Rabu, 23 Agustus 2017

4 KEGAGALAN YANG DIIKUTI 4 KESUKSESAN

Kegagalan adalah sukses yg tertunda. Jargon itu sudah sering kita dengar bukan? Seberapa banyak dari kita yang agak2 mencibir jika mendengarnya? Jargon yang muskil, berkesan ngeyem2i. Itu juga yang dulu ada di dalam pikiranku. Tapi sejak peristiwa ini tidak. Peristiwa kegigihan anakku. Anak perempuanku, anak wedok, anak ragil, dalam mencari sekolah, tempat kuliah. Anak yang selama ini sungguh feminin (bertolak belakang dgn ibunya hehe), terkesan lemah, akan tetapi ternyata berkemauan kuat.

Adalah tekadnya untuk terus berjuang untuk dapat sekolah di PTN Yogyakarta. Dimulai dengan pindah SMA di Yogya, kemudian mengikuti les private 6 mapel UNAS. Alhamdulillah, mendapatkan hasil, nilai UNAS yang memuaskan.

Kegagalan pertama dimulai saat akan mengikuti SNMPTN (kalau dulu namanya jalur undangan), yang ternyata sekarang hanya diperkenankan 50% siswa mendaftar, dan pindahan tidak diperbolehkan. Baik itu pindahan dari sekolah lain, maupun pindah jurusan. Aturan baru yg aneh! Padahal jika diranking, anakku wedok ini harusnya masih masuk daftar. Tapi, ya sudahlah, mungkin belum rejekinya.

Kegagalan kedua adalah saat mengikuti SBMPTN (kalau dulu namanya Sipenmaru). Kelelahan yg sangat, belajar marathon, membuat anakku habis energi di saat2 terakhir. Bosan belajar, sehingga seminggu sebelum test, gairah belajarnya hilang. Alhasil, test dilalui tanpa belajar. Ditambah lagi kondisi tempat test yang tanpa meja dan memakai sistem manual, membuat kekagetan dan kelelahan. Sebelum pengumuman pun anakku sudah merasa bahwa akan tidak diterima.

Akan tetapi masih ada harapan nanti test mandiri Utul (Ujian tulis) UGM. Hari yang ditentukan pun tiba, test diadakan di salah satu SMK Negeri di Yogyakarta. Kondisi sekolah yang familiar, ada meja, dan telah terbiasa test manual, membuat anakku lebih rileks dan bisa mengerjakan dg baik. Akan tetapi karena belajar kurang optimal, maka kali ini pun belum diterima. Rupanya jurusan yang diminati anakku adalah jurusan favorite ke3 di UGM.

Masih ada test PTN yang lain, yaitu jalur mandiri yang didasarkan atas nilai SBMPTN, jadi tanpa test. Tidak semua PTN di Yogya menyelenggarakan test jalur ini. Pantang menyerah, anakku pun mencoba mendaftar. Kali ini di UNY. Meskipun agak sedikit pesimis, karena saat SBMPTN sepertinya agak kesulitan mengerjakan soal, tapi kata anakku dengan percaya dirinya justru meyakinkan mamanya, “Gak ada salahnya dicoba kan ma?” “Yowis nduk, mamah manut wae, wong sing sekolah yo koe”, ujarku. Tapi lagi2 tidak diterima. Ini adalah kegagalan ke4. 

Akhirnya, kami mencoba mendaftar ke PTS, dengan beberapa pilihan akhirnya anakku memilih melalui  jalur UNAS, jalur tanpa test. Jalur ini kami pilih karena nilai UNAS anakku yang bagus, sayang kalau sama sekali tidak dipakai, dan kebosanan untuk belajar soal2 lagi, hehe.. Alhamdulillah PTS ini diterima. Akan tetapi, akhirnya tidak diambil oleh anakku, dikarenakan ada 4 hari pendidikan profesi yang waktunya hampir berbarengan dgn test mandiri UPN.

Oh ya, kegigihan anakku masih berlanjut. Pantang menyerah, masih mencoba msk PTN. Kali ini melalui jalur mandiri, di UPN dan UNY. Disamping itu juga mendaftar lagi PTS yang lain, dengan jalur UNAS juga. Ketiganya kami ambil, karena test UNY dilakukan sblm pengumuman UPN, dan pengumuman PTS juga setelah test PTN dilakukan.

