Senin, 22 Maret 2021

MIMPI MATI

Mimpi mati. Menakutkan gak? Agak, hehe.. Seminggu ini aku mimpi mati 2x. Yang pertama ada almh mamahku dan almh eyangku. Aku mau mati, tapi dilarang mamahku. Lha kok eyangku malah ngendiko (bilang), "Wis ben wae nduk nek memang arep mati jarno, ojo digondeli (Biar aja nak, kalo mau mati biarin, jangan dihalangi)". Trus bangun, tertegun, wehlah, kok dibiarkan? Kalo mati betulan gimana, masih merasa bekal belum cukup. Trus sudah lupa. Eh, lha kok 2 hari kemudian mimpi mati lagi, tapi lupa rincinya gimana. Bangun, aku tertegun, apa artinya ini? Namanya anak milenial, ya cari di internet lah arti mimpi ini. Salah satunya adalah akan memulai lembaran baru, atau apapun, sesuatu yang baik yang baru. Hmm, apa ya? Aku coba runut-runut kejadian sebelum mimpi itu.

Seminggu sblm mimpi itu memang LPR ku lagi kambuh. Laryngopharyngeal reflux (LPR) adalah kondisi medis dimana kandungan lambung, termasuk asam yang diproduksi di perut, naik kembali melalui kerongkongan ke arah laring dan faring (tenggorokan). Kondisi ini biasanya menyerang pasien yang didiagnosis dengan gastroesophagealreflux disease (GERD), (docdoc.com). Penjelasan singkatnya begitu yaa, kalau mau lebih jelas monggo googling aja, hehe..

Yang jelas saat itu karena lendir yg berlebih dan pekat, tidak bisa dikeluarkan, tidak bisa ditelan, di belakang hidung, aku jadi susah bernafas. Dan biasanya kejadiannya malam hari. Jadi semalaman aku bolak-balik minum, banyakin minum biar bisa tertelan lendirnya dan bisa nafas, jadinya yaa bolak-balik pipis juga. Otomatis jadi gak bisa tidur. Akhirnya keluar kamar minum air putih hangat banyak-banyak, lumayan, bisa tertelan. Terakhir setelah agak bersih lendir, eh sekarang gantian tenggorokan perih. Pikir punya pikir, biasanya kalo radang aku menghisap sp-troche, dan benar redaan perihnya. Akhirnya jam 3 pagi baru aku bisa tidur. Ini yang ke-3 kali kambuh LPR ku. Yang pertama th 2016, kemudian 2019, kemudian tahun ini 2021. Kalau yang pertama memang karena meski punya penyakit maag sebelumnya tapi aku sepelekan, masih makan segala macam, serta kecapekan. Waktu itu aku masih harus bolak-balik jakarta-jogja selama 6 bulan, dan sedang flu berat.

Kumat yang ke-2, karena merasa sudah sembuh, maka aku makan segala macam lagi. Setengah bulan sebelum kumat, tengah malam saat pergantian tahun, aku dan keluarga besar makan pempek dengan cuko, makan nasgor, bakmie, dan minum soft-drink. Sore sebelum kumat, kongkow2 dengan teman, ngupi2 cantik, coffee latte. Kukira udah gak papa, soalnya udah ngemil singkong goreng keju. Ternyata malamnya sulit bernafas sampai subuh.

Oke, belajar dari pengalaman, setelah sembuh, aku sama sekali gak mau lagi minum soda ataupun kopi. Blas. Samasekali tidak. Tapi pantangan Gerd/LPR yang lain kumakan semua. Ya susu, keju, gorengan, roti, mie kuning, coklat. Sikat bleh. Setahun, aman. Tahun ini menginjak tahun kedua, aman. Eh, bulan lalu, Februari, aku makan coklat banyak, karena anakku dapat coklat valentine banyak banget dari pacarnya. Mamanya yang habiskan, hehe.. Kemudian awal maret, teh nasgitel, mie instant gelas waktu pergi ke pantai, sungguh nikmat. Nah pulangnya dari pantai tuh, mulai terasa mual. Aduh, kenapa lagi ini. Lalu kumatlah seperti yang kuceritakan diatas. Memang sepertinya dari sebulan sebelumnya sudah bersendawa pahit (tanda asam lambung naik ke tenggorokan), tapi tak kuperhatikan, kusepelekan.

