Rabu, 10 Mei 2023

KERETA API JAMAN NOW

Hari ini aku naik Kereta Api (KA) Ekonomi AC dari arah Jatim balik menuju kota Yogyakarta tercinta. Saat berhenti di sebuah stasiun kecil, ingatan melayang ke jaman rekiblik. Jaman penjual makanan, minuman, dan oleh-oleh masih banyak dan diperbolehkan naik sampai ke dalam gerbong kereta. Mereka akan berlari-larian berebut naik gerbong ketika kereta melaju pelan hampir berhenti. Sedangkan yang gak kuat lari maupun naik turun gerbong, mereka masih bisa menjajakan dagangannya lewat jendela. Nanti transaksi juga dilakukan lewat jendela yang kacanya masih bisa dibuka. Macam-macam dagangannya, dari mulai wedang jahe, nopia, nasi rames, salak, lanting, kolonyet, dan lain-lain. Jaman KA Ekonomi belum ada ACnya.

Kereta melaju lagi, gak berapa lama berhenti lagi di stasiun kecil lagi. Kali ini gerbongku berhenti di depan toilet umum stasiun. Dari gerbong terlihat toilet bersih. Sekarang orang sudah jarang turun kemudian mampir di toilet stasiun. Bukan hanya karena waktu berhenti di stasiun sekarang gak lama (agar supaya jadwal kereta enggak ngaret), tapi juga sudah disediakan toilet yang bersih diatas kereta.

Ingat jaman dulu, pernah saking kotor dan bau toilet, aku nahan buang air kecil sampai di stasiun. Dulu juga penuh KA Ekonomi itu, sampai ada yang berdiri maupun duduk di gang dalam gerbong. Jadi biasanya banyak penumpang yang turun baik untuk ke toilet, maupun meregangkan otot, maupun merokok. Balik lagi ke cerita tadi, lha begitu aku selesai menuntaskan hajat, pas mau balik ke kereta lagi, sepupuku yang saat itu bareng naik kereta dan lagi turun juga karena merokok, menahanku. "Nanti aja naiknya, masih lama kok, sini temani dulu disini", katanya. Yawdah nurut, ee jebul gak berapa lama kereta berangkat. Ya Allah, lari-lari kita ngejar kereta trus lompat masuk ke dalam gerbong. Sepupuku hanya tertawa-tawa. Jian, trembelane tenan og, haha..

Sekarang, semua KA Ekonomi sudah AC, pedagang gak ada, meski penuh semua penumpang duduk, toilet juga bersih, wangi, air dan tissue selalu tersedia. Bahkan tadi juga petugas kebersihan rajin keliling, baik ambil sampah, maupun bersihkan toilet. Tadi sempat lihat, mas cleaning service bersihkan toilet trus difoto. Mungkin laporan ke supervisornya. Jaman now, sudah canggih, laporan via wa saja, hehe..

Aku lumayan sering naik kereta tu, suka, dibanding moda transportasi lainnya kalo perjalanan hanya di pulau Jawa saja. Dari sejak jaman SMP, yang diajak sepupu itu, sampai dengan sekarang. Jadi lumayan ngertilah secara riil perubahan layanan KAI tu. Hebat lo, dulu gak nyangka, gimana bisa memperbaikinya. Mental perubahan dari para karyawan, dan gesekan yang dihadapi pasti dengan para pedagang kaki lima. Bekerja dalam senyap sepertinya.

Kisah heroik orang nomor 1 di KAI waktu itu pasti sudah banyak yang tau. Sedangkan gesekan seingatku yang pernah kubaca itu malah justru saat penertiban pedagang di stasiun dekat Depok, Jabodetabek. Memang kebijakan yang tidak populer, tapi hasilnya sungguh hebat, dan bertahan jangka panjang. Tidak sia-sia pengawasan melekat waktu itu demi perbaikan sistem. Semua by system, bukan by person. Jadi sekarang meski sudah berganti pimpinan, sistem yang bagus, based on customer satisfaction, akan terus berjalan dan terus ditingkatkan. Seorang pemimpin yang true leader memang beda, dia akan berusaha melatih leader-leader baru, bukan malah merasa terancam.

Salut untuk PT Kereta Api Indonesia. Maju terus!