Kali ini dilancarkan strategi, untuk menghindari kebosanan, belajar dimampatkan dan dimepetkan, hanya 3 hari sebelum test, dan hanya latihan soal2. Ibaratnya refresh saja. Akhirnya test UPN bisa dilalui dgn lancar dan rileks. Anakku merasa optimis dan merasa bisa mengerjakan soal-soal. Begitu pula test UNY, lebih optimis lagi karena dengan sistem CBT (Computer Based Test), gak capek melingkar2i katanya.

Hari yang dinantipun tiba. Pengumuman UPN anakku diterima. Mamae nganti melu jingkrak2 plus mbrambangi, hehe.. Selang sehari kemudian, pengumuman PTS, anakku juga diterima. Dan 4 hari kemudian, pengumuman UNY, anakku juga diterima, Alhamdulillah, ya Allah..

Masyaallah nduk, kerja-kerasmu, kegigihan hatimu, terbayarkan sudah. Mamah ikut lega dan bangga tentu saja. Semoga ke depan akan lancar juga jalanmu, sukses, dan pantang menyerah. Mama selalu berdoa untukmu, dan selalu berharap Allah menyertai langkah2mu. Aamiin..


Yogyakarta, 9 Agustus 2017
Mamah yang masih berbahagia


Highlight:
- Setiap anak mempunyai cara sendiri2 dalam belajar. Ada yg bisa ngedur, terus menerus digembleng tiap hari dalam bimbel, ada yg bisa lebih menyerap jika les privat. Kenali anakmu!
- Ada anak type diesel, yang pelan belajar didepan ngegas di belakang, ada type bensin yg tidak bisa marathon belajar, menggebu belajar di depan, kelelahan atau jenuh di belakang. Kenali anakmu!
- Ortu sekarang harus tahu bahwa banyak jalur menuju PTN dan berbeda2 tiap universitas. Ada jalur SNMPTN, SBMPTN, dan jalur mandiri. Jalur mandiri pun ada yg dengan nilai SBMPTN, test Utul, dan jalur paralel. Ada juga jalur Internasional. Terkadang tiap tahun bisa berbeda2 aturannya. Dan untuk PTS, ada juga jalur rapor dan jalur UNAS (tanpa test), selain jalur test tertulis reguler.


4 kesuksesan tersebut

Selasa, 25 Juli 2017

KAMI BEREMPAT & RUJAK

Kami berempat berteman sudah sejak tahun 1994, jadi sudah 23 tahun lebih, pantaslah disebut sebagai saudara. Suka dan duka kami lalui, dan anehnya tanpa friksi, tanpa caci-maki, tanpa perselisihan. Kami sangat menjaga perasaan masing2. Bahu-membahu dalam kesulitan, saling ajak-mengajak dalam keriaan.

Dulu, kami berempat disatukan dalam proses recruitment yg sama. Keri (dalam foto satu2nya yg duduk, karena masih menjabat sd sekarang, dituakan, mendapat kehormatan untuk duduk, hihi), Amel, dan Oboy dari D3 politeknik ITB. Sedangkan saya dari S1 akuntansi UGM. Meskipun begitu, kami seumuran, sama2 lahiran 1971, karena waktu SD saya masuknya kecepetan 1 tahun. Mereka bertiga masuk duluan tgl 5 januari 1994, sedangkan saya menyusul tgl 19 januari 1994, karena pas panggilan masuk kerja masih liburan di Bali, di tempat kakak saya. 

Kami disatukan dalam ruang kecil, satu ruang dg bendahara, plus satu kakak senior, Mas Agus namanya. Jadi kami umpel2an berenam. Karena datang akhir, maka bisa dipastikan saya gak kebagian meja, hanya meja kecil bekas naro mesin ketik, dan tanpa komputer. Komputernya gantian hehe.. Saya gantian dengan Amel, Keri gantian dengan Oboy. 

Tugas kami berbeda2, saya bagian penagihan, Oboy bagian evaluasi laporan keuangan, Amel dan Keri bagian data entry. Entah kenapa meskipun cewek, saya kebagian nagih MC (Monthly Certificate). Mungkin karena tomboy dan penampilan blangsak kala itu. Lha atasan saya aja kalo manggil Pak Ratih kok, haha..

