Minggu, 01 Mei 2022

10 Tips Puasa Sehat Untuk Penderita Maag Dan GERD

Selamat malam sahabat dan saudaraku terkasih. Menyambung tulisan blogku sebelumnya tentang bagaimana aku sembuh dari GERD, di hari terakhir Ramadhan tahun ini, alhamdulillah puasaku full dan alhamdulillah juga tidak konsumsi obat maag sama sekali. Sudah 2x Ramadhan.

Kali ini aku ingin berbagi tips, apa aja yang kulakukan untuk menjaga supaya lambung tetap aman selama puasa. Mengingat aku liat ada beberapa teman ataupun saudara di Ramadhan kali ini yang terpaksa batal puasa kemarin karna sakit maag atau GERD nya kumat. Sayang ya? Toh nanti tetap kita harus membayar puasa, hehe..

1. Jangan makan pedas maupun asam samasekali. Pedas ya, bukan berarti gak boleh cabe. Saya masih makan sayur oseng pake cabe 1, atau gudangan/urap dengan bumbu cabe dikit. Untuk makan malam (makmal) setelah berbuka dan sholat maghrib, bersama nasi dan lauk pauk. Tapi kusus untuk sahur, samasekali tidak boleh cabe. Jika merasa ada yang kurang karna gada cabe, bisa diganti dengan kremesan, krupuk, maupun bon nori. Untuk asam/acid, tidak boleh samasekali, meski itu berbentuk buah yang agak asam, seperti jambu, nenas, dll. Buah naga merah saya masih berani, meski pada saat setelah makan malam, tidak saat sahur. Intinya saat sahur harus clean eating, tanpa cabe & segala sesuatu yang asam (saus asam manis termasuk), supaya mempersiapkan perut enak seharian, dimulai pada pagi hari.

2. Jangan minum teh, kopi, susu. Demi puasa full, gpp dong yaa, cuman sebulan ini, hehe. Saya memang sudah samasekali gak minum kopi, tapi terkadang teh, susu, masih. Tapi kusus bulan puasa, semua tidak. Kalaupun pengen sekali-kali, saya bikin teh bunga camomile atau pun teh bunga telang (tanpa sereh), manis dengan gula pasir, saat setelah makmal. Seingat saya, Ramadhan kali ini hanya 2x. Cara seduh teh camomile pun hanya 3 menit ya, jangan lebih, karna bisa pait, gak ramah lambung juga. Jadi untuk buka, tetap hanya air putih hangat cenderung panas. Setelah terbiasa & seharian puasa, tetap enak kok, segaarr, dan hangat di perut, nyaman.

3. Jangan konsumsi rempah. Dalam bentuk minuman yaa. Kalau untuk bumbu dapur boleh, meski sedikit kalau saya. Kusus buka, sahur tidak boleh samasekali. Terutama jahe. Meski untuk alasan kesehatan, dll. Nanti perut panas. Wedang sereh pun saya berhenti dulu sementara.

4. Jangan makan terlalu banyak makanan berlemak, keju, coklat. Saya masih makan gorengan saat buka, kadang-kadang, tapi hanya 1. Cemilan yang ada keju, coklat, kayak kue-kue kering masih makan juga, setelah makmal, bukan saat buka, dan hanya kadang-kadang saja.

5. Jangan tidur setelah sahur. Ini penting, karna bagi penderita maag/GERD, saat pagi itu paling krusial. Jika sd Dhuhur perut nyaman, insyaallah sd Maghrib juga aman. Jika kuat, berkegiatan, jika tidak duduk saja sambil mengerjakan hal-hal yang gak bikin ngantuk. Tadarus kalo bisa. Kalo tidak mampu, atau hanya sebentar, baca, nulis, atau nonton tv. Kalo saya karna sudah terbiasa ya tidak tidur samasekali sd setelah Dhuhur. Bahkan setelah 3 jam sahur (yang katanya boleh tidur bagi penderita GERD), saya tidak tidur. Tidur pagi bikin lemes malah, dan mood berantakan. Sesuatu yang harus dihindari bagi penderita maag. Nanti paling jam 14 baru ngantuk, dan tidur dengan nyenyak, Alhamdulillah. Untuk yang masih bekerja, bisa nanti saat istirahat siang (kan gak makan tuh), bisa qailullah sebentar setelah sholat Dhuhur. Qailullah adalah tidur siang sebentar 30 menit sesuai ajaran Islam. Nanti saya sertakan linknya.

6. Selalu usahakan makan sayur dan buah di setiap sahur & buka. Nah, kalau gak ada bagaimana? Makanlah sayur rebus saja. Sebagai pendamping nasi & lauk yaa. Di kulkas saya selalu tersedia wortel dan buncis. Sayur praktis untuk rebusan. Bosan? Tidak. Jika sahur bisa dipakai sebagai pemanis rice bowl. Jika makmal, bisa dipakai sebagai pelengkap galantin, bestik, dll. Tinggal tambahi kuah saus pjka. Untuk buah, sekali lagi jangan yang asam yaa. Kalo saya pepaya aja. Ada pohonnya di kebun soalnya, hehe. Sekaligus bisa memperlancar ke belakang, secara saat kita puasa kemungkinan kita kekurangan cairan, terkadang membuat sulit ke belakang. Bosan? Tidak, merasa segar-segar aja tuh. Konsumsi sebelum tidur kalo aku, dan setelah makan sahur.

7. Berhenti konsumsi semua vitamin. Agak absurd ya? Tapi yakin aja, Insyaallah sehat. Ya, sekalian ama detox lah yaa. Sebelumnya saya selalu konsumsi vit C, minyak ikan, dan vit B komplek. Tapi saat Ramadhan saya drop semua. Bukan apa-apa, takut perut error aja. Soalnya meski sudah pilih yang aman untuk lambung, tapi tetap aja khawatir, mending enggak. Dan Insyaallah sudah cukup dengan buah & sayur.

8. Tetap berkegiatan seperti biasa, berhenti olahraga jika tidak kuat, perbanyak istirahat/tidur. Agak aneh memang nasehat ini, tapi beneran, saya berhenti berolahraga full 1 bulan ini, meski sebelumnya rutin walking 3-4x seminggu. Lemes? Gak juga. Saya tetap berkegiatan seperti biasa, berkebun, memasak, antar anak. Perbanyak istirahat, kalo saya malam hari bisa tidur 6 jam, kemudian siang 2 jam.

9. Jangan sujud saat sholat Subuh & Maghrib. Ini penting, karna waktu Subuh & Maghrib hanya sebentar dan kebetulan mepet dengan waktu makan (sahur & buka). Insyaallah, Allah Maha Pemurah. Saat sujud, ganti dengan duduk dan menundukkan kepala 30° saja. Supaya tidak terjadi reflux. Untuk sholat fardhu dan sunah yang lain, tidak apa-apa sujud, dengan catatan makan juga jangan terlalu kenyang, secukupnya saja, nasi sedikit.

