Jumat, 17 April 2020

SUAMIKU PERNAH PDP

Papah gak libur? 2 hari berturut2 aku wa suami di Jakarta. Ketika pak Jokowi sudah memutuskan untuk meliburkan sekolah dan kantor, ternyata suami masih masuk kerja. Hati istri mana yang tidak was2 mendengarnya. Belum libur mah. Masih masuk, ini tunggu arahan Direktur untuk masuk bergiliran selama 2 minggu. Hatiku kecut. Suami tinggal sendiri di Jakarta, bagaimana jika dia sakit?
Tiba2 selasa sore suami wa lagi, mah nanti malam papah pulang. Ke Jogja? Tanyaku. Karena baru seminggu kemarin dia pulang ke Jogja, belum jadwal tiket keretanya (suami biasa sudah beli tiket untuk sebulan kedepan, biar murah). Iya, libur sampai jumat, ngapain juga sendiri di rumah. Oke, papah sakit gak? Flu mah, tapi tadi udah ke dokter klinik dikasih obat untuk 3 hari. Papah ada kontak dengan suspect gak? Kayaknya gak ada mah. Yawdah.
Jam 1 malem kebangun, iseng2 liat wag keluarga, ada link berita dikirim kakak sy, 1 karyawan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Jakarta, kantor suami saya, suspect corona, dan pak Menteri minta untuk dirawat di RS rujukan covid. Atiku ra penak. Meski suami sudah bilang gak ada kontak dengan suspect. Langsung saat itu juga aku wa suami, pah, besok sampai rumah mam bukain pintu, langsung masuk kamar mandi, baju jaket lepas semua mamah cuci, habis itu baru salaman ya, oke?
Sampai rumah, suami ternyata sudah pake masker, langsung protokol standar tadi aku jalankan, kemudian suami makan kuambilkan, minum obat, dan tidur. Ketika bangun tidur, suami mengabarkan bahwa ternyata karyawan yang suspect corona itu adalah pak S, kasubdit 1 direktorat dengan suami, dan pernah ketemu di klinik. Duh, sebenernya aku panik, dan hati berdegup kencang. Melihat kondisi suami yang lemas, hatiku berkata, ini sakit tidak biasanya. Meski tidak demam, tapi suami meriang, dan mengeluh kalau malam kedinginan. Suamiku ini orang yang daya tahan tubuhnya sangat kuat, biasanya jika flu ringan saja tidak terlihat sakit. Saking tidak terlihatnya, sampai kadang-kadang dia pulang, aku yang sakit, tertular. Segera saja tanpa sepengetahuan dia, aku wa kakakku dan beberapa teman SMA yang dokter. Kesimpulannya sama, bawa periksa ke RS rujukan covid. Susah payah aku mengajak suami periksa, tidak bersedia. Baru besoknya ketika ditelpon pak Direktur, suami bersedia periksa.
Kronologis selanjutnya saya sertakan dibawah, bagaimana vonis ODP kemudian PDP beserta kesulitan kami untuk meminta test terhadap suami. Pasang surut emosi dan hatiku jangan ditanya lagi, dalam kurun waktu 14 hari karantina pertama itu, 3 karyawan KKP meninggal suspect corona. Antara takut kehilangan, takut ketularan, tapi tidak boleh stress karena jika stress nanti sistem imun drop, dan saya masih harus merawat suami. Tidak mudah bagi istri merawat suami itu, karena ego seorang suami tentu saja masih. Setelah antibiotik habis, badan sudah enakan, suami mulai keluar kamar. Itu kesulitan kedua, karena saya harus mendisinfektan semua barang yang pernah dipegang suami, ya saklar listrik, gagang pintu, keran air (karena rumah Jogja hanya punya 1 kamar mandi). Dulu saat di RS rujukan, ketika pulang dokter bilang bahwa corona ini bisa sembuh sendiri, dan obat jika habis beli saja sendiri lagi, hati ini ngendelong, tapi masih bisa tersenyum. Pikiran masih bunek. Saat di rumah, baru kepikiran, lha kalo penyakit bisa sembuh sendiri, kenapa bu dokter, sampeyan, pake APD lengkap mbak? Copot aja kalo gitu, kan nanti juga sembuh sendiri, hadeh.. Le nggrundel nang ngomah.
Kini suami sudah sembuh, hasil swab 2x sudah negatif. Saya pun sudah diswab dan hasil negatif. Dibawah kronologis, saya cantumkan rincian obat dan makanan minuman yang kami konsumsi selama ini. Barangkali bisa sedikit membantu saudara dan teman-teman sekalian. Mohon maaf ini semua dari kacamata awam dan hati seorang istri. Dan sekali lagi, dari hati yang paling dalam, kuucapkan terimakasih tak terhingga kepada teman2 dokterku, teman SD, SMP, dan SMA, yang telah mendampingiku selama ini. Salam sehat!
Lamp.1. Kronologis, Lamp.2. Obat-obatan, Lamp.3. Jadwal makan dan minum
Lamp.1. Kronologis Rabu, 11 maret 2020, Suami ke klinik KKP Jakarta untuk tindakan cabut gigi (ke dokter gigi), bertemu dengab Bpk S di r.tunggu klinik (r.tunggunya sama), mengobrol. Bpk S (kasubdit, 1 direktorat dg suami) akan periksa ke dokter umum. Di klinik juga bertemu dengan staffnya suami, mas W, berobat ke dokter umum. Siangnya, bpk S merasa lemas diantar pulang ke rumah oleh staffnya. Jumat, 13 maret 2020, Bpk S masuk IGD sebuah RS di Bekasi (dekat rumahnya) dgn diagnosa sementara radang paru. Mas W kembali ke Semarang naik bis (memang rumah di semarang, setiap jumat pulang). Senin, 16 maret 2020, Mas W sudah tidak masuk kantor, ijin sakit. Selasa, 17 maret 2020, Pagi, suami berobat ke klinik KKP lagi tapi ke dokter umum, karena merasa flu, batuk, pilek, tidak enak badan (tapi tidak demam). Malam, suami kembali ke jogja dgn kereta, karena mulai tgl 18 KKP WFH. Dalam