapi tidak ada kontak dg suami selama 14hr terakhir Jumat, 3 april 2020 Mendapat surat dari kkp pusat untuk rapid test, 22 orang salah 1 nya suami. Saat itu masih tdk bisa rapid test baik di sardjito, harjolukito, maupun bethesda. Sop sama, alat terbatas sehingga hanya unt nakes dan pdp rawat inap. Disarankan mencari sendiri rs yang bisa. Sabtu, 4 april 2020 Dilakukan rapid test di rsa ugm, hasil positif. Status naik menjadi PDP. Diminta isolasi mandiri lagi 14hr. Dijadwalkan untuk swab test hari senin. Senin, 6 april 2020 Dilakukan rapid test ke saya, hasil negatif. Tp krn pernah ada gejala ringan n kontak erat dg suami, maka di swab juga. Hasil swab saya n suami baru akan didapat 7-10hr kemudian. Sambil menunggu hasil, diminta merawat suami seolah2 sdh konfirm positif. Selasa, 7 april 2020, swab test yang ke2 Senin, 13 april 2020, hasil swab negatif
----------
Lamp.2. Obat Papa, 17 maret 2020, obat bisolvon batuk berdahak, vitamin becom-c, obat pilek, dari dokter klinik KKP Jkt 18 maret 2020, karena meriang, konsumsi sanmol 19 maret 2020, ke rs sardjito, tdk diberi obat 20 maret 2020, obat batuk habis, ganti sanadryl batuk kering. Sanmol berhenti, karena kedinginan. 22 maret 2020, obat pilek habis, tdk beli, sudah sembuh pileknya. Diresepkan antibiotik unt 5hr, azitromisin. 23 maret 2020, baru mengeluh nyeri sendi, diberikan biogesic. Cocok, tdk kedinginan. Diteruskan sd 3 hari. 27 maret 2020, vitamin becom-c habis, sambung ester-c dulu sementara. Antibiotik habis, membaik, nyeri sendi sembuh, tinggal batuk dikit, lemas dikit. Pagi ester-c, malam habatussaudah. 31 maret 2020, batuk sembuh, tinggal lemas dikit, blm sefit biasanya. 2 april 2020, beli vitamin becefort yg kandungan sama dg becom-c (becom-c di apotek kosong) malah lebih lengkap, trmsk vit E. 7 april 2020, Sd sekarang, becefort pagi dan habatussaudah malam. Ps. Semua obat dikonsulkan dahulu via wa dg teman dokter. Ttd istri, Ratih Damayanti (Saya setiap hari minum myk ikan, pagi dan habatussaudah malam sdh sejak sblm korona. Ketika tau suami sakit, saya tambahkan vitalong-c, jika tdk ada ester-c). ----------
Lamp.3. Jadwal Makan n Obat Papa: 06.30: makan pagi dg lauk sop ayam rempah. Minum vitamin becefort dgn pisang. 09.55: cemilan, telur rebus 1butir, 10.00: bejemur 10.15: minum air kacang hijau 12.00: makan siang sayur lauk lengkap. Buah pepaya. Minum myk ikan. 16.00: cemilan siomay/ekado kukus/bakpao (tdk boleh goreng2an), minum air kurma ajwa. 19.00: makan malam lengkap dg sayur dan lauk. Minum habatussaudah dg pisang. Ps. -Makanan/minuman/obat selain itu hrs sepengatahuan mama. -Banyak minum air putih hangat

Selasa, 26 November 2019

PEOPLE CHANGE, SO DO I!

Lucu juga baca komentar netizen tentang Agnez Mo yang bicara bahwa dia bukan berdarah Indonesia. Mereka bilang bahwa, gotta say i prefer the old agnes, but again, people change..