Kami berempat pada awalnya sebelum kost adalah Ratu Plaza Squad. Pasukan jalan kaki dari kantor Simprug sd depan Ratu Plaza, untuk ngetem di halte, nunggu bis. Jangan tanya asyiknya kami bercanda, berjalan bersama sepulang kerja. Dan tak lupa menikmati aroma pesing pengkolan belakang Bank Panin. Entah kenapa itu pengkolan pesing melulu, dari sejak kita datang sd gak jadi lagi pasukan jalan kaki.

Ada lagi kesamaan hobi yg menyatukan kami, yaitu kami sama2 hobi ngerujak. Aneh tapi nyata kan? Hehe.. Dan itu masih berlanjut sd sekarang. Kala itu, saat saya dan Amel sudah kost bareng satu tempat, Keri dan Oboy kadang2 main ke tempat kami. Jalan kaki lewat Patal Senayan, lewat jalan pintas, melewati depan rumah Jay Subiakto, yg kadang dicegat anjing atau orgil, wkwk.. Tapi juga ada pohon mangga di jalanannya. Adalah tugas Keri dan Oboy buat nylepet mangga, dan dimakan di kostan kita, saya dan Amel. Tapi ya namanya anak kost, boro2 bikin sambal rujak, yg ada ya dimakan aja sama garam. Kecut? Jangan ditanya lagi, tapi herannya 2 cowok itu juga nyam-nyem aja makannya, kayak cewek aja sukanya ngerujak mangga muda, haha..

Ada cerita lucu tentang rujak. Waktu itu Amel masih kost di dekat Moestopo, pinggir kali, yg kalau hujan kebanjiran, hehe.. Kami berempat habis pulang kantor ngerujak di tempat Amel, trus pulang ke rumah dan kostan masing2. Cerita ini baru diceritain Amel keesokan harinya, maklum, kala itu belum ada HP buat cerita, wkwk.. Ternyata, beberapa saat setelah kami pulang, Amel keluar kamar pengen ke toilet. Papasan lagi dengan Oboy. "Lha boy, bukannya kamu udah pulang daritadi?", kata Amel. "Iya, tapi nyampe Moestopo balik lagi, kebelet", jawab Oboy. Sangking kebeletnya, gak sempet ijin ama Amel, atau yg punya kostan, langsung nyelonong aja ke toilet. Bikin kaget pas papasan. Haha, hadeh, Oboy2, ada2 aja..

Kini kami semua sudah berkeluarga dan beranakpinak, tapi masih saja sering kangen ketemu. Amel dan Keri masih di kantor lama, sedangkan Oboy di kantor lain, tapi masih grup yg sama. Hanya saya satu2nya yg sudah ambil pensiun dini. Terpengaruh bukunya Vadjar neh, Rich Dad Poor Dad, yang padahal waktu itu Keri duluan yg pinjem, hihi.. Bertukar kabar, saling balas-membalas kiriman oleh2, adalah kesibukan kami sekarang ini. Menyempatkan bertemu berempat jika saya ke Jakarta adalah sebuah keharusan, harus menggerus rindu, hehe.. Mengenang kembali masa2 indah kami dulu sungguh sangat seru. Masa2 masih nakal, wkwk..

Really miss u guys. Hope this friendship last forever, aamiin..


Kamis, 13 Juli 2017

MAJU-MUNDUR

Aku selalu tersenyum jika ingat kakakku yang mobilnya 3 tapi semuanya manual, gak ada yg matic. Alasannya,”Lha mobil kok aneh persnelinge, nek maju mundur, nek mundur maju”. Dan selalu kujawab sembari sedikit tertawa geli, “Yo rapopo to mbak, kan ono tulisanne nang speedometer, gari didelok”.

Tapi sejak kejadian 3 minggu yang lalu, mungkin aku tidak lagi tersenyum tapi akan mengangguk takzim, jika kakakku bilang begitu. Begini kejadiannya..

Malam itu, bulan Ramadhan. Aku berniat menjemput anak di Hartono Mall yang habis bukber dengan teman-temannya. Waktu sudah menunjukkan pkl 20.30. Masih belum terlalu malam sih, jika saja bukan bulan Ramadhan. Tapi mata sebenernya udah sepet. Maklum, jaran gendengan, kebiasaan hbs buka, sholat tarawih di rumah, njuk ngantuk, hehe..