perjalanan mendapat kabar bahwa Bpk S suspect corona, dan mas W masuk RS Karyadi dgn keluhan sesak nafas, demam. Rabu, 18 maret 2020, Pagi, sampai di jogja, langsung masuk km.mandi tanpa menyentuh apapun dan tidak ada kontak fisik dg saya maupun anak. Kamis, 19 maret 2020, Pagi, mendapat khabar bhw akhirnya bpk S mendapat tempat rawat inap di RS di Depok, dan dilakukan test swab. Sore, sy antar suami ke IGD Sardjito dan diarahkan ke klinik homecare. Oleh dr.jaga dilakukan wawancara skrining, sementara sy melakukan pendaftaran. Semua petugas, perawat n dokter memakai APD lengkap, sy dan suami memakai masker. Kemudian disarankan untuk rontgen thorax dg biaya sendiri. Hasil rontgen diambil 3 jam kmdn, normal. Oleh dokter diberikan kartu dan monitor pemantauan dan dinyatakan ODP, tdk diberi obat, hanya obat dari klinik KKP Jkt diteruskan, jika habis beli lagi. Malam, Bpk S meninggal dunia Sabtu, 21 maret 2020, Pagi, setelah mendapat khabar bhw bpk S meninggal, sy menghubungi hotline covid Sardjito unt menanyakan test corona unt suami, tdk bisa. Sy datang ke RSUD Jogja, ternyata tdk bisa juga. JIH juga belum ada rapid test. Minggu, 22 maret 2020, Pagi, mendapat resep antibiotik unt 5 hari dari teman yg dokter unt mengobati bakteri penyertanya, karena keluhan suami masih sama, dan tdk diberi obat dari RS rujukan. Rabu, 25 maret 2020, Pagi, mendapat khabar bhw ada karyawan KKP Pusat yg meninggal dunia, suspect corona juga, namanya pak A. Akan tetapi tidak ada kontak dg suami selama 14hr sblmnya. Bpk A ini tinggal di depok, dan baru masuk RS 3 hari, sakit selama 1 minggu. Kamis, 26 maret 2020, Pagi, mendapat khabar bhw hasil swab mas W di rs karyadi sdh keluar, dan hasilnya positif corona. Sy coba hub RS Harjolukito untuk rapid test, ternyata blm tersedia jg. Hari ini Jumat, 27 maret 2020, Hasil test bpk S dan bpk A yg suspect corona blm keluar, dan sd hari ini juga suami belum ditest corona. Kondisi membaik, masih batuk dan lemas sedikit. Mohon dapat dilakukan rapid test kpd suami sy dan sy serta putri sy yang sdh tinggal 1 rumah sejak tgl 18 maret 2020 (10 hari). Kondisi sy dan putri sy baik2 saja, dan tetap menjaga asupan makanan bergizi, vitamin, sambil merawat suami, dan disinfektan rmh, barang, dll. Ttd Ibu Ratih Damayanti ----- Minggu, 29 Maret 2020 Mendapat khabar ada staff kpp pusat, pak AM meninggal, positif corona, tapi tidak ada kontak dg suami selama 14hr terakhir Jumat, 3 april 2020 Mendapat surat dari kkp pusat untuk rapid test, 22 orang salah 1 nya suami. Saat itu masih tdk bisa rapid test baik di sardjito, harjolukito, maupun bethesda. Sop sama, alat terbatas sehingga hanya unt nakes dan pdp rawat inap. Disarankan mencari sendiri rs yang bisa. Sabtu, 4 april 2020 Dilakukan rapid test di rsa ugm, hasil positif. Status naik menjadi PDP. Diminta isolasi mandiri lagi 14hr. Dijadwalkan untuk swab test hari senin. Senin, 6 april 2020 Dilakukan rapid test ke saya, hasil negatif. Tp krn pernah ada gejala ringan n kontak erat dg suami, maka di swab juga. Hasil swab saya n suami baru akan didapat 7-10hr kemudian. Sambil menunggu hasil, diminta merawat suami seolah2 sdh konfirm positif. Selasa, 7 april 2020, swab test yang ke2 Senin, 13 april 2020, hasil swab negatif
----------
Lamp.2. Obat Papa, 17 maret 2020, obat bisolvon batuk berdahak, vitamin becom-c, obat pilek, dari dokter klinik KKP Jkt 18 maret 2020, karena meriang, konsumsi sanmol 19 maret 2020, ke rs sardjito, tdk diberi obat 20 maret 2020, obat batuk habis, ganti sanadryl batuk kering. Sanmol berhenti, karena kedinginan. 22 maret 2020, obat pilek habis, tdk beli, sudah sembuh pileknya. Diresepkan antibiotik unt 5hr, azitromisin. 23 maret 2020, baru mengeluh nyeri sendi, diberikan biogesic. Cocok, tdk kedinginan. Diteruskan sd 3 hari. 27 maret 2020, vitamin becom-c habis, sambung ester-c dulu sementara. Antibiotik habis, membaik, nyeri sendi sembuh, tinggal batuk dikit, lemas dikit. Pagi ester-c, malam habatussaudah. 31 maret 2020, batuk sembuh, tinggal lemas dikit, blm sefit biasanya. 2 april 2020, beli vitamin becefort yg kandungan sama dg becom-c (becom-c di apotek kosong) malah lebih lengkap, trmsk vit E. 7 april 2020, Sd sekarang, becefort pagi dan habatussaudah malam. Ps. Semua obat dikonsulkan dahulu via wa dg teman dokter. Ttd istri, Ratih Damayanti (Saya setiap hari minum myk ikan, pagi dan habatussaudah malam sdh sejak sblm korona. Ketika tau suami sakit, saya tambahkan vitalong-c, jika tdk ada ester-c). ----------
Lamp.3. Jadwal Makan n Obat Papa: 06.30: makan pagi dg lauk sop ayam rempah. Minum vitamin becefort dgn pisang. 09.55: cemilan, telur rebus 1butir, 10.00: bejemur 10.15: minum air kacang hijau 12.00: makan siang sayur lauk lengkap. Buah pepaya. Minum myk ikan. 16.00: cemilan siomay/ekado kukus/bakpao (tdk boleh goreng2an), minum air kurma ajwa. 19.00: makan malam lengkap dg sayur dan lauk. Minum habatussaudah dg pisang. Ps. -Makanan/minuman/obat selain itu hrs sepengatahuan mama. -Banyak minum air putih hangat