Terlepas dari kontroversi berita itu, tentang perubahan ini lah yang dari dulu menggelitikku. Aku saat ini tak pernah setuju dengan statement orang yang bilang ya ini lah aku, aku ya aku, terima apa adanya. Ketika itu berkaitan dengan hal-hal yang buruk, misal temperamental, kurang empati, nyinyir, baperan, dll. Terasa paradox tidak dengan pendapat paragraf pertama? Jadi manusia bisa berubah tidak?

Kalo aku sih cenderung setuju bahwa manusia sebagai makhluk sosial, makhluk dinamis, sangat amat bisa berubah. Berubah ke arah yang buruk saja bisa kok, masak berubah ke arah yang baik gak bisa? Misal, ada orang yang bilang, suamiku dulu orangnya sabar loh, ngemong, dll yang baik-baik. Sekarang kok berubah, jadi gak sabaran, agak kasar, dll. Lha itu bisa berubah? Kenapa giliran ke arah kebaikan orang cenderung berkata, ya ini sudah sifatku? Justifikasi? Hehe...

Suatu hari saat awal-awal aku menjadi manajer, saat itu usiaku 31th, manajer termuda saat itu. Masih temperamental, grusa-grusu, menyelesaikan masalah dengan emosi. Saat itu, direkturku berkata, sabar tih, ya itulah proses, kamu akan lebih bijak nanti di usia 40an. Dalam hati, meski gak ngeyel langsung dengan boss, aku berkata, ya mosok bisa orang berubah, aku ya aku, seperti ini, galak, tegas, apa adanya. Memegang 2 jabatan langsung, manajer akuntansi dan keuangan, waktu itu aku berpikir, jika tidak galak, tegas, mana bisa orang akan mentaati, sesuai posting, tak sembarangan menggunakan uang perusahaan.

Banyak yang terjadi setelah itu, proses pendewasaan diri, baik kusadari maupun tidak. Asal kita mau membuka diri, bahwa hidup ini adalah pembelajaran yang panjang. Banyak hikmah yang bisa kita petik. Terkadang banyak nasehat sederhana dalam kalimat sederhana. Aku ingat dulu saat masih menjadi staff, tapi bagian verifikasi bukti, kasieku pernah berkata sedikit saat aku berselisih dengan seorang kepala proyek. Nothing personal, katanya. Itu artinya, aku harus memisahkan perasaan personalku terhadap sang kepala proyek, dengan judgement profesi terhadap bukti. 2 kata itu kutulis besar2 di screen saver komputerku. Supaya ingat dan tidak baperan. Meski susah, saat itu, aku berusaha belajar hal sederhana itu. Dan kata2 itu tetap menjadi peganganku dalam bekerja, hingga aku pensiun dini. Kata2 yang sederhana, tapi penuh makna, jika saja kita mau memahaminya dan menerimanya.

Di usia 40, 5 tahun sebelum pensiun dini, aku harus mempersiapkan beberapa anak buahku untuk menjadi kandidat penggantiku. Aku berusaha mengajarkan banyak hal seperti yang dulu atasanku ajarkan padaku, termasuk bahwa orang bisa berubah, ke arah perbaikan. Tidak mudah sih, tapi saat itu sedapat mungkin aku tetap berusaha.

Dan kini, di usia 48 tahun, 3 tahun setelah pensiun dini, masih banyak orang yang berpendapat sama, denganku saat itu, saat usia 31, hehe, bahwa aku ya aku, tak bisa berubah. Dan mungkin akupun akan terus meyakinkan, tak akan bosan mengingatkan, siapapun itu, bahwa perubahan itu ada, dan bisa. Berubah tidak selalu harus dari A menjadi B, tapi mungkin dari A menjadi A' atau A". Jadi jangan pernah takut akan perubahan, jangan pernah bilang tak bisa, jika itu ke arah kebaikan! Salam..