Kubuka google maps, dan dari arah jalan Veteran disarankan melalui jalan pintas, jalan Wahid Hasyim. Okelah kalo begitu, dengan maps di tangan, mantap berjalan. Singkat cerita, sampailah aku di ujung jalan Wahid Hasyim. Mungkin karena ngantuk, atau karena malah lagi asyik liat kanan ada motor atau enggak, pas keluar ringroad belok kiri, aku ambil terlalu ke kanan. Jadilah nabrak pembatas jalan jalur lambat.

Weh lahdalah, mana nyangkut lagi bawahnya. Terpaksa harus mundur lagi to? Refleks kumundurkan persnelingnya, dan kugas keras-keras. Lha kok tetep nyangkut? Grok,grok, grok, gitu.. Kucoba 3x tetap gak bisa. Sik, iki mesti ono sing salah, hmmm.. Diam dulu 3 detik, berpikir, tanpa gas rem dan ganti persneling. Dieemm aja..

Ambil nafas sedikit panjang, tenang-tenang, dalam hati.. Dan diam-diam kuamati speedometer yang menunjukkan posisi persnelingku. Lha rak tenan too.. Blaik! Jebul dudu posisi mundur tapi malah maju! Haha.. Pantes ket mau kon mundur kok malah maju. Geli-geli gimana, lha wong masih deg-degan.

Akhirnya, setelah tenang, kulihat speedometer dan penunjuk posisi persneling, sekarang sudah R, baru kugas pol. Nah, baru deh bisa lolos sangkutan ke pembatas jalan itu. Alhamdulillah.. Dan untungnya saat ugak-ugek yang konyol tadi, jalanan lagi sepi, jadi gak ada yg denger, gak ada yg nonton. Kalo enggak, kan tengsin kite, koyo wong ajaran wingi sore, haha..

Ternyata, kakakku, mbakyuku sing ayu kae ono benere juga. Dalam posisi panik (karo ngantuk mungkin) filosofi nek maju mundur nek mundur maju ki kadang tidak sesuai dengan pola pikir alam bawah sadar kita. Hehe..

Selamat sore kawan dan,
Salam maju mundur! :)



Senin, 08 Mei 2017

RUJAK vs LOTIS

Pagi menjelang siang yang cukup terik. Sehabis mengantar anak wedok ke sekolah, pas di parkiran tiba2 menjengongok tukang rujak klasik di belakang mobilku. Haiki, tuku ah.. Kebetulan kangen rujak klasik Djogja. Bagi temen2 yang belum tahu, rujak di Jogja itu seger ya, tanpa diulegin kacang. Dulu waktu pertama beli rujak di Jakarta kaget bin heran, lha kok rujak diulegin kacang, koyo lotek wae, hehe.. Inget gak bu Amel Thea and pak Agus Ariestanto, tukang rujak Patal Senayan dekat kostan? Yang ada lalernya tapi endesnya gak ketulungan? Yang kalo beli si Oboy pasti sakit perut? Haha..

Balik lagi ke rujak Jogja tadi. Lagi2 bagi temen2 yang belum tahu, di Jogja itu dibedakan antara RUJAK dan LOTIS. Kalo RUJAK itu bumbu dan buahnya dicampur, buahnya diserut. Kalo LOTIS itu bumbu dan buahnya dipisah, buahnya dipotong2. Dulu awal2 di Jakarta sempet bingung pas beli rujak, lha kok dapetnya lotis? Hehe.. Ternyata harus special request kalo mau rujak ala Jogja, minta abangnya untuk serut buahnya. Itu juga kalo abangnya punya alat serutnya. So, di Jakarta itu ada rujak potong dan rujak serut. Ribet ah..



Begini serutan rujak di jogja tuh.. Bukan lotis ya, hehe..


Nah, sekarang ttg rujak Jogja depan sekolah anakku tadi, celingak-celinguk aku cari penjualnya mana? Ternyata lagi ndepis deket mobilku, ndodok and lagi telp pake hape. Pas kupanggil, lamat2 kudengar dia berkata, “Udah dulu ya bu, ada pelanggan neh”.. Wehehe, gue jadi pelanggan rujak. 