Salam,
Madiun, 7 Mei 2023


Suamiku bisa tidur. Di kaca gerbong ditulis himbauan untuk selalu menutup pintu kembali karena ruangan ber-AC. Padahal KA Ekonomi lo ini, hehe..


Jumat, 23 Desember 2022

Mengucapkan Selamat Natal, Bolehkah?

Tergelitik postingan seorang teman tentang larangan mengucapkan selamat natal. Bahkan ada yang mengharamkan. Ra patiyo seneng jane topik iki, digoreng terus tiap tahun. Tapi piye yo, kok jadi seolah-olah aku yang masih mengucapkan seakan-akan menjadi goyah akidahnya. Piye?

Waktu aku masih SMA masuk gereja ikutan natalan kakakku pernah. Namanya masih muda, curious, gereja kotabaru. Apik, megah. Dengan upacara katholik roma yg masih kental dengan dupa dan beberapa ucapan bahasa latin yang aku gak ngerti. Pulang dari situ yo biasa wae.

Setelah aku mahasiswa, juga masih sering antar Ibuku ke gereja kotabaru, ngedrop aja tapi. Dan kadang antar ke gereja ganjuran juga, ketemu dengan Romo Tomo, silaturahmi, Beliau memelukku dan di kemudian hari ketika aku sudah di Jakarta, Beliau selalu ingat namaku. Papaku adalah adik angkat Beliau. Apakah tergetar akidahku? Samasekali tidak.

Aku malah setiap diajak ke sana selalu mengenakan turban, sebagai simbol Islam. Sebagai tanda bahwa kami orang Islam gak masalah antar Ibu-Bapak ke gereja, sebagai bentuk bakti kepada kedua orang tua (ortu). Kami orang Islam gak akan tergoyahkan keimanan meski memasuki kompleks gereja, bahkan dipeluk Romo yang notabene adalah Pakde saya.

Balik lagi ke ucapan selamat natal. Tentu saja saat masih tinggal dengan ortu tak pernah mengucapkan, hawong sak omah ngopo. Ikutan kakakku menghias pohon natal aja palingan. Tapi saat aku sudah di Jakarta, sedapat mungkin saat natal (disamping lebaran tentu saja) pulang ke Jogja. Menemani ortu supaya tidak merasa sepi, karna biasanya hanya ditemani kakakku, Mbak Rita saja. Jika karna satu dan lain hal gak bisa pulang, ya ringan saja telpon Beliau dan mengucapkan, "Sugeng natal njih mah", dan kemudian berlama-lama ngobrol tentang apa saja.

Seingatku keributan tentang boleh tidak mengucapkan selamat natal sudah lama, jauh sebelum kedua ortuku berpulang. Ya aku biasa-biasa saja, karna bagaimanapun ini ortuku, kuhormati dengan memenuhi keinginan mereka. Dan ortuku ini sejak aku kecil juga tidak pernah memaksa aku untuk ikut agama mereka. Karna aku memilih sendiri, Insyaallah tidak goyah, mengucapkan selamat natal hanya sebagai muamalah saja, serta menghormati orang yang lebih tua. Bahkan kepada tante suami yang kebetulan kristiani, akupun mengucapkan selamat natal.

Setelah ortu meninggal, masih ada 2 kakakku dan keluarganya yang kristiani. Tulisan tentang pro-kontra ucapan ini semakin deras di lini online. Sebagian ulama pro, sebagian lagi kontra. Ulama lo ini, masih terjadi pro dan kontra, apalagi aku yang ilmu agama masih cetek, apalah aku. Bahkan para tokoh masyarakat dalam pemerintahan maupun agama sampai dengan sekarang ini masih mengucapkan selamat natal. Gak ngerti juga apa gunanya berdebat.

Aku, kini demi menghormati pengetahuanku, akhirnya mengganti kata secara semantik saja. Yang tadinya selamat natal, menjadi selamat merayakan natal.

So, saudaraku dan teman kristianiku yang merayakan natal, selamat berbahagia bersama keluarga dan handai taulan ya, semoga kebahagiaan, kedamaian dan keberkahan selalu melingkupi kita, aamiin..