Kini LPR ku sudah membaik. Aku diet makanan minuman kembali. Masih dalam perawatan dokter sih, dan besok masih kontrol. Lendir berlebih sudah hilang, aku tidak konsumsi obat pengencer dahak lagi. Sejak kemarin waktu antar anak ke toko buku, aku tersadar ketika baca buku dengan judul di picture di bawah. Diet sehat dengan gembira kenapa tidak? Rasah nggresulo (tidak perlu mengeluh), wong makan sehat yang enak juga banyak. Biasa aja. Makan enak yang tidak sehat kan dulu sudah pernah? Tidak perlu kepengin lagi.

Sejak usiaku 50th, Januari kemarin, aku berpikir untuk rajin setiap hari memakai pelembab muka, bibir, dan handbody, meski tidak akan pergi kemana2. Biasanya sih males-malesan. Sekarang kupaksakan, gak boleh lupa, setiap hari, rutin. Untuk menjaga kesehatan kulit. Sudah mulai umur gold yaa, hehe.. Aku berpikir, aneh. Kulit, yang hanya terlihat diluar saja aku jaga sedemikian rupa, masak organ dalam malah kusepelekan. Ini kesadaran pertama.

Kesadaran kedua, tentang makanan sehat. Sophia Latjuba dan banyak artis-artis langsing yang lain mati2an diet dengan memakan hanya makanan sehat, untuk menjaga penampilan. Padahal mereka sehat, tidak punya LPR. Masak aku yang sakit justru masih pengen makan segala macam termasuk yang tidak sehat. Janganlah menjadikan itu siksaan, tapi kebanggaan. Paling enggak, samalah makanan sehatnya ama Sophia Latjuba, haha..

So, supaya gak takut dengan mimpi matiku, aku mengaitkannya dengan lembaran baruku. Lembaran yang baik. Aku ingin mulai makan dan minum yang sehat mulai sekarang, dengan gembira tentu saja, hehe..

Salam sehat..

Ref:
https://www.docdoc.com/medical-information/conditions/laryngopharyngeal-reflux?lang=id
https://www.google.com/amp/s/www.sehatq.com/artikel/fungsi-tenggorokan-ternyata-penting-dalam-sederetan-sistem-tubuh-ini/amp 








Minggu, 07 Februari 2021

Surat Buat Anakku Lanang - 2

Hati Mama membuncah kembali ketika kamu menyampaikan berita, "Mah, minggu depan aku sudah harus balik Bandung, karena tanggal 10 udah diminta masuk kerja". Alhamdulillah lee, disaat pandemi begini, kamu bisa cepat dapat kerja.

Mama teringat perjuangan kita bersama kemarin untuk menyelesaikan studimu. Juni 2020, setelah libur panjang semesteran kamu balik Bandung. "Selesaikan Tugas Akhir (TA)mu le, karena ini semester akhir lo", kataku. "Ya Mah", jawabmu singkat tapi mantap.

Tapi ketika dia udah di Bandung kok hati Mama was-was, telpon Papamu, "Pah, coba telpon kampus ITB, cari tahu tentang Tio, sampai mana TA nya, apa bisa selesai benar semester ini, karena ini semester akhir lo, bisa kena DO nanti". Dan Papamu berhenti mencari info hanya sampai dapat nomor hp bagian TU aja. "Mama yang hubungi ya", katanya. Oke lah, sapa takut? Saat kritis begini sepertinya Mama harus turun tangan, mempercayai naluri ibu.

Dan benar, ternyata kata bagian TU, kamu sudah 1 tahun ngilang melulu dan dihubungi susah. Langsung Mama minta nomor hp dosen pembimbing akademik dan dosen pembimbing TA nya. Lemas rasanya mendengar hal yang sama dari kedua dosenmu itu. Entah apa yang terjadi, karena kamu selalu terlihat ceria dan baik-baik saja. Bahkan setiap ditanya TA, selalu dijawab masih dikerjakan, selalu bimbingan. Dan Mama tak pernah bertanya lebih lanjut, karena menurut Mama kamu sudah besar, adalah tanggungjawabmu sendiri. Tapi tidak kali ini.

Tanpa berpikir 2x lagi, Mama putuskan untuk melakukan waskat, cek & ricek kali ini. Segera kutelpon kamu, dengan nada datar tanpa memarahi, karena aku tahu mungkin ini sudah cukup berat bagimu, "Mama sudah telpon bu D dan pak A, pak Y, dosen-dosenmu, Mama udah tahu semua. Sekarang segera daftar ulang kuliah lagi dan hubungi dosen-dosenmu, Mama akan cek tiap hari."