10. Yang paling akhir dan utama, kurma. Jangan konsumsi madu, untuk kebutuhan gula kita. Madu terkadang membuat perut sebagian orang (seperti saya), error juga. Saya selalu makan kurma baik saat buka maupun sahur, sebelum konsumsi makanan yang lain. 1 butir kurma cukup, kalau tidak ada makanan pembuka lain, saya makan 3. Saat sahur, bangun tidur langsung minum air putih hangat. Tidak perlu segelas penuh kalau tidak kuat, semampunya saja. Kemudian sambil menyiapkan masakan sahur, ngemil kurma, paling tidak 1 butir saja. Kemudian saat buka, setelah makan malam, jika tidak ada minuman manis (juice buah, es buah, cendol, teh bunga) saya minum nabeez. Air kurma dingin, dibuat saat ashar. 3 kurma ajwa, buka, ambil bijinya, disuwir-suwir, tambahkan air 200-250cc, kalau saya pake botol kecil, kemudian tutup, masukkan kulkas. Segar, nikmat, aman di lambung. Gula tetap perlu selama puasa, meski tidak banyak, untuk kekuatan. Mungkin untuk puasa kali ini kekuatan saya ya di kurma ini. Kurma yang saya konsumsi bukan manisan kurma, tapi manis asli dari buah kurma. Biasanya saya beli kurma palm, yang masih ada batangnya. Untuk nabeez saya pakai kurma ajwa. Sudah trial & error, yang paling enak dan keluar manisnya ya kurma ajwa. Aneh ya, padahal kalo dikonsumsi langsung, kurma ajwa itu justru tidak terlalu manis. Tapi kalo gak ada, kurma apa saja boleh juga, gak masalah.

Sepertinya itu saja tip-tip nya. Banyak? Enggaklah, masih lebih banyak sayang Allah sama kita, eeaaa. Susah, ribet? Gak lah, merawat dalam diri masak gak mau ribet, yang merawat luar diri aja, skin care, lulur, meni-pedi, facial, lebih ribet lagi mau, hehe. Mohon maaf telat ya, hari terakhir puasa baru kasih tips. Harus tunggu dulu benar-benar puasa full tanpa obat baru berani sharing. Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun mendatang. Aamiin2 yra..

Stay healthy stay happy.. 🥰

Yogyakarta, 1 Mei 2022


Ref:

Tidur Siang, Sunnah Rasulullah SAW yang Dipraktikkan Barat | Republika Online Mobile - https://www.republika.co.id/berita/qn5pi8320/tidur-siang-sunnah-rasulullah-saw-yang-dipraktikkan-barat

Contoh menu buka puasa


Kamis, 21 April 2022

Ibuku, Kartiniku

Almarhumah Ibuku hanyalah lulusan SD. Karna disaat Beliau kelas 2 SMP, sudah menikah, dijodohkan dengan Bapak. Tapi meskipun begitu, pada waktu itu Beliau punya pandangan yang jauuh ke depan. Melebihi pandangan perempuan pada masa itu, sebagai seorang Ibu. Bahwa putra-putrinya harus sekolah tinggi, sampai dengan minimal Sarjana Muda (pada masa itu, atau D3 kalau sekarang). Tidak pandang bulu. Anak laki-laki dan perempuan sama. Meski kata Bapak waktu itu, "Wong wedok ngopo sekolah duwur-duwur, SMA cukup" (Perempuan untuk apa sekolah tinggi-tinggi, SMA saja sudah cukup).


Mungkin pada saat itu pemikiran Bapak praktis saja, karena anak 8. Mungkin yang dimaksud juga mengenai kecukupan biaya. Tapi kata Ibu saat itu, "Yo ora, kudu podo. Ben mengko entuk jodone yo cah kuliahan, dudu lulusan SMA thok". (Ya enggak begitu, harus sama. Supaya nanti dapat jodohnya anak kuliahan, gak cuman lulusan SMA saja).


Simpel, seperti itu. Saat aku tau alasan Beliau itu adalah saat aku sudah dewasa dan bertanya. Alasan itu sungguh diluar dugaan dan sangat visioner. Kalo supaya tidak hanya jadi lulusan SD seperti Ibu, aku sudah tau. Kalo supaya sebagai Ibu bisa pinter dan bisa nantinya mendampingi anak belajar, aku sudah tau. Tapi ini merupakan hal baru bagiku kala itu, dan tidak terpikirkan olehku. Ibuku, ingin mengangkat derajat semua anaknya! Tidak hanya yang laki-laki, tapi juga perempuan. Masyaallah..


Dan untuk mewujudkan keinginannya itu, Ibu tidak segan membantu Bapak dalam perekonomian keluarga. Dari sejak Beliau muda. Subuh Beliau sudah bangun, ke pasar, ngukus singkong, melumatnya untuk dibuat getuk lindri, dan dijual di depan rumah. Setiap jam 7 pagi, getuk lindri sudah habis, laris manis, alhamdulillah. Kemudian jam 8 Ibu mulai bekerja sebagai buruh jahit di tacik cina di daerah Jl Diponegoro, Jogja. Terkadang Ibu juga membawa lemburan jahitan di rumah.


Dari Tante Cho ini (nama tacik tsb), Ibu mencoba belajar jualan berlian, karna kenalan Ibu di pasar banyak. Dan alhamdulillah juga berhasil. Dan justru laba dari jualan berlian inilah yang lumayan. Bahkan saking lumayannya pernah sampai bisa untuk membeli rumah yang lain di dalam kampung Bausasran. Begitulah, Ibuku pantang menyerah, sampai dengan akhirnya anak-anak sudah besar, Ibu tidak jualan getuk dan buruh jahit lagi. Seiring meningkatnya karier Bapak, sebagai wakil kepala Balai, maka Ibu pun menjadi wakil ketua Dharma Wanita. Dan kemudian dipercaya memegang catering untuk pelatihan selama 3 bulan, bersama ibu-ibu Dharma Wanita lainnya. Itulah cikal bakal berdirinya Purvitasari Catering. Disaat tidak ada orderan catering partai besar, Ibuku pergi ke Jakarta, beli baju-baju grosiran di Tanah Abang. Kemudian di rumah diperbaiki lagi, disesuaikan standar butik. Dan dijual ke kenalan atau pasar. Pada akhirnya, Ibuku juga sempat membuka butik di rumah.


Itulah Ibuku, seorang wanita maju pada jamannya, berpikir kedepan, visioner, pantang menyerah, mandiri, dan mencintai sepenuh hati suami & anak-anaknya.


Pada akhirnya, alhamdulillah, semua putra-putri Ibu lulus sarjana muda. Bahkan 3 putra-putri terakhir menjadi Sarjana. Dan pada akhirnya, semua putri-putri Beliau mendapatkan anak kuliahan, insyaallah hidup berkecukupan, seperti yg diinginkan Almh Ibuku. 


Selamat Hari Kartini untuk ibu-ibu tangguh yang telah melahirkan putra-putri hebat di Negeri ini 💗💗💗


Yogyakarta, 21 April 2022


Saat menerima catering di kantor Bapak

Saat wisuda sarjana muda kakak no 2


Saat sedang menunggu kastemer di butik jl veteran jogja


Saat acara kantor sebagai wakil ketua Dharma Wanita


Saat bersama Bapak mendampingiku (anak bungsu) wisuda sarjana di UGM


Rabu, 02 Maret 2022

Saya Terkena COVID-19 Untuk Kedua Kalinya

Hari Minggu siang, selepas sholat dhuhur, tiba-tiba aja aku bersin-bersin gak brenti-brenti. Akhirnya kupencet aja hidung beberapa saat, pake tissue, sampai bersin berhenti. Ketika bersin berhenti, pileknya datang. Seperti biasa, maklum, pilek habis bersin aja, dibersihkan, kuras, habis tissue berlembar-lembar. Sembuh. Sudah. Gak tau kenapa, kayak alergi debu aja. Saat itu gak ada kepikiran mau pilek kek, atau mau flu kek. Tapi untuk jaga-jaga, karna kasus Covid Omicron lagi tinggi dong, karna tadi pagi anak cerita temennya 5 hari yang lalu yang datang ke rumah ternyata positive covid dong, WA ke Apotek, minta pesanan obat tetes mata yang tadi, ditambahin Decolgen. Sore mau kuambil sekalian pergi makan malam dengan anak.