Selasa, 26 November 2019

PEOPLE CHANGE, SO DO I!

Lucu juga baca komentar netizen tentang Agnez Mo yang bicara bahwa dia bukan berdarah Indonesia. Mereka bilang bahwa, gotta say i prefer the old agnes, but again, people change..

Terlepas dari kontroversi berita itu, tentang perubahan ini lah yang dari dulu menggelitikku. Aku saat ini tak pernah setuju dengan statement orang yang bilang ya ini lah aku, aku ya aku, terima apa adanya. Ketika itu berkaitan dengan hal-hal yang buruk, misal temperamental, kurang empati, nyinyir, baperan, dll. Terasa paradox tidak dengan pendapat paragraf pertama? Jadi manusia bisa berubah tidak?

Kalo aku sih cenderung setuju bahwa manusia sebagai makhluk sosial, makhluk dinamis, sangat amat bisa berubah. Berubah ke arah yang buruk saja bisa kok, masak berubah ke arah yang baik gak bisa? Misal, ada orang yang bilang, suamiku dulu orangnya sabar loh, ngemong, dll yang baik-baik. Sekarang kok berubah, jadi gak sabaran, agak kasar, dll. Lha itu bisa berubah? Kenapa giliran ke arah kebaikan orang cenderung berkata, ya ini sudah sifatku? Justifikasi? Hehe...

Suatu hari saat awal-awal aku menjadi manajer, saat itu usiaku 31th, manajer termuda saat itu. Masih temperamental, grusa-grusu, menyelesaikan masalah dengan emosi. Saat itu, direkturku berkata, sabar tih, ya itulah proses, kamu akan lebih bijak nanti di usia 40an. Dalam hati, meski gak ngeyel langsung dengan boss, aku berkata, ya mosok bisa orang berubah, aku ya aku, seperti ini, galak, tegas, apa adanya. Memegang 2 jabatan langsung, manajer akuntansi dan keuangan, waktu itu aku berpikir, jika tidak galak, tegas, mana bisa orang akan mentaati, sesuai posting, tak sembarangan menggunakan uang perusahaan.

Banyak yang terjadi setelah itu, proses pendewasaan diri, baik kusadari maupun tidak. Asal kita mau membuka diri, bahwa hidup ini adalah pembelajaran yang panjang. Banyak hikmah yang bisa kita petik. Terkadang banyak nasehat sederhana dalam kalimat sederhana. Aku ingat dulu saat masih menjadi staff, tapi bagian verifikasi bukti, kasieku pernah berkata sedikit saat aku berselisih dengan seorang kepala proyek. Nothing personal, katanya. Itu artinya, aku harus memisahkan perasaan personalku terhadap sang kepala proyek, dengan judgement profesi terhadap bukti. 2 kata itu kutulis besar2 di screen saver komputerku. Supaya ingat dan tidak baperan. Meski susah, saat itu, aku berusaha belajar hal sederhana itu. Dan kata2 itu tetap menjadi peganganku dalam bekerja, hingga aku pensiun dini. Kata2 yang sederhana, tapi penuh makna, jika saja kita mau memahaminya dan menerimanya.

Di usia 40, 5 tahun sebelum pensiun dini, aku harus mempersiapkan beberapa anak buahku untuk menjadi kandidat penggantiku. Aku berusaha mengajarkan banyak hal seperti yang dulu atasanku ajarkan padaku, termasuk bahwa orang bisa berubah, ke arah perbaikan. Tidak mudah sih, tapi saat itu sedapat mungkin aku tetap berusaha.

Dan kini, di usia 48 tahun, 3 tahun setelah pensiun dini, masih banyak orang yang berpendapat sama, denganku saat itu, saat usia 31, hehe, bahwa aku ya aku, tak bisa berubah. Dan mungkin akupun akan terus meyakinkan, tak akan bosan mengingatkan, siapapun itu, bahwa perubahan itu ada, dan bisa. Berubah tidak selalu harus dari A menjadi B, tapi mungkin dari A menjadi A' atau A". Jadi jangan pernah takut akan perubahan, jangan pernah bilang tak bisa, jika itu ke arah kebaikan! Salam..