Yogyakarta,
24 Desember 2022


Ref:
https://www.google.com/amp/s/m.antaranews.com/amp/berita/1913776/baik-dan-buruk-ucapan-selamat-natal-bagi-muslim



Untuk saudara-saudaraku


Untuk sahabat-sahabatku


Kamis, 22 Desember 2022

HARI IBU

Meski secara sejarah lebih kepada Hari Perempuan, menurutku sah-sah saja menjadikan Hari Ibu sebagai Mother's Day. Karna tanpa peran serta seorang Ibu, apakah itu seorang wanita karier ataukah seorang ibu rumah tangga, sama saja, kita tidak akan menjadi seperti kita sekarang ini. Karna seperti yang tertulis pada Web IAIN, ada seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan sebagai berikut: “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”.

Artinya: Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Ibuku adalah seorang wanita yang lembut sekaligus tangguh. Aku adalah anak ke-8 atau anak bungsu. Lahir dari 11 bersaudara sebetulnya, tapi 3 orang telah meninggalkan kami sejak masih bayi/anak-anak. Bayangkan betapa berat rasanya melahirkan 11 orang putra-putri, dibandingkan kita yang hanya sanggup melahirkan 1-3 orang putra-putri saja.

Dan apakah hanya itu saja tugas Ibuku? Tidak. Beliau tidak berpangku tangan begitu saja, akan tetapi membantu Bapakku mencari nafkah sebisanya. Pagi berjualan gethuk lindri di depan rumah kami di gang, di kampung Jl Bausasran, Jogja. Menjelang siang bersepeda ke kawasan Tugu untuk menjadi buruh jahit seorang pengusaha Tionghoa.

Saat aku lahir, Ibuku sudah tidak bekerja sebagai buruh jahit lagi, akan tetapi masih menjahit di rumah. Aku yang masih bayi diletakkan di box samping Ibuku menjahit dan tidak rewel kata Ibuku. Terkadang minum susu dari botol pun tidak perlu dipegangi, hanya diganjal bantal saja.

Saat aku berumur 3th, kami pindah ke rumah dinas Bapak di Jl Veteran. Kehidupan lumayan berkembang. Ibu sudah tidak menjahit lagi, namun beralih ke usaha catering. Saat itu aku masih TK-SD, setiap ibuku arisan, aku selalu ikut dan masih kadang takut-takut, selalu memegang ujung rok ibuku, sehingga teman-teman Ibu memanggilku Ratih Damatutut. Soalnya kalo jalan beriringan kayak kereta api, tututut, haha..

Menginjak SMP setiap pulang sekolah, Ibuku akan setia menanti, menungguku makan siang, dan kami berdua akan asyik melihat video film kungfu seri. Hobby kami sama. Dan itu kami lakukan bertahun-tahun, setiap hari setia hanya 1 episode saja. Kebiasaan ini berakhir ketika SMA, Ibu punya ide untuk pasang parabola di rumah. Jadinya kami beralih tiap sore liat drama sitkom di stasiun TV Malaysia, hehe..

Saat SMA-kuliah, ibuku masih dengan setia menunggu aku pulang sekolah/kuliah, untuk sekedar menemani makan siang dan mendengarkan ceritaku yang seperti toge tumpah, akeh banget, kemruyuk, wkwk.. Saat belajar malam pun, Ibuku juga tetap setia menemani, meski beliau tidur di tempat tidur samping meja belajarku. Heran ya, kok gak terganggu dengan lampu belajar dan radioku yang selalu menyala.

Apakah berhenti sampai disitu perhatian Ibuku? Tentu tidak. Saat aku melahirkan, Ibuku selalu ikut menunggui dan Beliau pasti akan cemas berjam-jam. Bahkan saat setelah melahirkan, menyiapkan jamu untukku yang diracik sendiri, dan membalurkan ampasnya ke seluruh tubuhku. Waktu itu aku bilang, "Aku gak capek kok Mah, aku baik-baik saja". Tapi kata Beliau, "Ya dari luar kamu baik-baik saja, tapi di dalam itu ibarat mobil sedang turun mesin". Weh, dipadakke mobil, hehe.. Yasudah, aku menurut saja.