Skitar jam 21 sampai rumah baru inget, gak mampir apotek tadi ambil obat. Tapi kok tenggorokan gatal juga ya, batuk2 dikit, pilek malah udah enggak. Yasudah, WA apotek lagi, minta OBH Combi Plus. Begitu obat datang, minum OBH dan minum obat hisap Sp-troche, terus tidur. Biasanya besoknya sudah membaik. Gak mau negative thinking. Jangan-jangan sugesti aja nih, karna denger ada yang positive terus gatal-gatal tenggorokan, wkwk..


Senin, minum OBH dan Sp-troche masih kulanjutkan. Tapi bukannya membaik, kali ini tenggorokan jadi sakit, seperti ada luka di dalam. Perih. Apalagi buat nelan. Batuk2 tambah sering, dan suara jadi serak, gerok kalo orang jawa bilang, ngebass gitu deh, suara nada rendah dan dalam. Serem deh pokoknya suaranya, dan cepet bgt, kemarin masih sehat-sehat aja, suara biasa aja.


Senin malam, udah gak tahan lagi deh eike, ini kayaknya gak kayak sakit biasa. Biasanya obat yang biasa kukonsumsi paling gak meringankan gejala, ini kok malah tambah parah. Perlu swab gak ya? Dari beberapa teman dan saudara yang kutanya kok malah nyaranin gak usah aja. Ada yang bilang obatnya bakalan itu-itu aja, ada yang bilang nanti gak bisa pergi-pergi loh. Laahh, bukannya kalo swab kan jadi jelas gitu, obatnya harus apa. Ibarat matiin nyamuk pake obat nyamuk, gak perlu pake bom nuklir, ato justru matiin gajah pake peluru tajam kaliber sekian, pake obat nyamuk ya gak matilah yaw. Dan kalo gak swab pergi-pergi ya kalo negative, kalo positive? Bingung, mending tanya dokter saja, manut yang ahli lebih enak, hehe..


Langsung buka aplikasi JKN pilih konsultasi dokter, chat dokter langganan di Klinik Faskes 1 BPJS. Jelaskan tentang gejala yang dialami. Belum ada jawaban. Dalam pikiranku, mau swab atau tidak kan tetap butuh ke dokter to? Karena obat biasa sudah tidak mempan. Sejam kemudian aku chat dokter lagi, menjelaskan bahwa 5 hari sblmnya aku ketemu suspect. Langsung dokter jawab, "Sebaiknya swab dulu bu, nanti kalau ada hasilnya baru kesini". Okedeh. Langsung buka aplikasi RS, dan daftar untuk swab antigen drive thru besok pagi.


Selasa pagi, antigen drive thru di salah satu RS di Sleman, yang dekat rumah. Cepat, karna sudah daftar dan bayar, biaya terjangkau, hanya 60k saja. Hasil jika ditunggu 30 menit, jika dikirim via WA 1 jam, karna ada proses antrian katanya. Yasudah, gak papa, 1 jam masih bisa nanti langsung ke dokter, karna waktu sudah menunjukkan pukul 08.30. Setelah sampai rumah, ditunggu sejam kok blm ada WA, untung dulu punya nomor WA Lab RS tsb, karna tahun lalu pernah PCR disana. Setelah ku-WA, diberikanlah hasilnya, positive.


Okedeh, langsung buka aplikasi JKN lagi untuk daftar dokter. Lha sudah tutup? Ternyata pendaftaran via onlen ditutup sejam sebelum jam praktek selesai. Haduh, telpon Klinik sajalah. Masih bisa ternyata, tapi harus datang langsung, dan antri, masih tunggu 14 pasien lagi. Duh, udah Klinik jauh (karna belum sempet ganti Faskes), antrinya banyak pulak, biasanya cuman 1-2 antri, tumben banyak. Nanti sore skalian ajadeh. Tapi obat batuk habis, untuk nanti siang gak ada. Oh iya, WA temen dokter yang di Dinkes saja, kirim bukti hasil swab positive dari RS dan minta advice sebaiknya kemana, tetap ke Klinik Faskes 1, Puskesmas, ato RS tempat swab tadi. Ternyata sama temen diarahkan ke puskesmas, okedeh, brangkaatt..


Ketika sampai depan Puskesmas, masih di mobil, di parkiran, WA temen lagi, "Aku udah di Puskesmas, njuk piye?". Jawab temenku, "Loh, sampeyan positive, di rumah aja. Dokternya udh ku-WA kok, nanti Beliau hubungi kamu". Weladalah, hihi, siyapp, untung WA sik, ra langsung mudun. Akhirnya keluar lagi dari parkiran, pulang. Untung juga Puskesmas nya dekat, gak nyampe 1 km dari rumah.


Sekitar jam 12 kurang akhirnya dokter Puskesmas telpon, menanyakan gejala, apa yang dirasakan, dll. Dan akhirnya diberikan obat 5 macam, termasuk antivirus. Vitamin C aku udah punya di rumah, hanya vitamin D yang belum, tapi kebetulan kosong di Puskesmas. "Gpp dok, nanti saya bisa beli ke apotek via WA", kataku. "Oke bu, ini obat sudah siap bisa kirim gosend ke Puskesmas", jawab bu Dokter. "Nggih bu dokter, maturnuwun..", jawabku..


Cerita selanjutnya bergulir seperti kronologi di bawah. Sebelumnya badan hanya kerasa nggregesi, jika ditemp masih dibawah 37.4°C, cuman sudah diatas 37°C. Bagiku yang biasa suhu tubuh hanya kisaran 36°C, sungguh sudah gak enak badan, berasa panas dalam. Tapi akhirnya sempat demam juga malahan hari Rabu-nya, sampai tertinggi 38.5°C. Dan itu rasanya gak karu-karuan, gak enak badan, kepala pusing juga, kliyengan kalo buat duduk atau berdiri. Menurutku, ini lebih parah dari kena Covid sebelumnya, Juni 2021. Wkt itu hanya nggregesi semalam, diminumin parasetamol juga turun. Ini tetep gak turun juga. Akhirnya anak lanang yang di Bandung WA menenangkan, "Tenang mah, itu tandanya tubuh sedang melawan virus". Yohh..


Hari ini adalah hari ke 11 dari gejala. Hari Rabu, 2 Maret 2022, alhamdulillah hasil antigen tadi pagi sudah negative. Tapi karena masih batuk sedikit, oleh pihak Puskesmas ditambah waktu isomannya selama 3 hari. Jika dirunut-runut, qadarullah kena Covidnya malah di rumah. Waktu itu malam hari, temen anak pamit sambil salim. Biasanya aku gak mau lo, tapi karna anak ini sudah kuanggap seperti anakku sendiri, anak asuhku, ya kuterima. Dan sepertinya dia baik-baik saja, sehat. Dan karna sedang asyik nonton tv, habis disalimin, aku gak cuci tangan atau minimal pake hand sanitizer. Lha kok besoknya ternyata dia demam. Dan dia gak tau lo, taunya pas mau masuk suatu tempat, cek suhu, ternyata 38°C, duh..


Gejala yang paling terasa Covid ini adalah batuk kering, yang sangat gatal, sampai sakit perut ini, njarem kalo orang jawa bilang, sangking seringnya batuk. Sakit tenggorokan, yang seperti ada luka, dan diobati dengan antiseptic biasa gak sembuh (kemarin juga dikasih antibiotics sama dokter Puskesmas). Anosmia dan ageusia malah enggak. Beda dengan Covid sebelumnya, yang gak batuk, gak sakit tenggorokan, hanya nggregesi, tapi anosmia, ageusia. Jadi, siapa bilang varian ini lebih ringan? Menurutku semuanya tergantung daya tahan tubuh kita. Kebetulan awal bulan memang aku sempat sakit diare karena keracunan makanan sudah ke dokter dan bukan Covid. Tapi mungkin masih masa pemulihan, karena kemarin itu seminggu masih agak lemes juga. Jadi tubuh baru mulai mau fit lagi, baru enak makan lagi, baru mau mulai olahraga lagi, trus kena virus ini, imho..