Jumat, 15 November 2019

CANDRA

Begitu dia biasa dipanggil, dan memang nama lengkapnya hanya itu, tanpa nama depan maupun belakang. Anak buahku dulu waktu masih ngantor, anak yang baik, rajin, pintar, dan suka bercanda. Meninggal tahun 2016, di usia 31 tahun, masih muda. Dan bahkan sampai kini terkadang aku masih tak percaya. Kadang-kadang lupa, pengin cerita sesuatu yang biasanya kuceritakan padanya. Kadang merasa jika menemukan satu peristiwa lucu, masih teringat bahwa dia pasti akan tertawa..., jika masih ada. 11 tahun mengenalnya bukan waktu yang singkat. Awal pertemuan kami, dia adalah anak magang di kantor, di divisiku, divisi akuntansi. Dengan penampilan yang tak biasa, rambut dicat coklat model njegrak, enggak klimis, mata coklat, pakai softlense, karena aslinya dia berkacamata. Tapi jangan tanya hasil kerjanya, karena memang pada dasarnya anak yang cerdas, gampang diajarin, logikanya juga jalan, ketika coba kuuji dengan pertanyaan sederhana hitungan pajak. Rajin juga, pekerjaan cepat selesai. Sehingga ketika magang selesai, kutawarkan untuk kerja di kantor, meski dia cuma lulusan D2. Dengan melalui prosedur resmi psikotest dll, dia lulus. Sebagai end user tapi aku wanti-wanti sebelum dia test, belajar yang bener ya, pake jaket ya, soalnya tempat test nya dingin banget, jangan lupa sarapan dan bawa uang buat makan siang, karena test sampai sore, hehe.. Singkat cerita, dia diterima kerja. Alih-alih berpenampilan sama, entah siapa yang bilang, bercanda sambil nakut-nakutin, dia masuk kerja dengan penampilan berbeda. Rambut dicat hitam, agak rapih sekarang, softlense ganti yang bening. Kata dia disuruh pak Anu, jangan dicat rambut, soflense jangan warna. Aku bilang, gak masalah sih penampilan, asal kerjanya bener, ada-ada aja yang bilang tuh, haha.. Selama 11 tahun itu, Candra bekerja di kantor pusat, proyek dan kemudian kantor pusat lagi. Bahkan di tahun-tahun akhir hidupnya dia ambil kuliah S1. Aku mendorongnya untuk maju, berharap tinggi padanya, mengajarinya segala hal-hal teknis dan non teknis tentang akuntansi, keuangan, perpajakan. Cara menghadapi orang lain, dan belajar tidak membawa perasaan personal dalam bekerja. Candra adalah seorang Tionghoa, dengan saudara campur-campur. Ayah sudah meninggal, Ibu masih konghucu, saudaranya ada yang muslim ada yang kristen. Waktu penerimaan, dia masih kristen. Sekitar 2 tahun setelah bekerja, Ibunda meninggal, dan dikremasi. Otomatis dia yang tadinya yatim, sekarang menjadi yatim piatu. Segala hal kemudian seperti menjadi kewajibanku untuk menjadi Ibunya, meski dia tak meminta. Bahkan ketika pada pilihan akan menikah, aku bilang, ini anak baik banget sama kamu, pinter, sudah kerja mapan, mau cari apa lagi? Dan akhirnya memang mereka menikah, dan punya baby, yang masih berumur 4 bln ketika Candra meninggal. Sekitar 1 tahun setelah Ibunya meninggal, Candra memutuskan untuk menjadi mualaf. Bukan aku yang mempengaruhi atau siapapun, aku pun agak kaget mendengarnya. Rupanya dia di tempat kost juga dirawat oleh kakak-kakak muslim sekitarnya, dengan penuh kasih sayang. Dan dari kakak itu lah dia berketetapan hati menjadi muslim. Kemudian belajar sholat, belajar puasa. Aku masih ingat puasa pertamanya. Bagaimana dia lemas di meja depanku, gak bisa kerja, dan kerjanya hanya menghitung jam saja. Dan tahun pertama puasanya itu dia sukses hanya bolong 2 hari, yang sehari itu pas kusuruh ke kantor pajak, haus banget, liat tukang es kok enak banget bunda, katanya, haha... Dan tibalah saat dia harus disunat. 17 Agustus, tahunnya lupa. Kebetulan memang ada libur long weekend, tapi dia mengajukan cuti 1 minggu. Aku tanya, lama bener can, anakku laser langsung cepet. Katanya, ini sunat yang biasa bunda, kata kakak angkatku ini aja. Ya sudah, ijin kutandatangan, karena manut kakaknya saja lah toh yang merawat mereka. Ketika seminggu kemudian dia masuk, dengan pedenya dia tunjukkan video sunatnya yang mengerikan karena berdarah-darah. Meski heran ya kutonton saja, belum pernah lihat je sunat orang sudah dewasa. Ternyata di belakang kudengar suara tawa, seorang staff ku yang lain yang senior, dia lah yang memberitahu Candra bahwa dia "harus" memperlihatkan video itu, jika tidak extend cutinya tidak akan kusetujui, haha.. Juni 2016, hari Jumat, bulan Ramadhan, waktu yang indah untuk menghadapNya, waktu itulah Candra berpulang. Sesal tiada tara di hatiku, bahkan dalam menulis ini pun aku masih menangis, menimbulkan tanya anakku yang melihatku. Januari 2016 aku memutuskan pensiun dini. Mengapa cepat sekali kamu meninggalkan dunia ini? Aku menyesal tidak merawatmu dengan baik saat sakit, padahal rentang waktu sakitmu cukup lama. Dimulai dari tiphus 2x, kemudian bronkuspnemonia, diakhiri dengan menginitis. Bahkan ketika menengok kelahiran anakmu, kamu sudah terlihat kurus. Kamu tidak mengindahkan nasehatku untuk lebih menjaga kesehatanmu. Aku tidak bisa berbuat banyak, karena sudah di Jogja, tidak menghadapi langsung. Biasanya aku akan bawel tiap hari, sampai kamu mau ke dokter atau dirawat di rumah sakit. Candra, apa ada masalah dengan selain kesehatanmu? Aku juga tidak tahu, karena saat itu aku juga sedang sibuk dengan banyak urusan di Jogja. Apa aku kurang memberikan bekal padamu, hingga kamu tak sanggup menghadapi segalanya sendiri? Sungguh aku menyesal. Aku teringat, dulu waktu SMA aku punya anjing, namanya Z. Kupelihara dari masih bayi, sampai gede, sampai aku kuliah, lulus, kerja di Jakarta, dan menikah. Z mati di hari pernikahanku, saat aku sedang dirias. Jadi dengan sudah dirias lengkap dengan paes kerik aku menguburkan Z, di pekarangan rumah veteran. Waktu itu aku pulang rabu, akad sabtu, almh Ibukku sudah bilang bahwa Z sakit, kubilang ya mah, lagi ribet, nanti kubawa ke dokter senin. Lha kok sabtu mati. Seolah-olah sudah selesai tugasnya menjagaku, karena kini aku sudah dijaga oleh suamiku. Airmata menetes saat itu, ku tak peduli jika eyeliner jadi luntur lagi. Candra, meninggal di tahun yang sama saat aku pensiun dini. Lagi-lagi kesalahanku meninggalkan orang yang kucintai, dan kurang peduli lagi. Maafkan bunda ya, semoga engkau memaafkan bunda. Wajahnya sungguh ganteng saat meninggal, putih bersih, dan seperti hanya tertidur saja. Sepanjang mendampingi pemakaman aku hanya bisa menangis saja, dan semakin menjadi ketika ibu mertuamu merelakan aku menangis berlama-lama disampingmu sambil berujar, ibu sudah seperti ibunya sendiri, kenal 11 tahun lebih, saya ibu mertuanya saja baru kenal 2 tahun ini. Semoga engkau tenang disana, anakku... Jogja, 16 November 2019, Bunda yang tiba-tiba merinduimu...