Dan benar, setelah itu setiap hari Mama meneleponmu, sekedar menanyakan perkembangan TA, kesehatanmu, atau hanya mengobrol ngalor-ngidul memberi semangat. Tak lupa Mama selipkan pertanyaan tentang TA, tapi kali ini secara detail, bab berapa, kesulitannya apa, dan mengkomunikasikan kembali dengan dosen pembimbingmu. Itu Juli 2020. 

Kuusahakan setiap bulan Mama ke Bandung, menjengukmu secara fisik, memberi semangat, mentraktir teman-teman se-kostanmu yang kutitipkan untuk menjagamu. Mengesampingkan ketakutan memakai public transport disaat pandemi. Desember 2020, disaat injury time, akhirnya kamu mengabarkan bahwa sudah diminta sidang akhir. Dan alhamdulillah lulus, dengan beberapa perbaikan. Rasa senang Mama dan Papa tak terkira. Rasanya seperti orang baru lahiran, hehe..

Pertengahan Januari 2021 selesai semua perbaikan TA, dan proses penjilidan, serta penyerahan ke TU. Kamu pulang Jogja dengan menghadiahkan Mama 1 bundel TA 213 halaman. Mata Mama berkaca-kaca. Dengan takjub kubuka lembar demi lembarnya, kubaca dari awal sampai akhir, meski Mama gak ngerti. Alhamdulillah ya Allah, selesai juga perjuangan kita ya le, hehe..

Kini awal Februari 2021 kamu akan kembali ke Bandung untuk bekerja. Mendapat pekerjaan tanpa bantuan Mama meski Mama tawarkan. Katamu, "Nanti aja Ma, aku mau coba kerja ini dulu". Yasudah le, kerja yang bener ya, yang rajin. Jangan mikir uang dulu, karena gaji itu mengikuti prestasi. Jangan korupsi. Jaga kesehatan, karena kesehatan yang utama, kalau gak sehat, gak bisa kerja juga kan? Makan teratur, justru supaya tidak terlalu gemuk. Jangan lupa selalu jaga time-managementmu, itu nasehat Mama dulu yang tak kau indahkan, jadi agak terlambat studimu. Jangan lupa untuk selalu rendah hati dan menjaga akhlak. Jangan lupakan sholat, jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu.

Oh ya, cari jodoh yang baik. Jika sudah dapat, perlakukan dengan baik, seperti kamu memperlakukan Mama dan adek perempuanmu. Jaga. Yang terakhir, tetapkan jadwal secara reguler jenguk Mama ya? Karena Mama tidak mau menjadi mama-mama yang munafik, menahan rindu padahal sebenernya kangen sama anaknya. Maafkan Mama yang terlalu berterus terang, hehe..

Semoga sukses anakku, semoga Allah selalu melindungimu, aamiin..



Yogyakarta, 8 Februari 2021

Mama yang menyayangimu, selalu..



Jumat, 13 November 2020

PENSIUN DINI

Suatu hari di tahun 2002, awal-awal aku mendapat promosi dari Kasie Akuntansi menjadi  Kabag Akuntansi & Keuangan dan "dikandangkan" (istilah anak buahku dewe yg ndlegek mengunekkan ibu buahnya yang sekarang punya ruangan sendiri, asemok), lagi jalan menuju ruangan dari ruang Dirkeu karena dipanggil. Mendadak lewat meja anak buahku yg mendlegek ini, kok ada buku Rich Dad Poor Dad (RDPD)? Sepertinya menarik. Judulnya kontradiktif ngono, isine opo yo? Sontak brenti, menimang-nimang, dan membuka sedikit, "Udah selesai baca belum? Pinjem boleh gak?", tanyaku. Anak buahku hanya mengangguk. Oke deh, sippo, kuambillah buku itu, dan kubaca saat itu juga dan lanjut di rumah.


Awal-awal bukunya menarik, lama-lama semakin ke belakang semakin mudeng buku apa itu. Oalah, buku yang all about money. Agak gak setuju sih sebenernya, apa- apa kok dinilai dengan uang. UUD, Ujung-Ujungnya Duit. Menurutku, banyak hal di dunia ini yang bisa dinilai tidak hanya dengan uang. Tapi, diluar itu, ada 2 hal yang menarik dari buku ini. Yang pertama, ide bahwa seharusnya orang itu pensiun dari pekerjaan tetapnya di usia 40 th, dan menikmati hidup. Apa jadinya jika kita bekerja terus hingga usia 58 th, kemudian berencana menikmati hidup setelahnya? Kelamaan dan ketuaan, hehe..