Jadi semuanyaa, tetap jaga kesehatan yaa, prokes jangan lupa, tidak hanya di luar rumah, di dalam rumah juga. Salam sehat..! 🤗


----------


Kronologi:


11-13 feb, suspect nginep di rumah

15 ketemu lagi, salim, tapi tidak nginep

16 suspect demam

18 malam suspect test positive


1. Minggu siang, 20 feb, saya bersin2 

Malam mulai batuk2 dikit, tdk pilek, tdk bersin2. Tenggorokan gatal bgt, minum obh n hisap sp-troche, diteruskan sd hari ini

2. Senin, 21 feb, batuk n suara serak, getok, ngebass, tenggorokan sakit. Temp pagi 35.6, saturasi 95-96, sore 36.6, sat 96-97.

3. Selasa, 22 feb, msh batuk dikit, suara ngebass & gerok, tenggorokan sdh gak trll sakit, tapi gatel bgt lagi. Akhirnya memutuskan test antigen, hasil positive. Temp pagi 36.5, sat 97, sore 37, sat 96, malam 37.4 sat 96, mulai minum obat antivirus n antibiotics.

4. Rabu, msh batuk, tenggorokan sdh gak terlalu sakit gak gatel, malah demam. Temp 38.1, sat 95-96, stlh mnm obat temp 36.8, siang 38.1 lagi, sore sempet 38.5..

5. Kamis, msh batuk, demam sdh turun, alhamdulillah, pagi 37.1, malam 36.5 sat 95

6. Jumat, masih batuk, malah ada pilek sedikit juga. Pagi 36.0, sat 96, mlm 36.1 sat 96.

7. Sabtu, masih batuk, kadang ngikil malahan. Pagi 36.2, sat 95.

8. Minggu, masih batuk, tenggorokan gatal, pilek sdh enggak. Pagi 36.2, sat 94.

9. Senin, masih batuk. Pagi 36.4, sat 94.

10. Selasa, masih batuk sedikit, siang temp 36.0, sat 96

11. Rabu, masih batuk dikit, pagi 35.7, sat 95, antigen hasil negative


Obat dari pusk:

1. Parasetamol, demam/nyeri

2. Acetylcysteine, batuk

3. Cefixime, antibiotics

4. Cetirizine, pilek/gatal tenggorokan

5. Favipiravir, antivirus


Obat beli sendiri:

1. Ester-c, vitamin C

2. Tride, vitamin D

3. Myk ikan

4. Vit B komplek IPI






Sabtu, 05 Februari 2022

SAYA SEMBUH DARI GERD DAN LPR

Akhirnya saya beranikan diri untuk menulis blog ini. Dan memberanikan diri untuk menuliskan kata sembuh. Meski pada kenyataannya yang terjadi adalah berdamai dengan penyakit ini, dan menjadikan dietnya sebagai lifestyle.


Tapi kata-kata sembuh ini sangat krusial, karna mempunyai efek ganda terhadap kesembuhan (dalam tanda petik) itu sendiri. Jika tidak maka yang terjadi adalah anda merasa sakit terus, menderita terus, tersiksa terus, merasa tidak bakalan bisa sembuh. Sehingga itu membuat efek domino, melingkar, membuat stress, yang pada akhirnya akan benar-benar terjadi bahwa GERD/LPR anda tidak akan pernah sembuh, sering banget kambuh, dll. Jadi mindset itu penting dalam proses ini.


Pertama kali saya didiagnosis GERD adalah awal tahun 2016, setelah 3 bulan sakit tidak jelas dan ganti dokter sampai 3x. Waktu itu sungguh saya tidak tau, bahwa kesulitan bernafas saya akibat dari penyakit lambung. Di dokter ahli gastro di Jakarta ini, yang diobati tidak hanya penyakit lambung saya, tapi saya diberikan obat penenang, obat lambung, dan pengencer dahak (obat penenang hanya diberikan selama 10 hari). Jadi pengobatan secara simultan. Dan lama. Kalau tidak salah selama 3 bulan, karna ingin sembuh tuntas saya rajin kontrol, setiap obat habis dan masih ada keluhan, saya ke dokter yang sama lagi, terus sampai keluhan hilang sama sekali, baik keluhan utama maupun penyerta. Itu yang kadang tidak ditelateni oleh teman penderita GERD juga. Dan selama pengobatan tsb, saya diet ketat, semua pantangan (dituliskan oleh perawat disana) tidak saya makan/minum. Saya turun 3 kg karna ini. Di kontrol yang kesekian, dokter sempat memberikan ultimatum, jika berat badan (bb) turun terus akan diendoskopi. Dan alhamdulillah, di kontrol terakhir bb saya sudah stabil kembali.


Kemudian rajin olahraga ringan 3-4x seminggu selama 30 menit, dan saya memakai logika sederhana bahwa pijat/refleksi bisa mengurangi ketegangan, relax, mengurangi kecemasan. Jadi saya kombinasikan, secara spiritual saya ikut pengajian seminggu sekali, dan pulangnya pijat refleksi selama 1 jam. Dan itu ternyata efektif, hehe.. 


Dan setelah sembuh, kebetulan saat itu pas bulan Ramadhan. Meski masih minum 1 jenis obat, alhamdulillah puasa saya lancar. Dan setelah lebaran, alhamdulillah saya tidak minum obat sama sekali. Selama puasa, bb saya turun 3 kg lagi. Jadi saat lebaran total bb saya turun 6 kg. Tapi saya merasa sehat, segar, badan enak, ringan.. 🙂


Meski begitu, diet makanan/minuman masih saya lanjutkan, lifestyle untuk tidak tidur/tiduran setelah makan dan menghindari membungkuk (seperti posisi ruku' atau sujud), yang kepala lebih rendah daripada perut setelah makan, masih saya ikuti. 2 tahun saya bebas sama sekali dari GERD, dan tidak minum obat apapun. Hingga tahun ke-3 saya mulai sedikit demi sedikit melonggarkan diet makanan/minuman saya. Daann awal th 2019 GERD saya kambuh lagi. Karena setahun penuh itu saya coba berbagai macam jenis kopi (tanpa gula, katanya aman untuk lambung), dan saat tahun baru sempat minum soda. Bukan salah kopi/soda, tapi memang sebagai penderita GERD kita dituntut untuk titen (mengingat) makanan/minuman apa yang membuat GERD kita kumat. Tapi karna sudah pernah, saya tidak panik lagi, kebetulan saat itu akan MCU di kantor suami di Jakarta, sekalian minta obat yang sama ke dokter umum, obat lambung dan pengencer dahak. Karna penasaran, saya sempat bertanya ke dokter THT saat sudah kembali ke Jogja, apakah saya kena LPR, dan jawabnya iya. Kemudian disarankan ke dokter gastro terkemuka di Jogja. Tapi demi kenyamanan saya sendiri (nyaman sangat penting untuk penderita GERD/LPR), saya memilih rutin kontrol ke dokter internist di Jogja yang sudah kenal, jadi lebih santai pengobatannya. 3 bulan juga pengobatan ini, di 2 bulan terakhir hanya via wa (keuntungan dokter kenalan). Olahraga yang tadinya mulai kendor saya rajinkan lagi, refleksi mulai lagi. Dan sembuh, alhamdulillah..