Setelah mempunyai cucu, Ibuku akan ikut repot jika aku tidak punya pembantu. Beliau akan rela pergi ke Wonosari atau Magelang untuk mencarikan pembantu baru untukku. Thn 2000 setelah perayaan emas pernikahannya, Ibuku mulai sakit-sakitan, keluar masuk RS. Sedapat mungkin masalah rumah tangga maupun ketidakadaan ART ini tidak sampai ke telinga Ibu. Takut Beliau cemas. Meskipun begitu, sedikit masalah rumah tangga yang kulit-kulitnya saja tetap kuceritakan, meminta nasehatnya, karna ibuku selalu menjadi penenangku.

Thn 2008 bapak berpulang. Kondisi Ibuku semakin menurun. Sedapat mungkin jika Beliau sakit, selalu kusempatkan pulang ke Jogja. Karena kata kakakku, meski Ibuku bilang gpp gak usah pulang, tapi dalam hatinya merindukan anaknya. Entah mengapa hatiku tergerak. Berapa lama lagi waktuku untuk berbakti pada Beliau? Sedapat mungkin pula, apapun yang diminta Ibuku, akan langsung kukerjakan atau kuberikan saat itu juga. Teringat saat dulu, saat aku masih muda, masih selalu menjawab perintah Beliau. Aku ingin menebusnya, selama masih ada waktu.

Thn 2010, Ibuku koma selama 2 minggu. Selama itu pula, tidak seharipun aku meninggalkan RS, sejak datang dari bandara. Kecuali saat malam takbiran, suami menghendakiku tidur di rumah mertua & sholat Ied, ujung dulu, lalu kembali ke RS lagi. Alhamdulillah bisa menunggu beliau dari subuh ke subuh lagi, hingga sehari sebelum berpulang, Beliau menggengam tanganku, dalam komanya. Akupun berbisik, "Pergilah Ibuku, aku sudah ikhlas, agar Engkau tidak kesakitan lagi. Ada suami dan anak-anakku menemaniku". Akhirnya jam 2 pagi, Beliau berpulangnya, persis seperti kata Beliau sebelum koma, bahwa nanti jam 2 akan dijemput Bapak. Istirahatlah Ibu, istirahatlah dalam damai.

Airmataku menetes mengingat Beliau. Dengan segala perjuangan, kesakitan, kasih sayang, canda tawa, Ibuku telah membesarkanku, membesarkan kami, anak-anaknya. Mengajarkanku, kami, kelembutan, ketangguhan, kekuatan, kesabaran, cara menikmati hidup, cara bersosialisasi, ketekunan, kebijaksanaan dan ketenangan dalam menghadapi segala masalah hidup. Terimakasih Ibu. Bahkan dengan terimakasih seluas lautan pun takkan pernah mampu kami membayar segala perjuangan dan pelajaranmu. 

Al-fatekhah..



Yogyakarta,
23 Desember 2022




Ref:

https://iain-surakarta.ac.id/pentingnya-peran-ibu-sebagai-madrasah-al-ula-dalam-pendidikan-anak/


Saat ku kecil masih di jl bausasran, saat peringatan meninggalnya ayahku, dan foto terakhir ibu sesaat sebelum masuk rs


Foto saat ultah yang kelima dan foto saat aku wisuda


Foto bersama ibu saat di bima, ntb, saat aku libur kuliah


Sabtu, 08 Oktober 2022

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Diperingati Setiap Tanggal 10 Oktober

Mendengar kasus bunuh diri seorang mahasiswa PTN di Jogja kemarin, hati ini miris, sedih. Ditemukan surat keterangan psikolog di dalam tas anak tersebut. Semakin sedih kalau ada yang berkomentar kurang iman. Betul, hubungan antara kekuatan iman dan bunuh diri sangat erat, tapi rasanya kurang tepat jika hal tersebut dialamatkan pada anak yang mempunyai gangguan kesehatan jiwa.