Setelah pesan rujak 1, kepo, kutanya beliau, “Telp siapa je pak?”. Katanya telp rumah, karena anaknya yang kerja di Jakarta sdh 3 hari tidak bisa dihubungi. Anaknya laki, lulusan STM Mesin, tapi sekarang kerja di Kalbe Farma, baru 6 bulan kerja di Jakarta. Kepo lagi kutanya, “Tau ada kerjaan di Jakarta dari mana pak? Ada saudara atau kenalan disana?”. “Enggak bu. Dya cuman liat2 hape kayak ibu itu (padahal aku lagi ngandid bapake), terus lamarannya juga lewat hape, dipanggil test nya juga disini kok bu, di Klaten”. Oh ya, lupa cerita gue, si Bapak tukang rujak ini rumahnya di Klaten, di Jogja kost. Pulang seminggu sekali, karena istri dan 4 anaknya yang lain masih di Klaten. Kadang2 baru 3 hari sdh pulang lagi, kalo ada tetangga/saudara butuh tenaga dan mau ngongkosi. Sepertinya bpk tukang rujak yang anaknya 5 ini tenang2 saja, malah aku yg heran, le nguripi anak 5 piye? Hehe..

Kekepoanku berlanjut, “Namanya siapa pak?” tanyaku ke beliau. “Muhammad Shiddiq”, kata bapak tukang rujak itu. Woh, apik men jenenge, dalam hati. Tapi suwe2 curiga, kutanya lagi, “Itu nama bapak?”. “Oh, itu nama anak saya yg di Jakarta tadi, kalo nama saya Basuki, bu..”, jawab bapake sambil mesam-mesem. Oalah si bapak promoin anaknya, hihi..

Rujak belum selesai dibuat, kekepoan berlanjut. “Klaten-nya dimana pak?”, tanyaku. Jangan2 sodara nih, secara mbah buyutku juga dari Klaten ndeso. “Saya Jatinom, bu”, kata pak Basuki. Wah, cedak omahe mbahku tenan ik.. “Simbah saya Troso pak, deket ya?”, kataku. “Oh ya deket bu, itu Jatinom dari desa Troso tinggal lurus aja dikit, kalo dari arah Penggung”, kata pak Basuki. Lha iki, suwe2 nek dirunut sedulur tenan ki, haha.. Untung rujak udah jadi, bayar dan langsung aku ngacir pergi..



Masih diuleg manual satu persatu. Tak lupa pisang batunya. Konon mencegah perut mules..

RS - Sekedar Sharing

Setahu saya, diagnosa yg didasarkan pengamatan fisik dan pengalaman hrs ditunjang dgn data medis yg akurat. Jika tdk maka pemberian obat akan terkesan coba2.

Contoh, saat anakku kelas 5 sd dulu, masuk di rs swasta di jaksel, karena panas sdh 5 hari tdk turun2. Dokter anak yg memeriksa ketika visite sore hari (anakku msk rs siang), berdasarkan pengalaman lgs bisa tahu bahwa anakku bp (bronkus pnemonia). Beliau berkata pd suster, "Hmm, bp ini sus, coba lihat wajahnya yg bengap". Dan lgs meminta suster unt cek darah khusus bp. Dan dgn ramah beliau menjelaskan pd saya secara singkat tp jelas apa itu bp, dan test apa yg akan dilakukan unt memastikannya.

Pagi harinya ketika dokter visite lg, hasil lab sdh tersedia (kok cepet ya kalo di jakarta? hmm), dan ternyata benar anak sy positif bp. Langsung dokter menuliskan obat yg harus diberikan bersamaan dg penguapan. Beliau lagi2 menyampaikan dg singkat dan jelas, knp obat hrs diberikan dg uap dan tidak dg oral atau infus. 4 hari kmdn anak sy sembuh dan diperbolehkan pulang.
Jadi, sy tetap percaya dg data medis yg akurat. Kamu?



Selasa, 21 Februari 2017

UMBANG TIRTO



Berenang. Aktivitas olahraga ini selalu kutulis dalam kolom hobi, jika ada isian ini di biodata, dari sejak SD sampai dengan sekarang. Dari kecil, mungkin karena kebiasaan dalam keluarga, papah mamahku selalu mengajak kami, anak2nya untuk bertamasya berenang. Ya di Clereng, Ponggok, Baturaden, Tretes, Ancol, Kalibayem, dan masih banyak lagi. Ditambah lagi hampir semua kami 8 bersaudara bersekolah di SMP 1 Jogja, yang pelajaran olahraganya adalah berenang, setiap Rabu, waktu itu di kolam renang Colombo. Jadi, kami keluarga yg pintar berenang, hehe..