Jumat, 15 November 2019

CANDRA

Begitu dia biasa dipanggil, dan memang nama lengkapnya hanya itu, tanpa nama depan maupun belakang. Anak buahku dulu waktu masih ngantor, anak yang baik, rajin, pintar, dan suka bercanda. Meninggal tahun 2016, di usia 31 tahun, masih muda. Dan bahkan sampai kini terkadang aku masih tak percaya. Kadang-kadang lupa, pengin cerita sesuatu yang biasanya kuceritakan padanya. Kadang merasa jika menemukan satu peristiwa lucu, masih teringat bahwa dia pasti akan tertawa..., jika masih ada. 11 tahun mengenalnya bukan waktu yang singkat. Awal pertemuan kami, dia adalah anak magang di kantor, di divisiku, divisi akuntansi. Dengan penampilan yang tak biasa, rambut dicat coklat model njegrak, enggak klimis, mata coklat, pakai softlense, karena aslinya dia berkacamata. Tapi jangan tanya hasil kerjanya, karena memang pada dasarnya anak yang cerdas, gampang diajarin, logikanya juga jalan, ketika coba kuuji dengan pertanyaan sederhana hitungan pajak. Rajin juga, pekerjaan cepat selesai. Sehingga ketika magang selesai, kutawarkan untuk kerja di kantor, meski dia cuma lulusan D2. Dengan melalui prosedur resmi psikotest dll, dia lulus. Sebagai end user tapi aku wanti-wanti sebelum dia test, belajar yang bener ya, pake jaket ya, soalnya tempat test nya dingin banget, jangan lupa sarapan dan bawa uang buat makan siang, karena test sampai sore, hehe.. Singkat cerita, dia diterima kerja. Alih-alih berpenampilan sama, entah siapa yang bilang, bercanda sambil nakut-nakutin, dia masuk kerja dengan penampilan berbeda. Rambut dicat hitam, agak rapih sekarang, softlense ganti yang bening. Kata dia disuruh pak Anu, jangan dicat rambut, soflense jangan warna. Aku bilang, gak masalah sih penampilan, asal kerjanya bener, ada-ada aja yang bilang tuh, haha.. Selama 11 tahun itu, Candra bekerja di kantor pusat, proyek dan kemudian kantor pusat lagi. Bahkan di tahun-tahun akhir hidupnya dia ambil kuliah S1. Aku mendorongnya untuk maju, berharap tinggi padanya, mengajarinya segala hal-hal teknis dan non teknis tentang akuntansi, keuangan, perpajakan. Cara menghadapi orang lain, dan belajar tidak membawa perasaan personal dalam bekerja. Candra adalah seorang Tionghoa, dengan saudara campur-campur. Ayah sudah meninggal, Ibu masih konghucu, saudaranya ada yang muslim ada yang kristen. Waktu penerimaan, dia masih kristen. Sekitar 2 tahun setelah bekerja, Ibunda meninggal, dan dikremasi. Otomatis dia yang tadinya yatim, sekarang menjadi yatim piatu. Segala hal kemudian seperti menjadi kewajibanku untuk menjadi Ibunya, meski dia tak meminta. Bahkan ketika pada pilihan akan menikah, aku bilang, ini anak baik banget sama kamu, pinter, sudah kerja mapan, mau cari apa lagi? Dan akhirnya memang mereka menikah, dan punya baby, yang masih berumur 4 bln ketika Candra meninggal. Sekitar 1 tahun setelah Ibunya meninggal, Candra memutuskan untuk menjadi mualaf. Bukan aku yang mempengaruhi atau siapapun, aku pun agak kaget mendengarnya. Rupanya dia di tempat kost juga dirawat oleh kakak-kakak muslim sekitarnya, dengan penuh kasih sayang. Dan dari kakak itu lah dia berketetapan hati menjadi muslim. Kemudian belajar sholat, belajar puasa. Aku masih ingat puasa pertamanya. Bagaimana dia lemas di meja depanku, gak bisa kerja, dan kerjanya hanya menghitung jam saja. Dan tahun pertama puasanya itu dia sukses hanya bolong 2 hari, yang sehari itu pas kusuruh ke kantor pajak, haus banget, liat tukang es kok enak banget bunda, katanya, haha... Dan tibalah saat dia harus disunat. 