Kemudian diet makanan/minuman tetap saya jalankan. Lifestyle juga. Selama setahun. Tahun kedua saya coba kendorkan lagi, tapi saya sudah sama sekali tidak minum kopi atau soda. Karna kata dokter internist saya boleh dicoba sedikit-sedikit makanan/minuman yang dipantang jika sudah sembuh, sambil diingat kalau perlu dicatat, mana yang tahan, mana yang tidak. Daann, terjadi lagi, saya kumat di awal tahun 2021. Kali ini karna coklat (anak dapat coklat valentine banyak, ibunya yg habiskan, hihi), teh (teh di warung lebih kental dan pahit, ternyata saya gak kuat), dan mie instan biasa, bukan mie instan sehat. Meski saya tau obat sama dan bisa dibeli bebas, saya gak berani sembarangan (karna sebenarnya dalam kemasan obat tertulis harus dengan resep dokter), takut ketergantungan dan malah nanti jadi kumatan (karna tidak tuntas pengobatan). Saya pun ke dokter internist yang sama lagi. Obat tetap sama, dan jika masih ada keluhan saya wa dokter tsb. 2 bulan pengobatan, disertai olahraga dan banyak istirahat di rumah (belum berani refleksi karna pandemi). Dan lagi-lagi ketika sembuh pas bulan Ramadhan. Dan alhamdulillah selama puasa saya tidak minum obat samasekali, dan puasa lancar sebulan penuh, full, hehe..


Sekarang tahun 2022 awal, sudah 1 tahun sejak saya sembuh dari kumat yang terakhir. Saya masih diet, pantang sama sekali untuk makanan/minuman yang saya gak tahan. Tapi kendor untuk yang lain, masih mencoba mana makanan yang saya tahan walau sedikit. Pernah saya coba untuk makan pedas sedikit, masih bisa. Tapi pernah kebablasan, pedas lumayan masih saya makan juga. Akhirnya perut panas, tapi belum kumat yaa. Langsung saya buat puding cincau hitam sebagai cemilan. Ini saya cocok karna adem di perut, dan setiap pagi bangun tidur sebelum makan, minum air tajin (air rebusan beras saat masak nasi). Alhamdulillah seminggu sembuh tanpa obat (saran saya, jangan sedikit-sedikit obat njih). Ini sekedar sharing aja, setiap orang ada yang cocok ada yang tidak. Monggo diambil jika bermanfaat, jika tidak abaikan saja.


Olahraga saya tetap rutin sekarang, 3-4x seminggu. Memakai aplikasi walking dan time reminder. Pijat refleksi lakukan sendiri, terkadang pakai minyak kayu putih sebelum tidur. 


Setelah melalui beberapa tahun dengan penyakit ini, ada beberapa catatan yang saya dapat. Yang 1, penyakit ini tidak datang tiba-tiba, pasti sebelumnya pernah sakit maag, dll, tapi tidak dirasakan. Di kasus saya, th 2004 sebenarnya pernah maag, gak enak makan, mual, karna ada masalah keluarga. Belum masalah kesibukan pekerjaan, anak-anak, kurang olahraga. Tapi disepelekan. Tahun-tahun berikutnya ya tetap makan/minum apa aja, sering telat makan kalo malam (sampai rumah sudah capek), setelah makan langsung tidur. Saat setelah sahur juga langsung tidur, meski saat bangun perut, dada, panas, cuek aja, langsung mandi, berangkat kantor. Sekarang hal itu gak pernah saya lakukan. Habis sahur ya tidak tidur lagi, berkegiatan. 


Dan saya sangat suka coklat, dari sejak kecil. Bahkan dulu setiap ngantor, di tas, selalu ada coklat bar. Untuk cemilan jika tiba-tiba lapar di perjalanan. 22 tahun saya ngantor lo, sebelum pensiun dini, itu bukan waktu yang sebentar. Dan ternyata, setelah saya browsing, coklat ini makanan yang bisa melemahkan otot sfingter. Otot berbentuk cincin yang dapat membuka dan menutup, dan berfungsi mencegah makanan, udara, dan asam lambung bergerak ke arah sebaliknya (reflux). Saya gak pernah sakit perut yang sampai melilit, atau serasa menusuk sampai punggung. Tapi ternyata mual dan reflux sering, saya abaikan. Karna reflux hanya berasa seperti sendawa tapi makanan/minuman ikut sedikit, dan kadang pahit.


Yang ke-2, penyakit ini kombinasi antara 3 hal, kelelahan, stress, dan makan/minum yang tidak benar. Jika hanya 1 atau 2 masih bisa diatasi. Tapi jika 3 hal itu terjadi bersama-sama, maka secara empiris bisa dipastikan GERD akan datang. Untuk kelelahan bisa diatasi ya. Batasi kegiatan, jangan terlalu capek, apalagi jika sudah berumur (saya usia 51 tahun kini), jika terpaksa tidak bisa dan capek, bisa diatasi dengan pijat. Waktu saya didiagnosis GERD pertama kali tahun 2016 itu karna saya akhir 2015 sebenarnya sudah flu, tapi selama januari-maret mengharuskan saya bolak-balik jakarta-jogja, bisa seminggu 2x. Baik naik pesawat maupun kereta api. Jadi jika tadinya hanya stress dan makan/minum masih belum memunculkan penyakit. Ketika plus lelah yang tidak dirasa hingga tidak diatasi, maka bum! Terjadilah..


Untuk makan/minum juga bisa diatasi dengan pertama pantang total dahulu sampai pengobatan selesai, kemudian bisa diperhatikan mana yang kita tidak tahan samasekali, ato bisa tahan sedikit. Dan masih banyak makanan/ minuman yang enak yang boleh, jangan fokus pada yang gak boleh. Misal teh nasgitel (panas, legi/manis, kentel/kental) gak boleh dan gak tahan, masih ada teh camomile, teh bunga telang, dan teh sereh daun kelor. Hangat, nikmat dan gak kalah enak. Juice buah tertentu juga masih boleh, sehat, segar, dan nikmat. Dinikmati saja, jangan terlalu merasa menderita, toh semua makanan sudah pernah kita coba dulu-dulu. Jangankan kita yang sakit, artis-artis muda yang sehat bugar tapi ingin langsing aja mereka diet makanan, healthy food. Mereka gapapa, hepi-hepi aja, cenderung bangga malah. Makan healthy food gitu loh. Jangan dengarkan omongan orang yang seolah-olah merasa kasihan dengan kita, dengan diet kita. Toh jika kita sakit, mereka juga tidak ada disisi kita bukan? Hehe..


Nah, yang terakhir stress, susah dihindari. Orang hidup pasti punya stress, bohong kalo tidak, meski sedikit. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola stress. Jika saya, saya kelola dengan dilawan, dengan olahraga ringan rutin, pijat refleksi, sharing dengan teman/saudara yang dapat dipercaya, jalan-jalan/dolan/refreshing, hindari toxic people, dan meningkatkan kehidupan spiritual kita. Jangan salah lo, dalam agama apapun itu juga terkandung nasehat-nasehat yang sebenarnya ada dalam ilmu psikologi dasar. Jika semua belum bisa anda lakukan, karna terlalu berat, jangan sungkan untuk berbicara dengan orang yang profesional di bidangnya, para psikolog. Insyaallah, semoga penyakit GERD/LPR anda teratasi.