Seperti diketahui baik dari data empiris maupun data statistik, bahwa penderita gangguan kesehatan jiwa tersebut rawan tindakan bunuh diri. Sebagai gampangnya pengertian untuk kita sebagai orang awam, anak dengan gangguan skizofrenia, borderline, bipolar, depresi itu mempunyai sudut pandang berbeda terhadap masalah, yang ujung-ujungnya pasti suicide (bunuh diri). Beda yang tiga pertama dan terakhir, kalau yang tiga pertama adalah kronis, sering dibutuhkan bantuan obat-obatan, dan kadang seumur hidup, karena juga berkaitan dengan ketidakseimbangan struktur elemen otak. Sedangkan depresi adalah akut, kadang dibutuhkan obat-obatan, akan tetapi kadang hanya dibutuhkan pendampingan dari anggota keluarga dan terapis atau tenaga profesional (psikolog).


Kasus bunuh diri pada anak dengan gangguan kesehatan jiwa tersebut lebih tinggi di luar negeri dari pada di dalam negeri. Kenapa? Karena diluar negeri, meskipun teknologi pengobatan lebih maju, tapi kekuatan kasih sayang keluarga sudah sangat jauh berkurang, dan kekuatan religi sudah hampir tidak ada. Jadi disini dapat disimpulkan, kalau memang faktor keimanan tersebut penting, tapi jangan dibalik logikanya dan digunakan sebagai judgement terhadap setiap kasus bunuh diri. Karena akan sedikit berbeda pada anak-anak khusus tsb.


Itulah sebabnya, kenapa pada setiap artikel tentang suicide pada situs berita yang bertanggungjawab selalu diakhiri dengan kata-kata: jika memerlukan bantuan harap menghubungi bla bla atau nomor sekian sekian. Karena fenomena ini seperti fenomena gunung es. Terlihat sedikit di permukaan, padahal sebenarnya banyak yang belum muncul di bawah permukaannya. Dan jangan salah, sebenarnya fenomena ini tidak hanya terjadi baru-baru ini saja, tapi sejak dulu, bahkan disekitarpun saya banyak menemuinya. Seorang kakak teman, yang ayahnya dokter, menderita skizo. Sepupu jauh suami juga menderita skizo. Seorang teman SMP saya dan ibunya, berdua mereka menderita skizo. Dan itu terjadi sekitar 30-35th yang lalu. Saat mereka usia dewasa muda. Karena waktu itu belum lazim gangguan kesehatan jiwa tersebut, penanganan terlambat, jadi mereka sekarang tidak bisa berkegiatan secara normal (kecuali yang ayahnya dokter tsb).


Mengapa saat ini lebih banyak terjadi? Gangguan kesehatan jiwa ini biasanya muncul saat usia dewasa muda. Banyak hal terjadi, baik secara normal hormonal, internal, maupun eksternal. Faktor eksternal ini lebih kuat lagi dari pada saat jaman kita, para orangtua, dahulu. Terbukanya komunikasi & informasi yang luas, tak terbendung dan global, pesatnya kemajuan tekhnologi, dll. Para orangtua, para tenaga pengajar, pendidik, harus peka terhadap apa yang terjadi pada anak. Tidak bisa lagi mengabaikan hal-hal kecil, dengan berkata, Ah kan hanya seperti itu. Karena memang tekanan, stressor jaman sekarang berbeda. Khusus untuk para pendidik, anak-anak seperti ini memang tidak terlihat. Tapi mereka biasanya terbuka pada temannya. Mungkin bisa dibicarakan tidak secara langsung ke ybs, tapi ke teman-temannya dahulu. Dan setahu saya, sekarang di tiap kampus sudah mempunya lembaga konseling, meski saya lihat belum maksimal penggunaanya.


Monggo, menjelang besok hari kesehatan jiwa, mari kita mulai aware terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, di sekitar anak-anak kita, di dunia yang mulai berubah.  Berdoa, memohon pertolongan pada Allah tentu dan selalu, tapi ikhtiar juga harus. Salam sehat!





Jumat, 26 Agustus 2022

Chemistry Reuni

Bulan September bagiku adalah bulan reuni, bulan lustrum. Ada lustrum SMP, SMA, dan sebagian teman ada yang mulai membahas bulan Desember untuk reuni kuliah (UGM). Ini mengingatkanku akan peristiwa beberapa tahun yang lalu.