Rabu, 25 Juli 2018

CABUT GIGI (PART 2)

Lanjut yaa..

Cabut gigi keenam baru saja kulakukan 6 hari yang lalu. Kali ini giliran gigi geraham nomor 5 kanan bawah yang sama-sama gingsul, tumbuh miring seperti yang kiri. Sudah dicoba dipertahankan, kali ini sudah gak bisa, dan malah merusak gigi-gigi sebelahnya. Harus tanya sana-sini, karena kali ini cabut gigi akan dilakukan di Jogja. 2 nama rekomen dokter sudah kukantongi, dari teman SMP, SMA dan keponakan. Akhirnya pilihan jatuh pada dokter S rekomen keponakan, karena katanya gak sakit dan gak bengkak, waktu dia operasi impaksi (gigi geraham tidur). Hari Jumat, aku telpon RS khusus Gigi dan Mulut untuk memastikan, ternyata doker S bukan SpBM. Aduh, muntir deh, takut, ya sudah gak jadi deh. Besok aja, di dokter B aja yang SpBM, kebetulan hari Sabtu jadi suami bisa antar.

Malam Minggu diantar suami dan anak-anak berangkat ke dokter B (praktek di rumah kalau sore), ternyata antri nunggu 3 orang lagi. Lihat-lihat, kok dokter praktek sendiri, gak dibantu perawat, agak njeper juga. Jadi ketika anak kelaperan dan minta makan malam dulu di mall deket situ, langsung kuiyain aja. Dan ternyata macet, selesai makan sudah jam 8 malem, praktek dokter sudah tutup. Ya sudah, besok Senin saja, kebetulan dokter B juga praktek di RS khusus Gigi dan Mulut. Pasti kalau di RS, Beliau dibantu perawat dan peralatan lebih lengkap. Singkat cerita, Senin menurut telpon, beliau praktek jam 12-14. Jam 13 aku sudah sampai RS, ternyata kata bagian pendaftaran di lantai 3, pak dokter sudah pulang, hanya ada 2 pasien pagi. “Lah gimana pak, tadi saya sudah telpon, katanya praktek jam 12-14”, kataku. Dengan santainya si bapak bilang, “Ya bagian depan kan enggak tau mbak”.. Gubrak deh, kalau bagian depan yang nomor telponnya di web gak tau, apa aku harus nanya pada rumput yang bergoyang? Yungalah..

Akhirnya dikasihlah nomor HP pak dokter B dan diminta janjian sendiri. Malamnya aku wa pak dokter, ternyata kata beliau seminggu ini tidak praktek di RS karena sedang membantu proses akreditasi akademik. Duh, nanti ketunda-tunda lagi deh. Ya sudah, Jumat aja lagi, gak papa lah dengan dokter S yang bukan SpBM, tapi kan rekomen keponakanku, dan praktek di RS. Hari jumat, tanpa telpon lagi, langsung datang ke RS, Beliau praktek jam 10-12. Setelah mendaftar, dipanggil, tensi, disuruh tunggu lagi. Sekitar setengah jam kemudian seorang perawat memanggil dan meminta maaf, bahwa dokter S tidak praktek hari itu. Aduuhh..