Jaman sekarang, pilihan berenang hanya di Umbang Tirto, karena Colombo sekarang sudah gak ada. Maksudku, pilihan kolam renang yg masih dikuras, dan diganti air satu kali seminggu. Kolam renang kok dikuras? Njuk sopo sing ngosek? Wkwk.. Dulu waktu di Jakarta pernah diketawain petugas kolam renang di kompleks dekat rumah karena menanyakan hal itu. Aneh kali ya? Bagi orang yg bukan orang Jogja dan kenal dengan kolam renang Colombo dan Umbang Tirto.

Masih setia dengan kesederhanaannya, Umbang Tirto tetap memadai tapi menurutku, dan bersih, untuk ukuran HTM Rp.10.000. Setiap Minggu siang, kolam renang ditutup hingga Senin, untuk proses kuras, pembersihan, dan pengisian. Selasa baru buka kembali. Menurut petugas disana, Selasa dan Rabu masih kaporit-free, karena air baru saja diganti. Coba, hari gini dimana bisa dapat berenang kaporit-free harga segitu? Hehe.. That's why I love this legendary swimmingpool.. Kamis baru dikasih kaporit dengan kadar minimal. Jumat adalah hari khusus wanita. Disini biasanya mbak2 dan ibu2 jilbaban berenang dengan leluasa, dan juga ibu2 stw, dan ibu2 sedengan (kayak gue hihi) yg risih kalo berenang campur bapak2, berenang dengan riang gumbira. Nah, cerita seru dimulai dari sini..

Jumat 1,
Ada kelompok ibu2 stw bermarkas di pojokan kolam renang sebelah kanan yg kedalaman 3m. Para ibu ini biasanya datang jam 7, pulang jam 9, tapi tetap aja hitungan berenangnya sama ama aku yg cuman 30-45menit nyemplung kolam, hehe.. Banyak ngobrol dan becandanya, tapi seru buat dikupingin. Hari itu, salah seorang 'anggota' ada yg bawa arem2 bikinan sendiri 1 tas kresek. Ibu2 bergumbira, dan pesta arem2 di pinggir kolam dan didalam kolam (weleh2).. Pembahasan tentang arem2 ini sungguh seru. Dari mulai ukuran, sd cara pegangnya. Hihi, ibu2 kasepuhan, apa yg ada di pikiran kalian? Ketawanya kok sampe membahana sekolam renang, haha.. Bahkan di pinggir kolam ada ibu2 yg menunjukkan pada teman2nya baik yg dipinggir maupun dalam kolam, bagaimana cara yg baik memegang arem2.. Halagh! Haha..

Jumat 2,
Kali ini aku beralih ke pojokan sektor kiri, msh di kedalaman 3m. Memberanikan diri, hari ini aku ikut nimbrung ngobrol, sithik. Kelompok ibu2 stw seperti biasa, tapi ini tidak terlalu banyak dan tidak terlalu heboh, kalem. Pembicaraan tentang obat kolesterol. Minum air rendaman jeruk nipis pagi hari sebelum minum dan makan apa2. Begitu bangun tidur, langsung seduh jeruk nipis yg sudah diiris2 beserta kulitnya, dalam gelas dengan air panas. Kemudian ditinggal sholat, baca Al-Quran. Hangat2 kuku langsung diminum. Nant bisa refill 2-3 kali dalam sehari. Ibu yg lain menanyakan, “Apa gak kecut bu, apa gak perih di lambung?” Ibu tadi menjawab, “Gak bu, tadinya saya juga takut, tapi karena kakak saya sudah mencoba dan gak papa, jadinya saya berani. Awal2 cuman 1 butir dulu bu, nanti kalo sudah biasa nambah. Saya sekarang sudah 3 butir tiap bikin. Alhamdulilah kolesterol dari 300 lebih (wow!) sekarang normal, dibawah 200. Klo gak suka kecutnya, boleh sambil nguntutin gula jawa. Gak boleh dicampur tapi ya buu, nanti khasiatnya hilang.” (Gue dalam hati: kok iso?). Ada satu ibu yg menimpali, “Kalo sy gak kuat paitnya bu, itu kan sama kulitnya kan? Sama suka kliyengan habis itu, karena saya punya darah rendah.” (Ternyata paitnya kulit jeruk nipis juga bisa menurunkan tekanan darah, baru tau). Saya ikutan menimpali, “Kasih madu bu, madu itu obat mujarab untuk tekanan darah rendah, soalnya saya dulu jg darah rendah.” Ibu narasumber kembali menimpali, “Boleh bu dg madu, tp tetep jgn dicampur ya..” (Hehe..)