Saat itu, aku menghubungi teman SMA yang juga teman kuliah, untuk ikut reuni kuliah, secara khusus. Karna teman ini sangat akrab denganku baik saat SMA maupun kuliah. Tapi sekali lagi dia menolak ikut dengan halus. Penasaran, kukejar saja alasan dia, kenapa kok berkali-kali reuni gak pernah ikut. Jawabnya, "Karna dengan temen-temen kuliah tidak ada chemistry". Jawaban itu sudah cukup buatku untuk tidak bertanya lagi. Karna aku menjadi termangu akan jawabannya. Kok bisa gitu ya? Padahal setiap reuni SMA temen ini dateng lo?


Bertahun-tahun kemudian, alasan temen tersebut akhirnya kuungkapkan. Dan ada jawaban teman kuliahku, yang kebetulan juga temen SMA, yang malah berbanding terbalik. Secara implisit dia justru menyatakan yang tidak ada chemistry justru reuni SMA. Biasa-biasa saja, hambar. Lebih seru reuni kuliah. Kok iso lo? Padahal 2 orang itu, SMA-nya sama sekolahnya, kuliahnya juga sama kampusnya, 😜..


So, kesimpulanku adalah, chemistry itu adanya di dalam hati. Bukan masalah teman, bukan masalah tempatmu sekolah ataupun kuliah. Sudah berapa tahun kita sekolah/kuliah? 30 tahun lebih, bukan waktu yang sebentar. Kenangan lama, kenangan pahit, kenangan manis, kita semua punya. Tapi apakah waktu selama itu akan kita gunakan untuk menyimpan kenangan pahit saja? Melupakan kenangan manis? As Shakespeare said, "If u love me, I'll always be in your heart, if u hate me, I'll always be in your mind".., hehe..


Reuni SD, SMP, SMA, kuliah, bagiku sama pentingnya, sama asyiknya. Ketemu teman lama, bercanda, tertawa, serasa jaman dulu, tanpa memandang apakah dia pejabat, direktur, guru, dosen, ibu rumah tangga, pengangguran, pensiunan, tukang parkir, pengusaha warung indomie, tukang service, seniman, wartawan, manajer, kutu kupret, bawang kothong, dll. Pokokmen koncoku, wkwk.. 


Apa aku tidak ada kenangan pahit? Ya ada.. Jaman dibully karena cungkring, jaman cinta bertepuk sebelah tangan, jaman ditikung temen sendiri, jaman diputusin saat jeda kuliah. Pahit, tapi itu hanya bagian dari sejarah. Tak perlulah disimpan dalam pikiran, apalagi dalam hati. Kenangan manis lebih banyak, temen-temen yang baik. Temen-temen SD yang tetap setia runtang-runtung (kemana-mana bersama-sama) nemenin aku main sehabis sekolah di warung bu Suwal sambil nunggu dijemput Bapak, temen-temen SMP yang tetap setia runtang-runtung  sambil nunggu bis kota, temen-temen SMA yang runtang-runtung motoran ke Geronimo, temen-temen kuliah yang runtang-runtung nemenin aku malam-malam lesehan ke beberapa tempat makan di sudut-sudut kota Jogja tanpa bertanya ada masalah percintaan apa. Itu sangat manis, sampai pahit yang dulu pernah ada, hilang 😁..


Jadi, kita besok ketemu di tempat reuni kan? Hehe..


Reuni kuliah

Reuni SMA

Reuni SMP

Reuni SD

Sabtu, 13 Agustus 2022

Kenapa Pilih SMA 3?

Suatu hari di Jogja tahun 1986, setelah lulus SMP. Gak nyombong lo, NEM-ku lumayan, 9 komalah pokoknya. Juara kelas, bukan juara sekolah tapi, masih kalah sama Ayes. Ya iyalah, jelaass, wkwk..


Sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara, mungkin saat masih kecil, gizinya tercukupi, ortu sudah mapan, gak kayak kakak-kakakku yang lain, dadi rodo mletik. Makanya ortu berharap banyak, anak lumayan pinter nih, bisa dong masuk SMA 1, SMA Teladan. Jare.. 🤭. 


Tapi, ortu ngajak aku lihat-lihat sekolah yang lain juga dulu sebelum mendaftar. Pertama kali ditawari ke SMA 8, dengan alasan dekat rumah. Gak usah dilihat, aku udah hafal, lha kakakku kan sekolah sana. Dengan tegas kutolak, "Emoh, sekolah kok cedak banget". (Gak mau, sekolah kok dekat sekali). Dah gitu aja alasannya, hehe..