Ya sudahlah, pulang, dan dengan tekad bulat kuputuskan, gak papa deh nanti malem harus, ke tempat praktek dokter B yang Sabtu minggu lalu gak jadi, di rumah Beliau. Malemnya dengan nyetir sendiri, kutempuh jarak 9 km untuk cabut gigi. Hanya nunggu 1 pasien sebelumku, dan cepat. Setelah dipanggil, diperiksa, dan memang harus dicabut giginya. Deg-degan, so pasti. Posisi yang nyempil, miring dan gigi yang sudah agak rapuh membuat prosesnya agak lama. 4x kumur saat proses cabut, membuatku gemetaran. Darahnya banyak, meskipun yang terakhir sudah sedikit. Mana sempet air di gelasnya habis, harus isi dulu, nunggu, keburu darahnya netes-netes ini. Setelah selesai, lega sih tapi mesti istirahat dulu sebentar, duduk, supaya deg-degan dan gemetaran hilang, karena harus nyopir lagi ke apotek trus pulang. Di apotek menurut teori tinggal kasih resep, ternyata ditanya alamat dan nomor telpon. Masih gigit kapas nih, kasih kode tarzan yang bunyinya kira-kira, “Saya tulis aja ya mbak”. Gitu deh..

Singkat cerita, sampai rumah lepas kapas, minum obat, taruh kapas lagi. Lepas kapas, makan. Sampai tengah malam gak bisa tidur, karena perdarahan belum berhenti. Akhirnya gigit kapas lagi sejam. Lumayan gak berdarah lagi, cuman rembes, bisa tidur deh, meski paginya di bantal masih ada sedikit ceceran ludah bercampur darahnya. Minggu malam baru berhenti total rembesan darahnya, Alhamdulillah. Tapi senin pagi bawah lidahku tiba-tiba merah memar dan sariawan di lidah kiri kanan. Meski sudah wa dokter dan dibilang tidak apa-apa, tapi sorenya aku tetap kontrol ke dokter B. Obat pereda nyeri tetap diminum sampai dengan Selasa, dan sariawan hanya disuruh kumur daun sirih. Memar di bawah lidah katanya bukan dari akibat cabut gigi, tapi memang karena kondisiku yang sering memar tanpa sebab.

Ya sudah, buat anakku wedok, nanti kamu operasi impaksinya di Jakarta aja ya dek, hehe..


CABUT GIGI (PART 1)

Sudah berapa kali anda dicabut giginya? Aku udah 1, 2, hmmm…, 6 kali untuk 6 buah gigi. Dan tidak ada satu kalipun dari 6 kali pencabutan itu aku enggak deg-degan, hehe..

Cabut gigi pertama adalah geraham bungsu kanan atas. Waktu itu masih muda, gagah berani. Suami masih dinas di Departemen Transmigrasi, depan TMP Kalibata, jadi aku kesanalah, sekitar tahun 1997. Gigi geraham bungsu ini tumbuh miring, jadi memang harus dicabut. Tanpa pikir panjang, berangkatlah kesana, antri di Poli Giginya, lumayan cari gratisan. Setelah ditensi oleh perawat dan menunggu beberapa saat dipanggillah aku, dan ditangani oleh seorang dokter gigi laki-laki. Dengan tenaga penuh, sampai berdiri pak dokter ini, satu kaki naik ke kaki kursi pasien, tercabutlah gigi geraham bungsuku. Satu gigi utuh! Dokter giginya paten, hehe..

Cabut gigi kedua juga adalah geraham bungsu tapi yang kiri atas. Sama keluhannya, tumbuh miring, hanya saja kali ini sudah agak gempil sedikit, kena sikat gigi waktu gosok gigi. Berdasar pengalaman tahun sebelumnya, aku pilih Poli Gigi di Departemen Transmigrasi lagi. Saat pendaftaran aku bilang kalau aku minta ditangani dokter gigi laki-laki. Tapi ternyata aturan baru kita gak bisa milih dokter gigi mana untuk menangani. Waduh, piye iki? Ya sudahlah, diberani-beranikan, tanggung sudah jauh-jauh kesini. Dan benar, yang menangani dokter perempuan, setelah dibius, gigiku diremek dulu, baru dicabut sedikit-sedikit, thil thil thil, begitu. Gak berapa lama, diam, bu dokter malah asyik nonton tv, telenovela sepertinya, sementara aku masih mangap. Kutanya, “Udah selesai dok?”. “Belum. Bentar ya, tunggu dokter H (dokter gigi laki-laki), biar Beliau ambil tatah dulu, ini ada yang ketinggalan sedikit”, katanya. Haduh, tatah? Gigiku ditatah? Baru mikir aja sudah ngilu rasanya. Langsung saja aku nawar ama bu dokter dan katanya kalaupun ditinggal juga gak apa-apa, karena nanti bisa keluar sendiri, teorinya. Ya sudah, sigap aku pun turun dari kursi periksa dan pamit, ngacir, haha..

Cabut gigi ketiga terjadi bertahun-tahun kemudian, mungkin sepuluh tahun kemudian, tahun 2008. Si gigi bungsu yang ditinggal bu dokter akhirnya enggak nongol-nongol. Dan sudah beberapa kali gusiku bengkak, keputusan terakhir harus operasi. Haduh, kali ini aku harus cari dokter gigi yang paling kompeten dan harus sudah rekomen. Akhirnya sesuai rekomen seorang teman kantor, pilihan jatuh pada dokter spesialis bedah mulut (SpBM) di suatu klinik di Jalan Wijaya, Jakarta. Telpon dulu, janjian dan disebutkan keluhannya. Akhirnya pada hari yang ditentukan, datanglah kesana diantar sopir teman. Ternyata kliniknya komplit, bahkan rontgen sebelum cabut juga hanya di ruang sebelah. Ditangani oleh dokter gigi N, SpBM, dokter anestesi dan seorang perawat. Suntik bius tidak terasa sakit sama sekali, dan proses operasi tergolong lumayan cepat meski gigi agak susah dikeluarkan karena terletak agak dalam di gusi dan kecil, tinggal sepotong. Sungguh dokter yang ahli. Selesai operasi pun tidak bengkak dan tidak sakit. Seminggu kemudian buka jahitanpun tidak masalah.