Rutinitas selama berpuluh-puluh tahun, kemudian setelah pensiun menyadari, bahwa rutinitas bekerja telah menjadi gaya hidup, dan lupa menikmati hidup ketika pensiun. Ketuaan, ketika kesehatan sudah kurang mendukung untuk aktivitas menikmati hidup itu. Contoh kecil, kolesterol, darah tinggi, penyakit jamak rata-rata umur segitu, jadi gak bisa menikmati soto betawi rempoa yang yahud bingits itu kan? Kan? Hihi..

Setelah bertahun-tahun bekerja untuk mencari uang, di usia 40 th adalah saatnya uang yang bekerja untuk kita. Taruhlah kita bekerja di usia 23 th, di usia 40 th berarti sudah 17 tahun bekerja, seharusnya sudah cukup waktu untuk mencari uang, dan saatnya membuat uang itu yang gantian bekerja untuk kita.

Hal kedua yang menarik, bahwa bisnis untuk mempersiapkan waktu pensiun adalah 10 tahun dari usia yang kita rencanakan untuk pensiun. Jadi jika kita berencana untuk pensiun di usia 40 th, maka bisnis harus dimulai saat kita usia 30 th. Wehlah kok meh pas iki? Saat itu usiaku 31 th, bisnis opo yoo, putar otak. Nah ini yang tidak ada di buku RDPR, berdoa, memohon petunjuk Allah SWT.

Dan tak disangka-sangka kesempatan itu datang, suatu hari, salah 1 staf seniorku menghadap dan berkata bahwa dia membutuhkan investor untuk memulai bisnis persewaan mobil. Aku percaya pada stafku ini, karena orangnya ubet dalam bekerja dan jujur. Tapi dalam bisnis, uang tidak ada teman dan saudara. Aku harus memperhitungkan faktor resiko, disamping perhitungan analisa keuangan tentu saja. "Butuh berapa pak?", tanyaku. "Gak banyak Bunda, atau tidak cash juga gak papa, kalo ada mobil nganggur boleh aja", jawabnya. Wah, menarik ini, investasi tapi tanpa duit, hehe..

Pikir punya pikir, kan mobil cuman 1 dipakai lagi. Tiba-tiba inget, kakakku punya 2 mobil, yang 1 sering nganggur, kutawarkanlah kerjasama itu, eh dia tertarik. At least, aku harus lihat dulu minimal 1 tahun, apakah usaha ini berjalan lancar? Apakah aman? Karena invest gede nih, 1 mobil bisa senilai 100jt lebih waktu itu. Saat itu aku belum dapat bagi hasil, hanya komisi.

Waktu berjalan 1 tahun, ternyata bisnis bagus. Mobil aman, pendapatan lancar per bulan. Ditambah lagi mobil terawat, karena stafku ini punya team, dan disewakan hanya ke perusahaan asing beserta sopirnya. Baru deh berani invest 1 mobil lagi, via kredit, dengan perhitungan matang. Dalam perhitunganku masih masuk, dan sesuai dengan prinsip pengelolaan keuanganku, bahwa untuk konsumtif tidak boleh kredit, tapi untuk barang yang harga terus naik (misal tanah atau rumah), dan untuk barang yang menghasilkan revenue, tidak apa-apa. Toh semua bisa dihitung. Bismillah, berjalan.

Alhamdulillah, jumlah mobil bisa terus bertambah, dan ketika th 2008, di usiaku yg ke-37 th, revenue dari bisnis itu secara bersih setelah dikurangi penyusutan (perlu dihitung untuk peremajaan setiap 5 tahun sekali), bisa mendapatkan paling tidak setengah dari gaji kantoranku. Perhitunganku, tahun depan, di usia 38th aku akan kuliah lagi S2, sehingga usia 40th lulus dan siap-siap mengajukan pensiun dini (pendi). Dengan bekal ijazah S2, aku akan mengisi waktu dg mengajar nantinya, sekedar untuk self esteem dan membagikan ilmu, sesuatu yg sangat kuinginkan pada akhirnya, sebagai nobel goal, bukan lagi mengejar uang.