Yakin sembuh yaaa.. 💕


Referensi:

1. https://youtu.be/VPas_ZzwcV4

2. https://www.tribunnews.com/kesehatan/2020/02/20/cara-mengatasi-gerd-jangan-makan-berlebihan-hindari-coklat-hingga-minuman-beralkohol

------

Catatan:

Kumat th 2016, kecapekan

Kumat 2019, kopi dan soda

Kumat 2021, coklat, teh dan mie instan


Diet GERD:

Tidak boleh pedas, asem/acid (seperti sakit maag pada umumnya). - ini pasti, tidak bisa ditawar lagi

Untuk GERD ditambah tidak boleh lemak, coklat, teh, kopi, susu (skim boleh), keju, mie kuning, roti (toast boleh, atau saat perut tdk kosong boleh), sayuran bergas (kol, brokoli, kembang kol, sawi putih, lobak), buah bergas (durian, nangka). - ini setelah sembuh tergantung masing2 orang

Diet Fatty Lever (saya juga punya fatty lever, hasil usg dari sejak masih kerja, dan hingga tahun kemarin masih ada, meski hanya ringan):

Hindari gorengan



Minggu, 27 Juni 2021

Alur Pemeriksaan Covid

Jika Positif


Kapan saat harus mulai periksa covid? Kemarin saat anakku laki2 batuk, masih kuobati obh combi plus saja, karna tidak disertai demam. Tapi di rumah sudah kamar tersendiri, dan jika keluar kamar memakai masker. Waktu itu aku sudah berkata sama anakku, "Nanti jika hari ke-5 tidak membaik, test antigen ya mas? Meski tidak demam?". Dan anakku mengangguk. Soalnya menilik kasus papanya tahun lalu yg positive covid hanya batuk ringan, tidak demam.


Ketika hari ke-5, aku yang tidak batuk tapi malah demam, memberikan alat termometer tubuh ke anakku dan ternyata dia juga demam. Langsung pagi itu kuminta anakku dulu ke rs, atas biaya sendiri, untuk test antigen. Dan hasilnya positive. Langsung siangnya aku dan anakku perempuan test antigen juga, atas biaya sendiri, dan hasilnya aku positive dan anakku negative. Kamipun misah kamar. Kamar utama justru dipakai anak perempuan, karna ada kamar mandi dalamnya. Kami semua pakai masker jika keluar kamar. Prt pulang hari dan tukang kebon langsung kami stop untuk tidak masuk dulu. 


Esok harinya, berbekal hasil test antigen positive, dibantu teman yang dokter di rs rujukan covid, kami mendaftar untuk periksa ke klinik kusus covid. Kami pun diminta rontgen dan cek lab darah. Pulangnya saat akan bayar di kasir, ternyata tidak dipungut biaya, hanya saja diminta untuk tandatangan surat pernyataan biaya ditanggung kemenkes. Karena hasil masih 3 jam lagi, kami diminta pulang ke rumah, nanti hasil di-wa.


Sore sy menerima wa dari rs bahwa karena hasil rontgen dan lab darah anak tidak bagus, diminta untuk rawat inap. Akhirnya saya mengantarkan anak untuk rawat inap, sekaligus mengambil hasil rontgen dan lab saya. Di rs kami ke klinik covid lagi, bertemu dokter, dan anak sy langsung diinfus. Ternyata kami berdua harus swab pcr untuk memastikan positive covid. Termasuk saya, meski hasil rontgen dan lab saya bagus. Saat membayar obat saya ke kasir, ternyata lagi lagi saya hanya disodori surat pernyataan biaya ditanggung kemenkes, tandatangan saja. Dan diminta menyiapkan BPJS anak saya (yang ternyata non aktif, cek via aplikasi JKN), untuk jaga-jaga jika nanti diperlukan, apabila anak saya sudah negative tapi tetap harus dirawat di bangsal. Kemudian bersama perawat, saya antar anak ke lantai 4, ruang isolasi. Ketika anak saya masuk, saya menunggu sebentar diluar untuk urusan administrasi. Ternyata lagi, saya diminta tandatangan surat pernyataan biaya ditanggung kemenkes.


Hasil swab pcr anak sy keluar hari berikutnya, dan benar positive. Sedangkan hasil pcr saya baru keluar 3 hari kemudian juga, hasil positif. Tapi saat itu saya sudah tidak demam dan hanya batuk ringan. Bisa beraktifitas di rumah seperti biasa.


Di rumah, saya langsung lapor RT dan meminta tracing untuk prt pulang hari saya, yang jika di rumah saya tidak memakai masker, dan sering setrika baju di kamar anak. Tracing dilakukan esok harinya dengan test antigen. Ketika saya akan mengganti biaya (sebelumnya saya kira dibayar dahulu oleh adik ipar yang rumahnya sebelah saya), ternyata sudah dibayar oleh satgas covid RW. Uang satgas darimana? Dari saweran warga sebelum-sebelumnya (termasuk saya pernah menjadi donatur). Sebagai tambahan informasi, prt saya ini pernah isolasi mandiri jaman pilkada tahun lalu, karena suaminya (yang akan jadi panitia pilkada ikut skrining) positive rapid test, dan kala itu menunggu hasil swab pcr masih semingguan, untuk biaya hidup ditanggung satgas covid RW juga. Alhamdulillah hasil antigen prt saya negative.


Saat antibiotik saya habis, bersamaan dengan diperbolehkan pulang anak saya. Sekalian jemput, saya kontrol dan diberi obat lagi. Tapi hanya vitamin, dan masih ditanggung kemenkes. Kemudian kami pulang dan diminta untuk kontrol kembali seminggu kemudian. Anak saya juga masih dibekali obat, karna hasil pcr yang kedua belum keluar. Anak say di-pcr ulang tepat pada hari keluar dari rs. Jadi diperbolehkan pulang karna tanda klinisnya sudah baik, yaitu scan paru, rontgen, dan lab darah sudah baik. Sedangkan untuk saya yg hanya bergejala ringan, tidak ada pcr ulang (begitu menurut buku pedoman rs).


Seminggu kemudian, kami kontrol kembali. Dan dinyatakan sehat. Diberikan surat sehat. Tidak diberikan obat ataupun vitamin. Hanya saja untuk maintain kesehatan dianjurkan konsumsi vit D 1000iu, vit C, dan antioksidan (bisa habatussauda, madu, atau brokoli dan tomat), atas biaya sendiri. Dan tidak tiap hari, hanya 1-2x seminggu. Saat membayar ke kasir, ternyata sudah tidak ditanggung kemenkes, kami bayar 100rb untuk berdua.


Besoknya, untuk lebih meyakinkan dan supaya orang rumah nyaman, saya test antigen nasal di rs swasta, atas biaya sendiri, dan hasilnya negatif.


Jika Negatif


Seminggu kemudian, ternyata anak perempuan batuk pilek, tidak demam. Karna kontak erat dengan kami, maka pada hari ke-2, saya berinisiatif, atas biaya sendiri, membawa anak test antigen. Dan ternyata hasil negative.


Maka besok sorenya saya antar anak ke dokter keluarga untuk mendapat obat flu, karna saya lihat anak saya kesulitan bernafas karna hidung tersumbat. Ternyata oleh dokter keluarga disarankan untuk swab pcr, mengingat kontak erat tadi, dan diminta nanti jika sudah hasilnya di-wa ke beliau. Konsultasi dokter dan obat atas biaya sendiri.


Dan besok paginya, hari ke-4, kamipun swab pcr di rs swasta terdekat, atas biaya sendiri juga dan hasilnya kami terima sore hari menjelang malam, negative, alhamdulillah..

Rabu, 16 Juni 2021

Saya Dan Anak Sembuh Dari Covid-19

 "Kamu batuk ya le?", tanyaku pada nak lanang (Mastio) begitu dengar dia pagi-pagi cegreh-cegreh (batuk-batuk kecil). "Enggak, keselek mah", jawabnya. Begitulah anakku, mirip dengan papanya, sakit kalau cuman sedikit dianggap bukan sakit, dan tidak mau berterus terang. Itu hari Jumat. Yasudah, karna aku sudah hapal, ya kudiamkan saja. Mungkin para lelakiku gengsi kalau dibilang sakit.