Ortu ngalah, kemudian mengunjungi sekolah kedua, SMA 1. Cuman liat dari mobil aja, aku gak mau turun. Liat bangunan sekolahnya. "Gak turun?", tanya ibuku. "Gak usah, lanjut aja sekolah ketiga", jawabku mantap.


Akhirnya sampailah kita ke sekolah ketiga yang diusulkan ortuku, SMA 3. Entah kenapa, baru masuk aja udah merasa jatuh cinta. Sekolahnya terkesan ramah, hidup, dan seakan menyambut kedatanganku. Masuk kedalam lebih asyik lagi, karna ternyata ada halaman luas ditengah, pohon besar yang bawahnya ada tempat-tempat duduknya. Kamipun duduk disitu sebentar, menikmati semilir angin, dan kemudian pulang.


Setelah sampai rumah, ibuku akhirnya nanya, "Gimana, suka yang mana sekolahnya?. Dan kujawab, "Suka SMA 3 mah, besok daftar sana aja ya?". "Kenapa lebih suka SMA 3? Gak SMA 1 aja?", Ibuku masih berusaha membujukku. "Gak ah, SMA 1 gedungnya kaku, serem, sajak (seolah) tidak bersahabat. Kalo SMA 3 enak, akeh wite (banyak pohonnya), ada tempat duduknya lagi bawahnya, enak buat ngobrol2", jawabku mantap.


Ibuku ngakak denger jawabanku, "Hla kok sekolahan penak nggo ngobrol, sekolah ki sinau yo nduk, haha..". Aku cuma meringis aja dengernya. Tapi beneran loh, kok ya gak kepikiran bangku dibawah pohon itu buat duduk-duduk sambil belajar. Kan enak duduk-duduk sambil ngobrol. Untung ibuku adalah seorang yang berpikiran terbuka dan tidak memaksakan kehendak. Besoknya, aku diperbolehkan mendaftar di SMA 3, dan bukan di SMA yang diinginkan ortuku.


Dan alasan itu rupanya sungguh membekas di hati Ibuku. Tiap ketemu sodara, tiap ketemu temennya, diceritain alasan kenapa aku pengen masuk SMA 3. Hanya karena wite ngisore ono bangkune, enak nggo ngobrol-ngobrol, 😜..


Bertahun-tahun kemudian, terbukti loh, memang itu bangku paling enak kalo buat ngobrol siang-siang. Istirahat kedua kalo gak salah, pas bokek, kaum kantong pas2an, uang saku cuman cukup buat umbar (istirahat) pertama. Sampe bel selesai istirahat juga gak denger kadang, guru lewat kita digusah (diusir) baru masuk kelas, haha..


Jogja hujan,

13 Agustus 2022


Reuni 2009, kembali ke bangku itu, hehe..

Temen sekelas F2, alm dabyut, aku, icong, gewor

Senin, 18 Juli 2022

Bisnis Sewa Mobil, Amankah?

Pagi-pagi liat infotainment, ada artis rapatiyo ayu tapi kemayu, rapatiyo pinter (nek iki wis ketebak), ketipu bisnis sewa mobil sampai 9.8 Milyar. Kok bisa? Kesirep po? Penasaran, kutonton wawancara beliaunya ini dengan tuntas tas. Pengen tau kronologisnya.


Jebulnya eh jebulnya. Yang pertama, seperti biasa, tergiur hasil. Memanfaatkan mobil nganggur. Tapi anehnya, BPKB diminta ya dikasihkan. Alasannya karna mobil dipakai aparat, harus jelas kepemilikannya, dan akan diganti plat nomornya sementara. Posisi sang artis di Bali, sedangkan bisnis di Jakarta, jadi ya diserahkan aja gitu. Ini blass ra pinter. BPKB kok diserahkan, yang gak diserahkan aja bisa hilang loh mobil disewa gitu.


Trus ke (maaf) begoan berlanjut. Disuruh beli mobil gadaian. Ini jelas mau karna kepincut hasil lagi. Uang ditransfer. Apa yang terjadi? Mobil diminta kembali karna memang tidak ada transaksi jual beli. Dan sang tokoh utama setelah diparanin ternyata sudah melarikan diri ke LN.