Tapi rencana tinggal rencana, Allah rupanya berkehendak lain. September 2008, Papahku berpulang ke Rahmatullah. Sebelum berpulang, Beliau berpesan padaku, "Titip ibumu yo?". Aku hanya mengangguk, meski dalam hati berpikir. Kok titip ke aku ya? Bukankah aku di Jakarta, Mamah di Jogja? Dalam pemikiranku yang mendalam saat itu, titip, berarti mungkin biaya. Yasudah, rencana pendi aku tunda dulu, agar supaya lebih leluasa secara finansial memenuhi keinginan Mamah, apapun itu. Airmataku mengalir mengingatnya, Mamahku yg paling aku sayangi.

Ternyata curahan kasih dan sayangku ke Mamah hanya bertahan 2 tahun saja. September 2010, Mamahku ikut berpulang ke Rahmatullah. Sejak meninggalnya Papah, kesehatan Mamah semakin menurun. Mamah yg memang waktu Papah masih ada sudah keluar masuk RS, semakin sering sakit. Adalah menjadi keharusan bagiku untuk pulang ke Jogja jika Mamah sakit, meski hanya saat wiken saja.

Saat itu setelah Mamah tiada, aku merasa tugas yang diamanahkan Alm Papah telah selesai. Saatnya untuk pendi. Akan tetapi ternyata dengan bergantinya manajeman, peraturan perusahaan juga mengalami perubahan. Pensiun dini hanya dapat dilakukan setelah bekerja minimal 15 tahun (aku sudah lewat nih), dan berusia 45th. Pakai DAN sekarang, heleehh..

Yasudaahh, sesuai rencana awal, aku akan kuliah dulu, mendekati tahun ajaran baru, Juli 2011, aku mendaftar kuliah S2 UI, test, dan diterima, alhamdulillah. Akan tetapi lagi-lagi Allah berkehendak lain. Tiba-tiba ada panggilan Haji. Aku sangat terkejut waktu itu, karena baru 2 tahun sebelumnya mendaftar. Konsul ke akademik UI, akhirnya diputuskan untuk ambil cuti saja dulu, dan baru mulai kuliah 2012. Belum kuliah kok udah cuti, wisjiaan, wkwk..

Singkat cerita, aku lulus th 2014, akan tetapi baru bisa mengajukan pendi Januari 2016, persis saat usiaku 45th, di hari ulang tahunku. Akan tetapi, 1 th sebelum pendi, surat sudah kuluncurkan ke Direksi. Belum disetujui, malah ditawarkan posisi lebih tinggi di anak perusahaan, aku tak bergeming. Saat itu kebetulan ada temen yg menginfokan ada PTS di Jakarta yg membutuhkan tenaga pengajar. Aku pun melamar, saat wawancara ternyata yg dibutuhkan tenaga tetap, tentu saja aku belum bisa, kulepaskan kesempatan itu.

Awal 2016, ketika sudah pendi, aku msh dihire 6 bulan oleh perusahaan dg hanya wajib masuk 2x seminggu. Waktu itu ada tawaran lagi mengajar di PTS dekat rumah, semester depan. Tentu saja kusambut dg antusias. Tapi rupanya Allah berkehendak lain lagi, Februari 2016 anakku tiba2 memutuskan untuk pindah sekolah ke Jogja, karena ada masalah bullying. Meski ada Budenya, tapi sisa waktu selama hire itu kugunakan untuk wira-wiri Jakarta-Jogja mencari sekolah (sudah kutulis di blog judul tersendiri), dan merawat anakku, hingga aku sendiripun jatuh sakit, GERD (kapan-kapan kutulis ya, sembuhnya aku dari sakit ini).

Pengobatan selama 3 bulan membuatku turun berat badan sebanyak 6 kg. Keinginan untuk mengajar kupending dahulu. Dan kini, sudah 4 tahun sejak aku pensiun dini, ternyata ijazahku gak laku untuk mengajar di Jogja, karena disini lebih banyak yg muda-muda, hehe..

Tak apa2, selama rentang waktu 2016 sd sekarang, bisnis persewaanku masih berjalan, meski dengan jumlah mobil tidak sebanyak dulu, karena sebagian dialihkan ke property. Itulah yang kupakai sebagai penghasilan tambahan, disamping gaji suami sebagai PNS. Dan terkadang membantu jualan reseller saudara/teman di Jogja secara online, untuk kesibukan. Meski ukuran cukup masing-masing orang berbeda-beda, tapi itu sudah cukup bagiku, dan aku sangat bersyukur. Kini saatnya uang yang bekerja untukku, persis seperti yang dikatakan Robert Kiyosaki, penulis buku RDPR, meski yaaa, agak telat-telat dikit, hehe..

Sekian, semoga bermanfaat..