Tapi 2 hari kemudian, yaitu hari Minggu, cegreh-cegrehnya gak sembuh juga, tanpa kutanya lagi, langsung kubelikan OBH Combi Plus, obat batuk yang dia cocok dari kecil. Ketika kuulurkan obat itu padanya, dia tak menolak. Dalam hati aku berkata, "Oh, sakit beneran berarti dia". 


Senin sore, bangun dari tidur siang yang entah kenapa sangat enak hari itu, aku merasa badanku ngethok-ngethok (linu-linu), apa aku meriang ya? Pikirku dalam hati. Kuraba dahiku, ah, tidak panas kok. Ya sudah, bangun dari tidur aku langsung mengerjakan kerjaan rumah, menggeser-geser perabot, dibantu anakku perempuan (De'rara), karna pembantu pulang hari belum datang. Mau ada tukang semprot nyamuk ke rumah soalnya. Malamnya aku tidur biasa saja, dengan harapan, ah, buat tidur juga besok badan udah enakan.


Paginya aku bangun dengan badan linu sudah berangsur hilang, tapi kok sepertinya dahiku hangat ya? Lalu dengan sigap aku mengukur suhu sendiri dengan termometer badan. Lha kok 37.5°C? Wah, sudah termasuk demam ini kalau sesuai artikel yang kubaca di internet, meski badanku tidak merasa demam, hanya meriang. Menurut artikel itu, di Jakarta, para karyawan pabrik dilarang untuk masuk kerja jika suhu lebih dari 37.3°C. Lalu aku ingat anakku lanang, kemarin-kemarin sih kutanya dia bilang gak demam. Tapi tetap saja, sekarang tanpa kutanya, kusodorkan saja alat temp-ku, "Ini, coba cek suhumu", kataku lugas padanya. Yasudah, dia menurut saja. Ketika mengangsurkan alat temp kembali dia sambil berkata, "Mamboo, tempku 37.8". Lhaa yak opo, kui demam jenenge maasss, haduh. Gitu ya ditanya mama dari kemarin bilangnya enggak enggak muluu.. Katanya lagi, "Oh iya to? Padahal jam 3 pagi tadi aku sudah minum biogesic loo". Ya ampun, ternyata semalam dia sudah susah tidur karna merasa badan panas. Gitu ya gak bangunin mamahnya, duh..


Yasudah, "Nanti mas test antigen ya?", kataku. Karna itu hari libur nasional, maka aku telpon dulu ke RS memastikan test hari itu ada. Jam 10 Mastio berangkat ke RS untuk swab antigen. Jam 11.30 dia WA, "Mamboo, aku positif", sambil kirim foto hasil swabnya. Aduh, bener dugaanku. Aku pun langsung bilang ke De'rara, "Dek, nanti kalo Mastio pulang kita swab juga ya? Ke RS swasta di dekat Mall ini aja, disana ada swab antigen nasal, gak sakit kok, cuman masuk ke lubang hidung 2cm aja". Anakku pun mengangguk. Dan aku sudah mengira bahwa  hasilnya adalah aku positif, karna sifat dermawan anakku lanang, yang sering berbagi makanan/minuman yang menurutnya enak ke mamanya, malah menularkan. Tapi alhamdulillah anakku wedok negatif.


Cerita selanjutnya bergulir seperti kronologi dibawah ya. Kini tanggal 16 Juni 2021, adalah hari selesainya isoman kami, dan kami sudah kontrol dan mendapat surat sehat. Terimakasih sebesar-besarnya kepada teman-teman dokterku, temen SMP, temen SMA, yang sudah mau kurepoti dengan berbagai WA pertanyaanku, baik pagi, siang maupun malam, hehe.. Terutama terimakasih kepada dokter Arief dari RSA UGM, tempat dimana anakku sempat rawat inap selama seminggu di ruang isolasi.


Kalau ada pertanyaan dapatnya darimana, itu agak susah menjawabnya, tapi kucoba menelisiknya. Kalau aku jelas tertular anakku. Jadi, jangan berbagi makanan/minuman meski dengan keluarga, apalagi dengan teman. Karna kita tidak tau OTG yang mana. Kalau anakku mungkin dia kurang menjaga kebersihan diri, lupa ganti baju, malas mandi, atau menunda cuci tangan, leyeh-leyeh dulu jika pulang dari pergi, meski disiplin dan tak pernah lepas dari masker. Anakku ini gak punya teman di Jogja, jadi gak pernah ngafe seperti adeknya. Tapi sering kusuruh ke minimarket, apotek, ato warung. Karna mungkin merasa hanya pergi dekat dan sebentar, jadi lupa kebersihan diri. Nyatanya sebelum dia datang dari Bandung, yang sering ke minimarket, apotek, ato warung adalah saya, dan baik-baik saja.


Yang kedua, 10 hari sebelum gejala batuk ringan itu anakku cabut gigi di RS swasta. Mungkin disana ketemu dengan pasien positif covid, kami tidak tau (kebetulan aku yang mengantar). Atau pulang dari RS anakku tidak langsung cuci tangan, ganti baju. Karna 2 bulan sebelumnya, aku juga cabut gigi di RS yang sama dan dokter yg sama, baik-baik saja. Dan sepengatahuanku sebelumnya, memang saat setelah cabut gigi kita harus istirahat banyak dan minum vitamin jika perlu, karna imun kita sedang turun, dipakai untuk pemulihan.


Intinya adalah, meski disiplin memakai masker, anakku kurang menjaga kebersihan diri. Jadi, menurutku, pengalaman kami, 5M itu harus dijalankan bersama-sama secara simultan, tidak bisa ditinggalkan salah satupun. Dan penyebab atau pertanyaan yang sepertinya menjengkelkan, seperti: kenanya dimana, harus tidak boleh tidak kita coba telusur (untuk yang sudah kena covid), agar supaya sebagai pembelajaran teman/saudara lain supaya lebih berhati-hati lagi. Salam sehat!


----------


Kronologi:
Jumat 28 mei 2021, tio mulai batuk
Minggu 30 mei, beli obh
Senin, 31 mei, sore, mam meriang

Selasa1 jun:
- Ditemp pagi, mama 37.5, tio 37.8
- Ketika tau demam, tio baru bilang bahwa indra perasa dan penciuman juga hilang dari tadi pagi waktu sarapan, langsung mam carikan tempat unt swab antigen
- Mam langsung minum biogesic, mastio swab antigen di RS DKT jam 10
- Begitu hasil positif jam 11.30 mam ama adek langsung berangkat ke RS Siloam untuk test antigen nasal
- Jam 14 hasil keluar, mam pos, adek neg
- Sore mam ngetemp udah cuman 36.2, minum biogesic terus
- Malam, saturasi oksigen mam 97, tio 99

Rabu, 2 jun:
- Mam temp pagi 36.1, tio 37.8
- Jam 8 pagi tio kecepirit
- Saturasi oksigen siang mam 96, tio
- Siyang ke RSA untuk rontgen dan cek darah, mam temp 36.2, tio 38, saturasi dua2nya msh bagus (diatas 95), tensi mam 127, tio 147 (agak tinggi)
- Waktu diperiksa saya blm batuk, tapi nyeri tenggorokan mulai terasa
- Sore di WA oleh RSA bahwa tio harus rawat inap
- Di RSA dijelaskan oleh dokter, bahwa tio hrs rawin karna hasil rontgen sudah terlihat mulai ada bercak dan hasil lab darah ada peradangan. Sedang rontgen dan hasil lab saya bagus.
- Kami berdua di swab PCR
- Saya diberikan obat dan vitamin total ada 9 macam untuk 5 hari, dan isoman di rumah sambil menunggu has swab PCR untuk tindakan selanjutnya
- Dilakukan tandatangan surat pernyataan bahwa semua biaya free, ditanggung Kemenkes RI
- Tio mulai rawat inap, di ruang isolasi jam 7 malam