Bisnis persewaan mobil ini memang hasil menggiurkan. Tingkat ROI (Return On Investment) nya tinggi, dibanding passive income yang lain, misal property. Tapi resikonya juga tinggi.


Dulu awal-awal terjun ke dunia persewaan mobil, masih takut-takut. Ya, karna aku bukan risk taker, setahun pertama pakai mobil kakak yang nganggur, jadi aku hanya dapat komisi. Melihat dulu return nya lancar, mobil aman, gak hilang. Perantara sewa adalah teman sendiri di kantor, senior, bisa dipercaya. Setelah setahun, baru deh berani invest 1 mobil, kemudian 2, dan seterusnya. Dengan sistem bagi hasil. Jadi mobil selalu terawat, meski dapatnya tidak 100%.


Kemudian, teman tsb juga berprinsip kehati-hatian. Kami tidak menyewakan personal, tapi ke perusahaan. Dibayar bulanan. Memang hasil tidak sebanyak harian, tapi kontinyu dan aman. Kemudian kami sewakan juga ke perusahaan asing, sehingga pembayaran lancar. Dan sedapat mungkin sekaligus driver. Mobil terawat, keberadaan mobil aman. Mengapa mobil terawat penting? Karna mobil sewa itu 5-6 th harus peremajaan, sehingga harga jual bisa masih tinggi.


Nah, ada satu saat suami tergiur return lebih besar oleh teman kantornya. Hampir 2x lipat dari yang biasa kita dapat. Teman tsb melalui perantara temannya, sudah dicoba sebulan lancar. Suami ikut invest disitu 2 mobil, plus 1 mobil titipan teman. Syaratnya mobil harus baru. Sampai dengan 3 bulan, sewa lancar pembayarannya. Akan tetapi masuk bulan ke-4 mulai seret, terus sampai bulan ke-5 tidak ada pembayaran. 


Ketika ditelpon sudah gak bisa orangnya, diparanin ke rumah. Ternyata di rumahnya juga sudah banyak orang, menagih pembayaran. Yang ada hanya istrinya dan anak bayinya. Dan mereka juga bingung, karna bapaknya pergi sudah berhari-hari gak kembali. Sedangkan rumah ternyata hanya ngontrak. Yasudah, lemas lah suami. 3 mobil hilang.


Akhirnya, suami dibantu teman kantorku dan polisi kenalannya memburu mobilnya saja, berharap bisa ditemukan. 3 hari mereka berburu, pergi setelah kerja, pulang dini hari, akhirnya ada titik terang, mobil ditemukan di daerah cikarang dan cikampek. Ketiga-tiganya. Kondisi mobil baik, dan sudah dibeli orang lain. Ternyata perantara tsb selalu minta mobil baru karna jika dijual ke pihak ketiga bisa berdalih, karna mobil baru, BPKB belum keluar. Pembayaran memang belum penuh, karna belum ada BPKB nya. Tapi sudah lumayan to? Jika dibayar setengahnya saja. Coba kalau dia jual 40 mobil @100 juta, sudah 4 Milyar. Nilai yang fantastis, saat itu sekitar tahun 2002-2004. (Saat itu kasus ini rame, dan menurut media, korban mencapai 40 mobil).


Alhamdulillah, akhirnya mobil yang hilang tsb bisa kembali tiga-tiganya, dengan menebus sejumlah uang. Tidak banyak tapi. Karna pembeli juga bisa dikenakan pasal sebagai penadah. Itulah untungnya waktu itu mencari mobil bersama dengan teman polisi.


Jadi, menurutku, seperti juga kasus penipuan artis di awal tulisan ini, lagi-lagi tergiur hasil akan berujung kekecewaan. Harus tetap tenang, dicek dulu, ditelaah dulu. Syarat yang gak masuk akal biasanya berujung tipu-tipu. Termasuk hasil yang gak masuk akal.


Begitu dulu ya sharing kali ini, lain kali lanjut lagi, hehe..


Salam sukses selalu..


 

My Notes Template by Ipietoon Cute Blog Design