Berkebun, salah satu kegiatanku sekarang

Rabu, 04 November 2020

MOTORAN

Tergelitik tulisan rekan disini tetang romantika pacaran motoran, tak nulis yaa, hehe.. 

Dulu eike ketemu mantan yg sekarang jadi misoa, di KKN UGM di Candiroto, Temanggung, tahun 1993. Alkisah, suatu waktu jadwal saya pulang ke Jogja. Biasanya naik bus sih, kali ini tidak. Karena doiku ini ternyata mabok kalo naik bus, haha.. 

Jadilah kami motoran ke Jogja, 90 km loh, 2 jam perjalanan. Mayan pegel, harusnya. Tapi karena sama pacar ya gak kerasa tuh. Singkat cerita, motoranlah kita, berangkat sudah agak sore. Lha ternyata kok ditengah jalan hujan. Pakai mantellah kita, 1 berdua, seperti biasa, mantelnya yang model kelelawar, jadinya eike nunduk di belakang, kaki tetep basah dong yaa. Ada kali sejam posisi gitu, pegel, dingin. 

Mendekati posisi Jogja, hujan mereda. Meski doi masih pakai mantel, eike buka karena supaya bisa duduk tegak lagi, gak nunduk. Dan biasa, ada yang cari kesempatan dalam kesempitan. Langsung deh doi pegang lutut eike dan berujar, "Basah ya?".. Yak opo? Kudanan, yo basahlah. Harusnya pertanyaannya kan, dingin ya? Tapi karena masih awal-awal pacaran, masih malu-malu, ya kujawab aja, "Iya".., haha.. 

Masa-masa pacaran setelah KKN di Jogja, setiap malam minggu, jam 7 pas, doi selalu ngapel ke rumah. Jarak Sleman-Jogja gak masalah. Dan kita selalu disuruh pergi sama Mamaku, karena gak enak ama kakak katanya, raono sing ngapeli. Halah. Kita kok disuruh malam mingguan pergi, padahal gada duit. 

So, kadang-kadang kita cuman pergi putar-putar kota Jogja, aku masih ingat, doi dengan jaket hijau tebalnya yang wangii banget. Tapi wangi enak, madu kalo gak salah. Suka berlama-lama nempel karena baunya enak. Dan tau gak, pas doi udah pulang ngapel, waktu eike mau tidur, masih nempel loohh baunyaa. Mungkin di bajuku ato di daguku, ato di tanganku, baunya enaakk, wangi madu. Jadi inget doi, dan eike suka berangkat tidur sambil senyum-senyum sendiri, ehehe.. 

Bertahun kemudian, setelah jadi suami, bau wangi madu itu gak ada lagi. Pinisirin tapi tetep sama bau wangi parfum madunya dulu. Waktu kutanya, jawabnya, "Oh, itu dulu biang parfum yang kupakai, makanya tahan wangi. Yang jual mas A yang kost tempat Ibu, sekarang udah balik ke kota asalnya di Kalimantan, makanya gak bisa beli lagi. Ealaah, jebul biang parfum, pantes wangi bingits, haha..  

Sekarang, kadang-kadang jika masih ada kesempatan, baik di Jakarta maupun Jogja, jika deket-deket saja, aku minta naik motor aja. Dan biasa, aku nempel ke suami. Enak je, wangi dan anget. Meski sekarang ganti bau wangi shampoo, hehe. Masukin tangan ke kantong jaketnya. Kata suami, "Ngopo to mah? Koyo nang omah raiso wae..". Wisjiaann ra romantis blass, haha..



Sabtu, 19 September 2020

LAWUH TAHU TEMPE

Cerita ini bergulir karena tergelitik dari cerita teman jaman awal-awal masuk PNS, dan sepertinya kok mesakke nemen, untung bojoku orak, hehe..

Waktu masih pacaran dulu, suami sudah bercita-cita pengen bekerja sebagai PNS. Sebuah cita-cita yg absurd menurutku, kala itu. Lha aku yg punya bapak PNS aja gak mau nantinya kalo disuruh kerja jadi PNS. Waktu saya masih kecil, kami sekeluarga hidup berkecukupan dengan Bapak yang menjabat Kepala Balai Kecil. Waktu itu saya pikir gaji Bapak besar, Kepala Balai loh. Ternyata itu semua ditopang oleh Ibu yang mempunyai usaha catering. Saat menginjak tahun kedua kuliah, saat memenuhi syarat-syarat penerima beasiswa, salah satunya adalah surat keterangan pensiun bapak. Saya tertegun membacanya, 200 ribu. Uang segitu jaman itu memang bisa membayar uang kuliah saya 2 semester. Tapi 2 kakak yg lain yg masih kuliah di PTS? Belum buku-buku mereka yg tebal dan mahal (anak teknik). Belum untuk makan, bensin, dll. Waduh, berat nian tugas Ibu ternyata selama ini.