Cabut gigi keempat adalah geraham nomor 5 kiri bawah. Ini cerita lebih dramatis lagi. Peristiwa terjadi sekitar tahun 2010. Awalnya adalah perawatan gigi karena berlubang, di dokter gigi klinik dekat rumah. Ternyata arsen bocor, sampai dengan mematikan gusi, dan tidak ada warning sebelumnya. Sabtu karena curiga kok gusi tiba-tiba menghitam, arsen dibuang dibersihkan oleh seorang teman yang dokter gigi di daerah Tangerang, dan ditambal sementara. Disarankan oleh teman itu untuk dicabut saja. Karena posisi gigi yang miring (gingsul di dalam), maka harus cari lagi dokter gigi SpBM. Kali ini di dokter Z, SpBM di RSPP, karena sebelumnya keponakan juga operasi 3 gigi tidur disitu dan rekomen. Di hari yang ditentukan aku datang kesana dengan diantar sopir. Ternyata pas kebetulan keponakan kontrol, jadi di dalam ruang periksa masih ada kakak. Jadilah ditunggu oleh kakak. Ternyata setelah dicabut 1 gigi, gigi sebelahnya (geraham nomor 4) juga harus dicabut, karena gusi matinya nyampai disitu, dan harus kuret gusi. Waduh, untung ditemani kakak, dan dokter yang menangani sangat tenang, ahli dan profesional. Dengan dibantu oleh seorang perawat yang terampil, sementara keterangan detail terpampang di video, camera kecil ke gigi
dan gusi. Saat suntik biuspun tidak terasa sakit. Akhirnya proses cabut gigi selesai dengan sukses, pendarahan cepat berhenti, tidak bengkak, dan tidak ada masalah saat lepas jahitan.

Sebagai cerita tambahan, setelah cabut gigi yang keempat ini, aku menuntut ganti rugi materiil tertulis pada klinik dan dokter gigi yang menangani perawatan gigi yang menyebabkan arsen bocor. Sengaja hanya permintaan ganti rugi materiil dan tidak termasuk immaterial supaya tidak berpanjang-panjang urusan. Sebesar biaya yang sudah dikeluarkan, plus nanti biaya kontrol dan pembuatan gigi palsu. Tuntutanku dipenuhi sesuai permintaan, dengan dibantu keterangan dari 2 orang teman SMA yang berprofesi sebagai dokter gigi selaku saksi ahli dari pihakku.

Cabut gigi yang kelima kembali aku lakukan di RSPP, dengan dokter yang sama, dengan menyetir sendiri, ditemani anakku, Desember 2016. Kali ini geraham kiri yang ke 6 yang sudah tidak bisa dipertahankan. Sudah dicoba ditambal berkali-kali. Saat ini sudah terlalu besar lubangnya. Akhirnya setelah ditambal sementara oleh teman yang dokter gigi, berangkatlah diriku dengan gagah berani ke RSPP. Janjian jam 12 ternyata sampai sana masih pada istirahat. Ya sudah makan sate ayam
legendaris dulu di depan RS. Setelah makan, antri dulu sebentar, barulah tiba giliranku masuk ruang periksa. Masih menawar aku, tanya dokter apakah gigi masih mungkin dipertahankan. Ternyata sudah tidak bisa dan harus dicabut saat itu juga. Ya sudah, berani lah wong sudah pengalaman dan dokternya ahli. Akhirnya sukses cabutnya, dan antri dulu di apotek untuk ambil obat. Obat harus diminum sejam kemudian, dan ternyata waktu masih di parkiran RS sebelum pulang, waktu sudah menunjukkan satu jam. Langsung aja anakku buru-buru nyuruh mamanya minum obat. Soalnya sudah dipesan sama pak dokter tadi, “Mas, nanti kalau sudah sejam, mamanya suruh minum obat ya, sebelum sakit. Nanti
kalau sakit, mas nya nanti dimarah-marahin”. Haha, rupanya takut dimarahin mamanya dia. Akhirnya sejam kemudian, nyetir sendiri, sambil masih gigit kassa kedua, nyampailah aku di rumah. Maklum, di Jakarta, meski jarak hanya 16 km, tapi macet.

Seminggu kemudian buka jahitan di Jogja. Kirain di dokter gigi umum bisa, ternyata harus ke SpBM lagi. Males. Jadilah ke RS swasta deket rumah aja. Tanpa bilang mau buka jahitan, dan gak ditanya, akhirnya masuk juga ke ruang periksa gigi. Ditangani dokter gigi umum perempuan yang masih lumayan muda. “Oh, buka jahitan bu. Bisa..”, begitu katanya dengan tenang. Ternyata agak lama, engek-engek-engek, gak kelar-kelar. Sampai agak sakit gusi. Dengan santainya, dengan tetap berusaha, bu dokter bilang ke perawatnya, “Wah, mbak, ini guntingnya kok gak tajem ya?". Waduh, udah tau gak tajem kok diterus-terusin ya? Tapi akhirnya bisa juga terangkat itu jahitan, padahal ada 4 jahitan. Lumayan lama. Keuar dari tempat tempat periksa, aku duduk dulu sebentar di bangku tunggu. Istirahat sebentar, sampai reda denyut-denyut di gusiku, hadeehh..