Jumat 3,
Hari ini aku beralih beristirahat sejenak di kolam kedalaman 1m. Disini ada kelompok ibu2 stw juga yg sedang ngobrol. Setiap jumat juga kulihat, prediksi sih sama, berenang jam 7-9 dg intensitas ala kadarnya hehe.. Kali ini topiknya tentang klithih. Seru banget, berita2 koran diceritain semua plus bumbu2 segar sana sini dan komentar sana sini. Keprihatinan intinya. Tiba2 kok obrolan pindah ke masa lalu, tentang "gali" (preman dalam bahasa Jawa). Seorang ibu menunjuk teman lain yg ternyata kakaknya adalah seorang gali. Tapi gali sopan dan ganteng katanya. Walah, kok ada ya? Haha.. Katanya mereka sering main bersama. Temen yg lain nimpali,”Llha nek nggantheng kok gak mok pacari wae mbiyen bu?” Ucapan ini malah disamber ibu yg punya kakak gali tadi, “Lha sekarang suami dia itu kan malah gali-ne gali bu, haha..” Hwaduh, tak lanjut renang we, jebul kumpulan keluarga gali iki, hihi..

Jumat 4,
Kali ini tumben pojok kanan 3m ibu2 heboh gak keliatan. Mungkin karena gue-nya kesiangan hehe.. Tapi tetap saja ada 2 ibu sedang mengobrol. Kebetulan ibu yg berswimsuit pink-hitam dulu pernah ngobrol sedikit ama saya. Jadi senyum dikit dan ikut nimbrung. Ibu satunya ternyata lagi menanyakan, “Pakai apa wajahnya kok putih bersih cantik. Perawatan apa, katanya. Yang nanya ini kayak aku, ireng thuntheng, ra ayu, wkwk.. Setelah berbasa-basi, ah bisa aja bu, akhirnya terkuaklah rahasianya, “Saya pake masker beras bu, kalo nyuci beras itu, airnya saya simpan semalaman, yg air pertama. Bsk pagi saya pakai untuk cuci muka, setelah membersihkan muka dg susu pembersih dan face-toner. Trus endapannya dipake unt maskeran.” “Ooo, pantes ibu putih cantik begini. Kalo saya gak telaten bu, palingan beli masker bengkoang (sambil menyebutkan salah satu merk kosmetik tradisonal Indonesia), haha”, kata ibu thuntheng tadi. Waktunya sy menimpali, “Kalau ibu pink ini memang sudah cantik dan putih dari sononya bu..” Ibu yg kupuji pun tertawa renyah sambil menepuk bahu saya. Dalam hati, ini ibu thuntheng memang gak liat apa, leher, tangan si ibu pink ini memang sudah putih. Jadi memang sudah putih bersih dari sananya, hehe.. Tapi resepnya oke juga tuh, bisa dicoba, murmer dan gampang. Kali aja gue bisa agak putihan dikit juga, haha..


Selasa, 14 Februari 2017

TUMPENG AMONG-AMONG


Kata kakakku, mbak rita, paling tidak sekali dalam seumur hidup, seseorang itu harus dibancaki, jenenge gawe tumpeng among-among. Jadilah Di ultahku kemarin yang ke-46, mbak rita memberikan hadiah tumpeng ini. Makasih mbak rita.. Filosofi jawa pembuatan tumpeng ini adalah untuk keselamatan diri. Kalau kita sekarang ya ambil aja sisi baiknya, silaturahmi, makan bersama keluarga besar, begitcu... Berikut ini beberapa filosofi jawa tentang uborampe tumpeng ini, yang baik ya kita ambil manfaatnya. Hasil wawancaraku dengan mbak rita, hehe..

Cobek tanah liat,
Bagian paling bawah dari tumpeng ini adalah cobek dari tanah liat, maknanya adalah sebagai pengingat jika manusia itu berasal dari tanah.