Eh, lha kok sekarang pacarku bilang begitu. Aku tertegun untuk kedua kali. Jaman old, pacaran itu untuk menyamakan persepsi, bukan hanya sayang-sayangan kayak anak jaman now. Lamaaa aku berpikir, tapi untung saat itu kami sudah sama-sama dewasa, jadi pola pikir sudah matang. Apa yg kubutuhkan? Materi atau hal yang lain? Keinginan kepingin jadi PNS itu diutarakan calon, karena melihat gaya hidupku yg sedikit agak hedon, kala itu. Tapi menilik bahwa calon ini orangnya tenang, bisa membuat hati nyaman, stabil, selalu optimis, sesuai apa yg kubutuhkan saat itu, aku, yang masih terkadang labil. Duit iso digoleki bareng. Wislah, lanjuuttt, hehe..

Kemudian hakok beneran, setelah sempat kerja sebentar di perusahaan swasta, calon ini diterima menjadi PNS, setelah melalui proses panjang. Kok iso yo, padahal kalo saja seleksi masih pake IPK kayak sekarang, mesti raiso, hehe.. Tapi sudah menjadi kehendak Allah. Iseng aku tanya beliau, "Nek aku ra nyambut gawe rapopo mas?" Jawabnya sungguh mencengangkan, "Rapopo". "Tenan?", tanyaku lagi mencoba meyakinkan. "Iyo", jawabnya mantap. Tapi dengan kalem, ditambahi jawabannya, "Asal gelem mangan lawuh tahu tempe.."

Weehh, hayo wegaaahhh, haha.. Lha aku anakke wong catering jee, dulu makan lauk apa aja ada. Tinggal milih, nyomot, yg mana aja boleh sama staffnya Ibu, haiyo wong anakke sing duwe, wkwk.. Jadilah saya, saat itu tetap bekerja, dengan ijin suami, niat ingsun membantu keuangan keluarga, dan bisa makan tahu, tempe, telur, ayam, udang, dll. Jadi, tidak ada cerita mesakkake di cerita saya sebagai istri PNS. Alhamdulillah, hehe..




Selasa, 01 September 2020

10 KOTA IDAMAN

Kemarin di beberapa WAG beredar picture yang memberikan urutan 10 kota idaman. Nomor 1 adalah Yogyakarta. Dan banyak teman serta saudara yang mengaminkannya. Tapi taukah teman, meski sekarang aku sudah pensiun dini dan tinggal di Jogja lagi, aku tidak termasuk yang mengaminkannya? Paradoks banget, hehe..


Bagiku, tinggal di kota mana saja bisa menjadi idaman, jika itu berarti dekat dengan orang yang kau cintai. Cintai tidak selalu harus kekasih/suami/istri loohh. Bisa juga anak, ibu/bapak, atau saudara2 kita. Klise? Mungkin. Tapi bagiku itu fakta dan pernah kurasakan, 27 tahun yang lalu. Dan fakta itu masih benar adanya sampai dengan sekarang. Nyatanya bahwa tinggal di Jakarta 22 tahun yang kata bu Tedjo, keras, aku merasa biasa aja tuh? Kalo tak bisa dibilang menikmati ya paling tidak mensyukuri. Dekat dengan suami, anak2, saudara2, teman2 kantor, teman2 sekolah/kuliah, tetangga yg baik2. Suami dan aku bekerja dengan baik, anak2 sekolah dengan baik. Idaman.

Kenapa bisa begitu? Flashback, cerita dimulai bulan Desember tahun 1993. Lama bingits ya, hehe.. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja, kurang idaman apa coba kotaku ini. Asyik buat sekolah/kuliah, banyak tempat nongkrong, kala itu. Alkisah, malam minggu saat itu, karena gabut (istilah anak jaman now), jalan2lah aku naik motor keliling2 Jogja, dan berakhir dengan berhenti, thethek istilahnya, di depan benteng Vredeburg. Melihat orang lalu-lalang disitu saja biasanya akan menghibur hati, damai, tentram. Tapi tidak malam itu. Karena saat itu untuk pertama kalinya sejak 6 bulan sebelumnya, aku malam minggu sendirian, karena kekasihku ada di Jakarta, sudah diterima bekerja disana. Aku merasa sunyi di tengah keramaian. Sungguh rasa yg aneh.