Minggu, 20 Mei 2018

PLURAL FAMILY

Kalau saja tidak ada yg bertanya, mungkin saya akan merasa biasa2 saja. Bagaimana rasanya dalam kehidupan sehari2, satu keluarga dgn dua agama Mbak? Tanya seorang teman. Hmm, sepertinya saat ini waktu yg tepat untuk sedikit bercerita.

Saya 8 bersaudara, Ibu Katholik, dan Ayah Muslim. Pada awalnya kami sama 4 Muslim dan 4 Katholik, tapi dgn berjalannya waktu dan usia, maka sampai dgn sekarang kami 6 Muslim dan 2 Katholik.

Masa kecil saya indah, sering diajak Ayah mengantar Ibu ke gereja, setiap hari minggu. Kami menunggu diluar, di tempat parkir mobil yg teduh, sambil saya mengumpulkan bunga2 tanjung untuk nanti dirangkai menjadi kalung di rumah.

Pada usia 5 tahun, saya mendapat hadiah mukena yg pertama, dari teman Ibu. Saya masih ingat sampai dgn sekarang karena saat itu saya sangat senang. Eyang putri dari pihak Ayah mengajari bacaan sholat, dengan cara saya berdiri dan memperagakan gerakan sholat, dan Beliau melafalkannya dgn keras. Begitu berulang2, tidak perlu susah menghafal, akhirnya saya hafal sendiri.

Setiap Natal tiba, adalah hal menyenangkan juga bagi saya. Ayah akan mengajak ke kantornya yg kebetulan banyak pohon cemara, dan memotong batang yg sedang untuk dipasang di rumah. Saya dan kakak saya, Mbak Rita, yang Katholik kemudian menghiasnya dgn kapas dan hiasan sederhana dari kertas emas/krep buatan sendiri.

Menginjak remaja, saya sudah mulai berpuasa. Adalah kebiasaan Ibu saya untuk selalu menyiapkan hidangan sahur dan berbuka bagi kami, dgn lauk yang berbeda2 setiap harinya. Tidak hanya itu, Beliau juga menunggui kami anak2nya untuk makan sahur dan buka. Kolak yg lezat, yg memakai sedikit nangka supaya harum, buatan Ibu. Saya selalu teringat rasanya sampai dengan sekarang. Pada akhirnya ibu saya pun ikut berpuasa, kata Beliau, daripada hanya bangun sahur saja.

Airmata ini menetes mengingat almh Ibu saya, di bulan Ramadhan ini. Kerinduan akan kehangatan beliau. Seorang Ibu pemeluk agama Katholik dan saya seorang Muslim. Jadi, siapa yg berani bilang keberagaman itu tidak indah? Tidak bisa berdampingan? Sebaiknya orang itu berbincang banyak dgn saya..

Minggu, 29 April 2018

BETON SONGO MBLEDHOS LORO GARI PITU

Jaman masih kecil dulu, Eyang Putriku dari pihak Papah sering bercerita dan bernyanyi. Cerita dan nyanyiannya banyak dan sarat makna. Maklum, Eyang Putri dulu guru ngaji waktu masih mudanya. Ini adalah salah satu cerita Beliau yg masih kuingat, tapi maknanya baru kucerna sekarang.

Alkisah, pada suatu masa, ada seorang Kyai, guru mengaji, ustadz, ulama, yg sangat mumpuni. Muridnya banyak dan sangat disegani. Suatu saat ada seorang pemuda miskin sederhana yg ingin berguru kepada Beliau. Akan tetapi entah mengapa Kyai ini belum berkenan. Tapi pemuda ini tidak putus asa dan terus memohon. Sampai Pak Kyai masuk dapur pun masih diikuti. Sangking jengkelnya, Beliau pun berkata pd pemuda itu, baik, ini hafalkan ilmu ku untukmu, "Beton songo mbledhos loro gari pitu"... Kebetulan memang saat itu Pak Kyai sdg didepan bara api, memanggang beton (biji nangka) 9 biji dan ada yg meletus 2.

Maka pulanglah sang pemuda itu dengan senang hatinya telah mendapatkan ilmu. Dihafalkannya dan diulang2nya kata2 itu dgn sepenuh hati. Tak lupa diamalkannya segala amal ibadah baik yg hanya dia lihat dilakukan para murid2 Kyai. Mengaji, sholat, puasa, berbakti pada orangtua, membantu sesama.

Hingga suatu ketika ada keinginan pemuda tersebut berhaji. Dengan niat teguh dan ilmu dari Kyai tadi, maka berangkatlah pemuda tsb berhaji, menaiki kapal dengan terus berucap, "Beton songo mbledhos loro gari pitu".. Singkat cerita setahun kemudian pemuda tsb telah kembali ke tanah air dan bertemu kembali dg Pak Kyai. Mengucap terimakasih atas ilmu yg telah diberikan hingga dia bisa berhaji.

Sekarang baru kumengerti makna dibalik cerita itu. Keteguhan hati. Doa yg sederhana, semoga jika diucapkan dg sepenuh hati, ikhlas hanya mengharap ridhoNya, insyaallah akan dijabah. Apalagi doa seorang Ibu, insyaallah akan menembus langit ketujuh, mengetuk langsung ke pintuNya. Insyaallah...
 

My Notes Template by Ipietoon Cute Blog Design