17 Agustus, tahunnya lupa. Kebetulan memang ada libur long weekend, tapi dia mengajukan cuti 1 minggu. Aku tanya, lama bener can, anakku laser langsung cepet. Katanya, ini sunat yang biasa bunda, kata kakak angkatku ini aja. Ya sudah, ijin kutandatangan, karena manut kakaknya saja lah toh yang merawat mereka. Ketika seminggu kemudian dia masuk, dengan pedenya dia tunjukkan video sunatnya yang mengerikan karena berdarah-darah. Meski heran ya kutonton saja, belum pernah lihat je sunat orang sudah dewasa. Ternyata di belakang kudengar suara tawa, seorang staff ku yang lain yang senior, dia lah yang memberitahu Candra bahwa dia "harus" memperlihatkan video itu, jika tidak extend cutinya tidak akan kusetujui, haha.. Juni 2016, hari Jumat, bulan Ramadhan, waktu yang indah untuk menghadapNya, waktu itulah Candra berpulang. Sesal tiada tara di hatiku, bahkan dalam menulis ini pun aku masih menangis, menimbulkan tanya anakku yang melihatku. Januari 2016 aku memutuskan pensiun dini. Mengapa cepat sekali kamu meninggalkan dunia ini? Aku menyesal tidak merawatmu dengan baik saat sakit, padahal rentang waktu sakitmu cukup lama. Dimulai dari tiphus 2x, kemudian bronkuspnemonia, diakhiri dengan menginitis. Bahkan ketika menengok kelahiran anakmu, kamu sudah terlihat kurus. Kamu tidak mengindahkan nasehatku untuk lebih menjaga kesehatanmu. Aku tidak bisa berbuat banyak, karena sudah di Jogja, tidak menghadapi langsung. Biasanya aku akan bawel tiap hari, sampai kamu mau ke dokter atau dirawat di rumah sakit. Candra, apa ada masalah dengan selain kesehatanmu? Aku juga tidak tahu, karena saat itu aku juga sedang sibuk dengan banyak urusan di Jogja. Apa aku kurang memberikan bekal padamu, hingga kamu tak sanggup menghadapi segalanya sendiri? Sungguh aku menyesal. Aku teringat, dulu waktu SMA aku punya anjing, namanya Z. Kupelihara dari masih bayi, sampai gede, sampai aku kuliah, lulus, kerja di Jakarta, dan menikah. Z mati di hari pernikahanku, saat aku sedang dirias. Jadi dengan sudah dirias lengkap dengan paes kerik aku menguburkan Z, di pekarangan rumah veteran. Waktu itu aku pulang rabu, akad sabtu, almh Ibukku sudah bilang bahwa Z sakit, kubilang ya mah, lagi ribet, nanti kubawa ke dokter senin. Lha kok sabtu mati. Seolah-olah sudah selesai tugasnya menjagaku, karena kini aku sudah dijaga oleh suamiku. Airmata menetes saat itu, ku tak peduli jika eyeliner jadi luntur lagi. Candra, meninggal di tahun yang sama saat aku pensiun dini. Lagi-lagi kesalahanku meninggalkan orang yang kucintai, dan kurang peduli lagi. Maafkan bunda ya, semoga engkau memaafkan bunda. Wajahnya sungguh ganteng saat meninggal, putih bersih, dan seperti hanya tertidur saja. Sepanjang mendampingi pemakaman aku hanya bisa menangis saja, dan semakin menjadi ketika ibu mertuamu merelakan aku menangis berlama-lama disampingmu sambil berujar, ibu sudah seperti ibunya sendiri, kenal 11 tahun lebih, saya ibu mertuanya saja baru kenal 2 tahun ini. Semoga engkau tenang disana, anakku... Jogja, 16 November 2019, Bunda yang tiba-tiba merinduimu...
 

My Notes Template by Ipietoon Cute Blog Design