Dari situlah kemudian aku menyadari bahwa sebenarnya bukanlah tempat atau kota yg bisa membuatmu bahagia. Rasa itu ada di hati.

Jakarta, kota yang menurutku biasa saja tadinya, plus macet dgn segala tetek bengek gak karuannya menjadi indah kala itu, ketika Januari 1994 kemudian aku menyusul kesana, karena diterima bekerja. Nongkrong di Blok M, jalan2 di Citraland, naik bus kota tanpa AC ke Pesing, naik motor ke Bekasi via Pondok Gede, jalan kaki menyusuri jalan Sudirman, OR pagi di Monas, menjadi indah saja tuh? Hehe..

Nah, sejak saat itu, jika ada yg berbicara dengan menunjukkan wajah heran kepadaku, kok bisa, seorang yg lahir dan besar di Jogja, mau dan betah hijrah ke Jakarta? Aku akan tersenyum dan berujar, "The world is only a place, the truly happines is in your heart"..




Minggu, 19 Juli 2020

WHITE LIE

There is no such a white lie, menurutku. Paling sebel kalo ada yang bilang gitu, "Kan white lie?". White lie dari Hongkong? Bohong ya bohong aja, kecuali 3 hal yang diperbolehkan, menyelamatkan nyawa, mendamaikan yang berselisih, dan suami memuji istri atau sebaliknya istri memuji suami.

Dari kecil aku diajari oleh orang tua untuk tidak berbohong, dan setelah dewasa menyadari bahwa falsafah itu benar adanya. Kebohongan pasti harus ditutupi dengan kebohongan selanjutnya, jika ingin tidak terbongkar. Belum lagi harus selalu konsisten, melelahkan bukan? Mending jujur, enak, tidak membebani, apa adanya. Kalo salah ya salah aja, dimarahi ya diterima saja, tapi habis itu kan sudah. Makanya dulu saat mau pergi main, saat SMA atau kuliah ke tempat yang kira-kira Mamahku bakalan tidak memperbolehkan, tiap ditanya Mamahku, "Mau kemana?". Kujawab aja, "Mau main, bunek di rumah, capek belajar mulu". Dan biasanya ibuku gak bertanya lagi dan memperbolehkan. Baik ya Mamahku? Hehe..

Tapi ada saat aku berbohong sekali ssiihh, saat melamar pekerjaan di perusahaan tempatku bekerja dulu, saat fresh graduate sd pensiun dini sekarang (type setia, hehe..). Saat ditanya, "Melamar dimana saja?". Kujawab dengan mantap, "Gak ada pak, disini aja". Padahal saat itu aku melamar ke beberapa tempat. Spontan aja jawab itu, dengan pikiran bahwa ya harus menjawab dg baik dan mantap. Daaann bertahun2 kemudian, sang pewawancara yang notabene adalah Kabagku langsung mengungkit hal tsb, katanya hal itu adalah menjadi salah satu pertimbangan menerima kerja aku. Aku ngakak dan berujar, "Masak sih paakk saya bilang begitu? Padahal saat itu saya juga lagi melamar di Bank Anu, perusahaan Anu loh, haha..". "Woh, hooh to? Ngerti ngono ra tak tompo..", kata Kabagku itu sambil ikutan tertawa kecil dan ngeloyor pergi, hihi..

Nah, ada lagi nih terlalu jujur yang gak perlu. Saat pacar anakku yang beda agama ditanya ama anakku, "Gimana kalo kakak ketemu cewek yg cocok tapi agamanya sama. Pilih dia daripada aku?". Dan setelah berpikir sesaat, sambil menghela nafas, cowoknya anakku ini bilang, "Yaaa, akan aku pertimbangkan". Haduh, piye to kowe lee, jawaban salah, harusnya, "Ya milih kamu laaahh", dengan mantap, hihi.. Yasudah, saat anakku mutusin dia, itu jadi salah 1 pertimbangan juga, alasannya beda agama (meski sebenernya banyak alasan lain), kapokmu kapan. Daann, ketika sekarang anakku lagi pedekate lagi dgn cowok yang beda agama lagi, si mantan ini komen, geneeoooo (dalam bhs inggris tapi), haha..

Nah piye Lurs? Adakah 1 bohongmu yang berkesan? Ahihi..

 

My Notes Template by Ipietoon Cute Blog Design