Kalo,
Kalo ini adalah alat penyaring santan tradisional dari bambu, dengan saringan yang cukup rapat. Maknanya adalah untuk menyaring hal-hal yang kotor dalam hidup ini. Manusia hidup di dunia ini harus bisa memiih dan memilah mana yang baik diantara yang buruk

Daun pisang,
Daun pisang yang utuh diletakkan diatas kalo, maknanya melambangkan kebulatan tekad. Sedangkan sisa-sisa daun pisang, yg kecil-kecil, sisa sesetan, atau sisa merapikan pincuk, diletakkan/ditinggal dibawah kalo, diantara cobek tanah liat dan kalo. Artinya adalah setelah dilakukan filter (dengan kalo tadi), maka hal-hal yang buruk harus kita tinggalkan.

Gudangan 7 macam sayuran,
Sayuran yang dipilih jenisnya bebas, tapi harus ada 7 macam jenis sayur yang berbeda-beda. Kemarin mbak rita memilih 7 macam sayuran itu adalah: bayem, kangkung, mbayung (daun kacang panjang), kacang panjang, wortel, kecambah, dan kobis. Maknanya adalah bahwa dalam hidup ini kita akan menemui bermacam-macam peristiwa, baik sedih maupun senang. Hidup ini bermacam-macam warnanya, tapi ibarat gudangan yang saling berdampingan, maka seharusnya keanekaragaman hidup ini serasi berdampingan juga. Karena yang dibuatkan tumpeng sudah dewasa, maka sambel gudangannya agak pedas, yang maknanya adalah supaya kuat menghadapi masalah dalam hidup ini.

Telur 7 butir,
Jumlah telur yang 7 ini dalam bahasa jawa disebut pitu. Artinya pitulungan. Maknanya adalah, dalam menghadapi masalah hidup, kita selalu memohon pada Allah SWT agar diberikan pitulungan (pertolongan). Sedangkan makna dari telur yang tidak dikupas adalah pengingat bagi kita untuk selalu mengupas masalah dahulu, sabar, sebelum menemui putihnya telur, yang dimaksud sebagai menemui titik terang (putih) dalam menghadapi masalah.

Tumpeng putih,
Setelah masalah dikupas, maka dilakukan pengerucutan pembahasan masalah untuk mencari solusi, yang dilambangkan dengan kerucut tumpeng nasi putih. Makna dari nasi putih ini adalah supaya pemikiran kita tetap putih, bersih, sebelum menuju puncak tumpeng.

Bawang merah (brambang) dan lombok abang,
Disematkan bawang merah utuh yang bundar di ujung tumpeng, melambangkan agar kita dalam mencari solusi masalah melihat dari segala aspek, mempertimbangkan dari segala arah terlebih dahulu. Sudut pandang yang bulat dilambangkan oleh bulatnya bawang merah. Untuk kemudian menemukan solusi yang tepat, dilambangkan dengan lombok abang yang tunggal dan menjulang tinggi. Hal ini menandakan tercapainya satu tujuan yang tepat. Jika semua perlambang diatas dilaksanakan maknanya, maka diharapkan soluisi yang tepat itu akan menjadi penerangan bagi seluruh alam semesta (dilambangkan dengan lombok abang tadi).

Ingkung ayam kampung utuh,
Lauknya adalah ingkung ayam kampung utuh. Ini yang paling enak dari semua yang enak diatas hehe.. Maknanya manusia dalam menjalani hidup harus manekung. Arti kata manekung dalam bahas Indonesia kira-kira adalah tekun dan takwa.

Gereh pethek,
Ini tidak wajib ada sebenernya, tapi kalo ada maka akan melengkapi rasa, hihi.. Iki enak tenan, perpaduan yang pas dengan gudangan pedes, dan ingkung manis, trust me..

Duit tukon,
Berupa uang secukupnya dimasukkan dalam amplop putih kecil dan diletakkan dibawah daun pisang, antara kalo dan daun pisang. Maknanya adalah buat pengamong kita, jika memang makanan yang ada kurang, maka bisa beli sendiri. Rodo mistis jane ki, hehe.. Tapi ini juga kadang jadi inceran kita-kita. Semua tergantung rejekinya tapi. Kemarin karena kita semua lupa, maka yang nemu adalah prt kita. Yo rapopo mbak, wis rejekimu, hehe..



Semoga makna-makna tersebut berguna bagi kita generasi muda (ehem) untuk melestarikan budaya, memahami dan menerapkan filosofi yang baik itu. Aamiin.



Yogyakarta,
30 January 2017


Tumpeng among-among komplit

Penampakan duit tukonnya, hehe..

 

My Notes Template by Ipietoon Cute Blog Design