Kamis, 3 jun:
- Pagi temp saya 35.2, saturasi 98. Tio (di RS) masih 37.5 tapi tensi sdh turun 127
- Sore 35.6 saturasi 99, tio 36.5
- Konsul dokter via WA tentang obat saya, akhirnya obat flu distop dulu, bikin jantung berdebar dan malah gak bisa tidur
- Penciuman tio masih hilang
- Aku mulai batuk-batuk ringan

Jumat, 4 jun:
- pagi tempku 35.9, sat 98, hasil swab PCR tio positif
- siang tempku 35.6, sat 98
- malam tempku 36.1, saturasi 98
- penciuman tio msh hilang, tapi indra perasa sudah pulih, bisa merasakan enak makanan

Sabtu, 5 jun:
- pagi temp 35.7, sat 97, tio 36.8
- indra perasaku hilang
- hasil swab PCRku positif juga

Minggu, 6 jun:
- pagi tempku jam 05, 36.6, sat 97. Jam 07, 35.1, sat 97
- Siang 36.1, sat 96
- sore tio 36.8
- malam 35.2, 97
- penciuman dan perasaku hilang

Senin, 7 jun:
- tio temp 36,5 saturasi 97, tempku 35.9, sat 98
- siang 36.1 sat 98
- malam 35.5 sat 98

Selasa, 8 jun:
- mam temp 36.6 sat 98, tio 36,6 sama 97
- siang 36.5 sat 98
- mam kontrol ke RSA jam 13.30 (karna antibiotik dan antivirus habis) dan diberikan vitamin, tensi 117
- jemput mastio pulang dari RSA jam 15.20, katanya sudah bisa nyium minyak kayu putih, sama cairan pembersih km.mandi
- malam 36.1 sat 98

Rabu, 9 jun:
- mam 35.9 sat 98 hr 87, tio 36.1 sat 95 hr 110
- siang 36.1 sat 97
- malam 36.0, sat 98

Kamis, 10 jun:
- pagi mam 36.2 sat 98 hr 86
- tio 36.3 Sat 96 hr 105j
- ada WA dari lab RSA, hasil PCR mastio negative
- siang mam test antigen nasal di siloam, msh positif
- malam 36.2, sat 97 hr 73
- sepertinya penciuman dan perasa sudah mulai pulih sedikit demi sedikit, untuk bau dan rasa yang kuat

Jumat, 11 jun:
- pagi mam 35.9, sat 96 hr 80
- malam 36.0, sat 97 hr 73, tio 36.6, sat 97 hr 86

Sabtu, 12 jun:
- pagi 35.9, sat 98, hr 85

Minggu, 13 Jun:
- pagi 36.2, sat 96, hr 82, tio 36.6, sat 96, hr 99

Senin, 14 Jun:
- pagi 36.2, sat 97, hr 81
- tio 36.7, 96, hr 102
- malam 35.9, sat 98, 73

Selasa, 15 jun
- pagi 35.8, sat 97, hr 85
- tio 36.7, sat 96, hr 99

Rabu, 16 jun:
- pagi kami kontrol ke RSA, karna isoman sudah selesai, mam 35.9, sat 98, hr 99, tensi 105
- tio 36.2, sat 97, hr 105, tensi 137
- diberikan surket sehat, penciuman tio belum pulih benar, saya masih batuk dikit, diperkirakan unt recovery kami berdua butuh waktu 8-12mgg hingga fit benar
- untuk olahraga kembali disarankan tio yang ringan dulu, karna paru2 belum fleksibel

Kamis, 17 Juni 2021
- siang, saya test swab antigen nasal secara mandiri di rs siloam, hasilnya negative, alhamdulillah


-----------

List obat saya:
1. Azithromycin, 2. oseltamivir, 3. paracetamol, 4. tremenza, 5. ester-c, 6. asthin force, 7. tride 5000 iu, 8. caviplex, 9. Lanzoprazole

List obat mastio sepulang dari RS:
1. Antibiotik cefixime 100mg per 12 jam, 2. Obat batuk acetylcysteine 200mg per 8 jam, 3. Obat penyiap lambung pantoprazole 20mg per 12 jam


Surat Keterangan Sehat Kami Berdua


Minggu, 02 Mei 2021

Taichi

Lagi-lagi, tulisan ini kubuat karna postingan seorang teman, hehe.. Dulu sekitaran tahun 90an, aku sering anterin mamaku senam pernafasan taichi. Di daerah wongsodirjan, deket stasiun tugu sana. Senamnya cuman sejam, jadi aku sering tungguin aja. Males bolak-baliknya. Sambil liat-liat, sepertinya menarik juga ini senam. Lama-lama daripada hanya nungguin aja, aku ikut senamnya, hehe..


Senam pertama pemanasan dulu. Trus dilanjut dengan aerobic low impact. Low banget ini, wong pesertanya sudah pada lansia, haha.. Aku ra keringeten blas! (Aku tidak berkeringat samasekali!) Habis itu baru deh senam pernafasan taichi. Dengan gerakan super lambat dan atur nafas. Nah, anehnya, disini malah akhirnya keringatku keluar sampai netes-netes sendiri. Padahal gerakan lambat looh.. Dan di akhir senam, rasanya badan segeerr banget enak. Aku jadi ketagihan, haha..


Waktu itu juga lagi awal-awal aku bisa setir mobil, jadi seneng-seneng aja tiap disuruh antar mamaku kemana-mana. Arisan, ke pasar, dll. Apalagi ini, selalu jadi semangat jika disuruh antar senam taichi. Yang jadi instruktur senamnya sudah sepuh. Tapi lama-lama ada anaknya ikut ngajarin juga, kokoh-kokoh handsome gitu, ehem.. Eh, sepertinya dia juga memperhatikan eike. Ya iyalah, jaman itu aku adalah peserta senam termuda, dan dengan kostum seadanya (gak punya training). Kadang cuman kaos bethongan dan celana pendek jeans ting slawir (rawis), haha..


Tiba-tiba suatu hari, di akhir suatu sesi, kokoh handsome ini deketin aku, dan bilang, "Mau gak diajarin 24 jurus senam taichi?". Lha yang nawarin kokoh handsome masak ditolak. Mau laahh.. Dan jadilah aku belajar jurus itu. Gak tau apa namanya. Yang jelas gerakannya sangat indah, gemulai, dan 24 jurus itu aku hapal dengan sangat mudah, hihi..


Kata temenku, dia gak bisa taichi karna beda aliran. Terlalu gemulai. Dia biasanya ikut karate. Setelah dirunut-runut, bener juga. Karna saat smp-sma, aku ikut eskul nari, jadi mungkin masih searah gemulainya, in-line. Waktu itu awal kuliah, aku sempet coba ikut nari lagi di gelanggang, tapi sepertinya kok sudah kurang luwes. Mendak (salah satu gerakan tari yang mengharuskan kita merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut sedikit) juga kurang pas, karna aku sudah ketinggian. Ketemu taichi ini serasa nemu soul kembali. Gemulai, tapi strong, tidak perlu terlalu luwes dan mendak, seperti penari, hehe..


Aku lupa persisnya, berapa lama kami ikut senam taichi ini, dan kami berhenti senam taichi karna apa. Tapi sejak mamaku gak senam lagi, aku juga gak ketemu kokoh itu lagi dan gak inget juga buat selalu latian senam taichi itu. Jadi lupa deh gerakan-gerakannya. Tapi keindahannya, beberapa instruksi senamnya, dan tentu saja senyum kokoh itu, sedikit masih ada dalam ingatan, haha..


Salam sehat yaa..


Ada di yutup ternyata, hihi..


 

My Notes Template by Ipietoon Cute Blog Design